- Rusia semakin agresif merekrut warga asing untuk berperang di Ukraina dengan iming-iming gaji
- Iming-iming penghasilan besar menyimpan risiko maut. Warga asing justru berpotensi dikirim ke garis depan paling berbahaya
- Perekrutan Rusia semakin meluas secara global. Menurut data Ukraina, hampir 46.000 warga asing dari 151 negara telah dikontrak untuk berperang
Rusia Rekrut Hampir 46 Ribu Warga Asing dari 151 Negara
Skala perekrutan tentara asing oleh Rusia juga terungkap dalam laporan Koordinasi Markas Penanganan Tawanan Perang Ukraina.
Sekretaris lembaga tersebut, Dmytro Usov, menyatakan Kementerian Pertahanan Rusia telah menandatangani kontrak dengan hampir 46.000 warga asing dari 151 negara untuk terlibat dalam perang melawan Ukraina.
Angka tersebut meningkat dibandingkan data setahun sebelumnya.
Pada periode itu, Ukraina mencatat sekitar 28.000 warga asing dari 138 negara telah direkrut oleh Rusia.
Sebagai perbandingan, pada 2022 jumlah kontrak militer Rusia dengan warga asing yang tercatat hanya 94.
Usov juga mengungkapkan bahwa Kementerian Pertahanan Rusia menargetkan penandatanganan 18.500 kontrak dengan warga asing sepanjang 2026.
Hingga laporan tersebut disampaikan, sebanyak 16.168 kontrak telah ditandatangani.
Indonesia Masuk Daftar Negara Sasaran Perekrutan Rusia
Perekrutan tentara asing oleh Rusia tidak hanya menyasar Thailand.
Indonesia juga disebut sebagai salah satu negara yang belakangan semakin aktif menjadi sasaran perekrutan.
Selain Indonesia, negara lain yang disebut dalam laporan Ukraina antara lain Peru, Sierra Leone, Burundi, Chad, Filipina, Kongo, Panama, Ekuador, dan Zimbabwe.
Ukraina menilai Rusia memanfaatkan prosedur imigrasi yang lebih sederhana untuk menarik warga asing bergabung dengan militernya.
Bahkan, sejumlah warga dari negara berkembang diduga direkrut melalui tawaran pekerjaan dan janji keuntungan finansial.
Sebelumnya, Dinas Intelijen Luar Negeri Ukraina juga mengungkap sedikitnya 27 warga Yaman masuk dalam daftar calon perekrutan Rusia.