- Jika penggunanya tidak memiliki literasi yang kuat, AI tidak akan menjadi alat bantu.
- Pustakawan berperan penting sebagai pemandu literasi yang menghubungkan pembaca dengan buku.
- Pelatihan rekayasa perintah diberikan agar pustakawan mampu memvalidasi informasi dari mesin AI guna menangkal potensi halusinasi atau hoaks.
Tanpa kemampuan kritis ini, perpustakaan hanya akan menjadi "gudang" kertas, dan masyarakat akan tersesat di rimba informasi yang menyesatkan.
Melawan "Halusinasi" Mesin
Tantangan terbesar kita hari ini adalah kehadiran Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT dan kawan-kawannya. AI memang menawarkan kecepatan, tapi ia membawa bawaan lahir yang berbahaya: Halusinasi AI.
Ini adalah kondisi di mana mesin memproduksi informasi yang tampak sangat ilmiah dan meyakinkan, namun sebenarnya fiktif belaka.
Jika penggunanya tidak memiliki literasi yang kuat, AI tidak akan menjadi alat bantu, melainkan mesin pabrik hoaks paling canggih dalam sejarah manusia.
Inilah mengapa langkah FTI YARSI dan ATPUSI melatih para pustakawan dalam teknik Prompt Engineering (rekayasa perintah) menjadi sangat strategis. Prompt Engineering bukan sekadar cara bertanya pada mesin, melainkan seni berlogika.
Pustakawan yang menguasai teknik ini akan menjadi benteng pertahanan pertama di sekolah. Mereka akan mengajarkan siswa bagaimana memvalidasi jawaban AI, bagaimana mengendus data yang "halu", dan bagaimana tetap memegang kendali atas teknologi.

Nalar Tetap Milik Manusia
Teknologi "Akal Imitasi" mungkin bisa meniru cara kita berbahasa, menulis puisi, atau bahkan menyusun skripsi. Namun, ada hal yang tidak akan pernah dimiliki oleh algoritma mana pun: ketajaman nalar, kompas etika, dan kehangatan intuisi manusia.
Melalui sinergi akademisi dan praktisi perpustakaan, kita diingatkan bahwa masa depan literasi bukan tentang siapa yang paling cepat menggunakan AI, melainkan siapa yang paling bijak dalam memanfaatkannya.
Pustakawan adalah garda terdepan untuk memastikan bahwa di masa depan, manusia tidak didikte oleh halusinasi mesin, melainkan tetap dipandu oleh cahaya ilmu pengetahuan yang valid.
Danang Dwijo Kangko
Dosen Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi, Universitas YARSI