NTB.Suara.com - Bima yang berada di ujung Timur Nusa Tenggara Barat memiliki tokoh - tokoh nasional hebat yang berkarir di level nasional dengan berbagai jabatan yang diemban.
Bima memiliki sejarah panjang, sebelum bergabung ke Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Bima merupakan kesultanan atau kerajaan berdaulat. Namun atas dasar rasa nasionalisme yang besar, Sultan Bima kala itu, Sultan M.Salahudin menyatakan mendukung Republik.
Bung Karno sebagai Presiden pertama juga secara khusus datang ke Bima untuk bertemu dengan Sultan dan berpidato di depan rakyat Bima.
Setelah kemerdekaan, Bima berkembang dan juga menghasilkan sejumlah tokoh nasional. Tokoh - tokoh yang berasal dari Bima antara lain Hamdan Zoelva. Hamdan lahir di Bima pada 21 Juni 1962, dia merupakan seorang anak ulama Bima yang bernama KH.Muhammad Hasan dan Hj.Siti Zaenab.
Hamdan menghabiskan masa kecil di Desa Parado, sekitar 50 kilometer dari Bima. Ia dibesarkan dalam tradisi keluarga santri. Karena itulah Hamdan kecil disekolahkan di Madrasah Ibtidaiyah. Ketika menginjak kelas 4, ia pindah ke Sekolah Dasar di Kota Bima. Pun begitu, di sore hari, waktu Hamdan diisi dengan pendidikan agama di Madrasah Diniyah. Setelah lulus SD, darah ulama membawa dia kembali bersekolah ke Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah di Bima.
Hamdan menempuh pendidikan S1 di dua kampus sekaligus, yakni di Universitas Hasanuddin, Makassar dan UIN Alauddin Makassar. Kemudian dia meniti karir di Jakarta sebagai pengacara dan berkecimpung di dunia politik.
Setelah sukses di dunia pengacara dan politik, di usia ke 47, Hamdan kemudian masuk Mahkamah Konstitusi (MK) dan menjadi hakim MK termuda kala itu. Hamdan mulai berkarir di MK pada 2008, dan menjadi ketua MK pada 2013 - 2015.
Selain Hamdan Zoelva, tokoh Bima yang sukses di MK adalah Anwar Usman, yang merupakan ketua MK saat ini.
Anwar lahir di Bima pada 31 Desember 1956, Anwar yang dibesarkan di Desa Rasabou, Kecamatan Bolo, Bima, Nusa Tenggara Barat, mengaku dirinya terbiasa hidup dalam kemandirian. Lulus dari SDN 03 Sila, Bima pada 1969, Anwar harus meninggalkan desa dan orang tuanya untuk melanjutkan pendidikannya ke Sekolah Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) selama 6 tahun hingga 1975.
Lulus dari PGAN pada 1975, atas restu Ayahanda (Alm.) Usman A. Rahim beserta Ibunda Hj. St. Ramlah, Anwar merantau lebih jauh lagi ke Jakarta dan langsung menjadi guru honorer pada SD Kalibaru. Selama menjadi guru, Anwar pun melanjutkan pendidikannya ke jenjang S1. Ia pun memilih Fakultas Hukum Universitas Islam Jakarta dan lulus pada 1984.
Anwar kemudian mengikuti seleksi hakim dan lulus menjadi Hakim di Pengadilan Negeri Bogor, karirnya terus naik hingga ke Pengadilan Tinggi Jakarta, kemudian ke Mahkamah Agung dengan beberapa jabatan penting.
Anwar mulai masuk ke MK pada 2011, dan menjabat Wakil Ketua MK pada 2016, ketua MK periode pertama 2018-2022, periode kedua terpilih kembali untuk masa jabatan 2013-2026. Anwar juga dikenal dekat dengan Presiden Joko Widodo karena menikahi adik Jokowi yang bernama Idayati.