Suara.com - Dunia otomotif dewasa ini sedang tergila-gila dengan teknologi mobil nirawak yang bisa berjalan dan berakselerasi di jalanan tanpa sopir. Dengan kata lain, semua orang di dalam mobil autokemudi itu nantinya adalah penumpang dan karenanya akan lebih sering menghabiskan waktu di jalan untuk membaca, mengetik di laptop, atau mengecek telepon seluler pintar.
Tetapi di saat teknologi sedang melesat maju, ada beberapa tantangan yang berusaha menghambat. Dari sisi hukum misalnya, mobil nirawak belum diterima oleh banyak negara, meski beberapa negara maju sudah mulai mengkaji regulasinya. Ada juga masalah privasi, karena internet yang akan menjadi pemandu mobil itu dikhawatirkan akan mengumpulkan informasi pribadi pemilik mobil dan membaginya dengan perusahaan atau pemerintah.
Selain masalah-masalah besar tadi, ada juga masalah yang lebih bersifat pribadi. Masalah itu disebut mabuk darat. Dengan kata lain, mobil nirawak akan berpotensi lebih besar membuat Anda muntah-muntah di sepanjang perjalanan.
Mengapa demikian? Berdasarkan penelitian Michael Sivak dan Brandon Schoettle dari University of Michigan, Amerika Serikat mengatakan bahwa ada beberapa faktor utama yang membuat penumpang mobil nirawak lebih mudah merasa mual.
Pertama, penumpang akan lebih gampang merasa telinga bagian dalam (inner ear) memberikan informasi yang berbeda ke otak dibandingkan dengan apa yang dilihat oleh mata. Ini bisa terjadi saat Anda membaca buku: mata Anda menginformasikan ke otak bahwa Anda tidak bergerak, tetapi telinga Anda merasa Anda bergerak karena keseimbangan Anda tidak stabil.
Kedua, Anda bisa menderita mabuk darat karena tubuh telat mendeteksi adanya perubahan arah (misalnya saat mobil tiba-tiba berbelok atau berpindah lajur). Ingat, Anda tak lagi mengendalikan kemudi mobil, jadi perubahan arah tak lagi dengan sepengetahuan Anda.
Berdasarkan analisis ini, Sivak dan Schoettle menghitung bahwa antara enam sampai 10 persen orang dewasa di AS yang menumpang mobil autkemudi akan lebih berpotensi mengalami mabuk darat. Estimasi itu terutama didasarkan pada asumsi bahwa penumpang mobil nirawak akan lebih banyak menghabiskan waktu di jalan untuk bekerja.
Apalagi, salah satu argumentasi utama para pendukung pengembangan mobil nirawak adalah para pemilik mobil masa depan bisa lebih produktif karena tak perlu lagi menghabiskan waktu untuk mengemudi mobilnya sendiri. (The Washington Post)
BACA BERITA MENARIK LAINNYA:
Ini Nama Bayi Pangeran William dan Kate Middleton
5 Selebritis Ini Takut Naik Pesawat
Ini Enam Zona Sensitif yang Bikin Lelaki Kelabakan
Promo Buku, Kim Kardashian Semi Bugil
Raffi Panggil 'Mbak' ke Yuni Shara