Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI

Dwi Bowo Raharjo | Suara.com

Sabtu, 18 April 2026 | 08:05 WIB
Pustakawan, 'Makcomblang' Literasi, dan Ancaman Halusinasi AI
Danang Dwijo Kangko, Dosen Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi, Universitas YARSI. (Suara.com/ Ist)
  • Jika penggunanya tidak memiliki literasi yang kuat, AI tidak akan menjadi alat bantu.
  • Pustakawan berperan penting sebagai pemandu literasi yang menghubungkan pembaca dengan buku.
  • Pelatihan rekayasa perintah diberikan agar pustakawan mampu memvalidasi informasi dari mesin AI guna menangkal potensi halusinasi atau hoaks.

Tanpa kemampuan kritis ini, perpustakaan hanya akan menjadi "gudang" kertas, dan masyarakat akan tersesat di rimba informasi yang menyesatkan.

Melawan "Halusinasi" Mesin

Tantangan terbesar kita hari ini adalah kehadiran Large Language Model (LLM) seperti ChatGPT dan kawan-kawannya. AI memang menawarkan kecepatan, tapi ia membawa bawaan lahir yang berbahaya: Halusinasi AI.

Ini adalah kondisi di mana mesin memproduksi informasi yang tampak sangat ilmiah dan meyakinkan, namun sebenarnya fiktif belaka.

Jika penggunanya tidak memiliki literasi yang kuat, AI tidak akan menjadi alat bantu, melainkan mesin pabrik hoaks paling canggih dalam sejarah manusia.

Inilah mengapa langkah FTI YARSI dan ATPUSI melatih para pustakawan dalam teknik Prompt Engineering (rekayasa perintah) menjadi sangat strategis. Prompt Engineering bukan sekadar cara bertanya pada mesin, melainkan seni berlogika.

Pustakawan yang menguasai teknik ini akan menjadi benteng pertahanan pertama di sekolah. Mereka akan mengajarkan siswa bagaimana memvalidasi jawaban AI, bagaimana mengendus data yang "halu", dan bagaimana tetap memegang kendali atas teknologi.

Ilustrasi AI atau Artificial Intelligence. (Freepik)
Ilustrasi AI atau Artificial Intelligence. (Freepik)

Nalar Tetap Milik Manusia

Teknologi "Akal Imitasi" mungkin bisa meniru cara kita berbahasa, menulis puisi, atau bahkan menyusun skripsi. Namun, ada hal yang tidak akan pernah dimiliki oleh algoritma mana pun: ketajaman nalar, kompas etika, dan kehangatan intuisi manusia.

Melalui sinergi akademisi dan praktisi perpustakaan, kita diingatkan bahwa masa depan literasi bukan tentang siapa yang paling cepat menggunakan AI, melainkan siapa yang paling bijak dalam memanfaatkannya.

Pustakawan adalah garda terdepan untuk memastikan bahwa di masa depan, manusia tidak didikte oleh halusinasi mesin, melainkan tetap dipandu oleh cahaya ilmu pengetahuan yang valid.

Danang Dwijo Kangko
Dosen Program Studi S1 Perpustakaan dan Sains Informasi, Universitas YARSI

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Gandeng OpenAI, Novo Nordisk Percepat Revolusi AI di Sektor Kesehatan

Gandeng OpenAI, Novo Nordisk Percepat Revolusi AI di Sektor Kesehatan

Bisnis | Jum'at, 17 April 2026 | 15:00 WIB

Wamenkomdigi: Generative AI Bikin Lansia Bingung, Konten Rekayasa Wajib Watermark

Wamenkomdigi: Generative AI Bikin Lansia Bingung, Konten Rekayasa Wajib Watermark

News | Jum'at, 17 April 2026 | 12:25 WIB

Wamenkes Dante Blak-blakan: AI Percepat Diagnosis Penyakit, Tapi RI Masih Bergantung Impor

Wamenkes Dante Blak-blakan: AI Percepat Diagnosis Penyakit, Tapi RI Masih Bergantung Impor

News | Jum'at, 17 April 2026 | 11:37 WIB

Mengintip Pengembangan Robot Cerdas Sektor Energi di Guangdong

Mengintip Pengembangan Robot Cerdas Sektor Energi di Guangdong

Foto | Jum'at, 17 April 2026 | 08:00 WIB

Terkini

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Menepis Hoaks Izin Lintas Udara: Strategi Cerdik Prabowo Mengunci AS, Rusia, dan China

Opini | Rabu, 15 April 2026 | 12:29 WIB

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Cikeas, Anies, dan Seni Menyembunyikan Politik di Balik Kata 'Tidak Diundang'

Opini | Jum'at, 27 Maret 2026 | 16:32 WIB

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Wasiat Jurgen Habermas untuk Bos dan Manajer Perusahaan agar Kantor Tak Jadi Penjara

Opini | Senin, 16 Maret 2026 | 12:47 WIB

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Momentum Ramadan: Mengubah Tragedi 'Perang Sarung' Menjadi Ruang Kreasi Melalui Masjid Ramah Anak

Opini | Senin, 02 Maret 2026 | 14:26 WIB

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Di Balik Valentine: Memaknai Ulang Cinta, Mencegah Femisida dalam Pacaran

Opini | Jum'at, 13 Februari 2026 | 13:31 WIB

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Kasus YBS dan Keberpihakan Anggaran Perlindungan Anak

Opini | Selasa, 10 Februari 2026 | 15:33 WIB

Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker

Jangan Tunggu Negara! Lindungi Dirimu Sendiri dari Serangan Kanker

Opini | Rabu, 04 Februari 2026 | 19:05 WIB

Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan

Homeless Media dan Negosiasi Kredibilitas dalam Masyarakat Jaringan

Opini | Jum'at, 30 Januari 2026 | 16:35 WIB

Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara

Membedah Potensi Gangguan Asing terhadap Kondusivitas Negara

Opini | Kamis, 22 Januari 2026 | 19:05 WIB

Risiko Siber dan Keberlanjutan Keuangan

Risiko Siber dan Keberlanjutan Keuangan

Opini | Kamis, 22 Januari 2026 | 15:33 WIB