alexametrics

Soal Produknya Berpotensi Jadi Mata-mata, Ini Janji Elon Musk

RR Ukirsari Manggalani
Soal Produknya Berpotensi Jadi Mata-mata, Ini Janji Elon Musk
Sebuah mobil Tesla Model X dipamerkan di Polandia pada Juni 2017. [Shutterstock]

Bos Tesla janji tak bocorkan himpunan data yang diperoleh mobil-mobil produksinya ke pihak manapun.

Suara.com - Chief Executive Officer (CEO) Tesla Incorporation, Elon Musk berjanji tidak akan membocorkan data yang dihimpun dari kendaraan listrik buatannya kepada pihak pemerintah di China, Amerika Serikat, atau negara mana pun. Demikian dikutip dari kantor berita Antara.

"Ada tuntutan yang sangat kuat bagi kami dalam menjaga kerahasiaan informasi apa pun. Jika Tesla menggunakan mobil untuk melakukan kegiatan mata-mata di China atau di mana pun, kami akan menutup si pabrik," ujarnya dalam Forum Pembangunan China (CDF) yang digelar melalui saluran video, Sabtu (20/3/2021).

CDF adalah pertemuan bisnis tingkat atas yang digelar oleh Dewan Negara di Beijing, ibu kota China, pada 18-20 Maret 2021. Dan dalam kesempatan itu, Elon Musk juga memberikan pandangan bahwa kendaraan yang bisa beroperasi secara mandiri akan segera mengubah tatanan transportasi global.

CEO Tesla Elon Musk (tengah) dalam satu acara peletakan batu pertama pabrik mobil listrik barunya di Shanghai, China, pada 2019. [Xinhua/mii via ANTARA].
CEO Tesla Elon Musk (tengah) dalam satu acara peletakan batu pertama pabrik mobil listrik barunya di Shanghai, China, pada 2019. [Xinhua/mii via ANTARA].

"Ketika kita memikirkan teknologi, kita menemukan AI, RNA dan DNA sintetis. Kita juga melihat teknologi yang digunakan untuk mengembangkan vaksin. Sama seperti kedokteran digital, ini akan menjadi revolusi besar dalam perawatan medis dan pengembangan vaksin. Tentu saja, mobil tanpa pengemudi yang segera hadir akan mengubah wajah transportasi secara dramatis," paparnya.

Baca Juga: Canggihnya Fitur Tesla Malah Bikin Celaka, Mobil Polisi Jadi Korban

Elon Musk memberikan pernyataan tentang kerahasiaan data yang dihimpun mobil-mobil produksinya itu hanya berselang beberapa jam setelah pihak militer China melarang mobil merek Tesla memasuki kawasan militer. Alasan mereka untuk mencegah ancaman keamanan karena mobil Tesla dilengkapi kamera dan sensor ultrasonik yang bisa mengeskpose lokasi target.

Dalam mengutamakan faktor keamanan penggunanya dengan menerapkan teknologi dan industri masa depan, Elon Musk menekankan pentingnya mematuhi regulasi.

Ia menyebutkan bahwa kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) adalah tantangan tersendiri.

"Meskipun manusia dan AI memiliki banyak kesamaan, AI memiliki bandwidth yang tidak terbatas, jadi AI akan jauh lebih bertenaga," paparnya seperti dikutip kantor berita Antara dari beberapa media di China dan Hong Kong.

Sebagai catatan, Tesla adalah salah satu perusahaan asing yang membangun pabrik di China--negara pemilik pasar otomotif terbesar di dunia.

Baca Juga: Hyundai Tucson Edisi 2022, Hadir dalam Varian N Line dan Hybrid

Dengan bantuan otoritas Kota Shanghai dan sejumlah bank milik pemerintah China, Tesla telah menjadi perusahaan otomotif asing pertama yang mendirikan pabrik tanpa bermitra dengan perusahaan lokal.

Tahun lalu, Tesla mampu menjual mobil listrik kelas premium di China hingga mencapai 147.445 unit atau sekitar 30 persen dari total penjualan globalnya yang mencapai 500.000 unit.

Meskipun di China terdapat beberapa pabrik mobil listrik kelas premium, kekinian Tesla tetap memimpin pasar.

Komentar