facebook

Toyota Jepang Stop Produksi karena Chip Semikonduktor, Apakah Berdampak ke Indonesia?

RR Ukirsari Manggalani | Manuel Jeghesta Nainggolan
Toyota Jepang Stop Produksi karena Chip Semikonduktor, Apakah Berdampak ke Indonesia?
Welding Process PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia atau TMMIN. Sebagai ilustrasi kegiatan pabrik ini [Dok TMMIN]

Saat Toyota Motor Corporation di Jepang menangguhkan lima pabrik berproduksi, situasi di pabrik Indonesia seperti ini.

Suara.com - PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) menyatakan sempat kewalahan memenuhi permintaan kendaraan akibat terganggu pasokan chip semikonduktor.

Akan tetapi Direktur Administrasi, Korporasi, dan Hubungan Eksternal TMMIN, Bob Azam berharap bahwa tahun depan pasokan bisa lebih stabil.

"Tahun ini memang kami sempat kewalahan mengantisipasi kenaikan permintaan. Tapi tidak sampai menghentikan produksi. Kami tetap suplai, mudah-mudahan tahun depan lebih baik lagi," ujarnya dalam sesi virtual conference, baru-baru ini.

Ilustrasi kegiatan di Toyota Indonesia Academy (TIA) [ANTARA/TMMIN]
Ilustrasi kegiatan di Toyota Indonesia Academy (TIA) [ANTARA/TMMIN]

Ia menambahkan, tahun lalu memang ada dampak dari kelangkaan chip semikonduktor. Namun untuk tahun ini Toyota berharap bahwa isu mengenai semikonduktor bisa semakin berkurang.

Baca Juga: Fase Pemulihan Pasar Otomotif Nasional, Persentase Penjualan Toyota Indonesia 84,5 Persen

Dengan demikian pabrikan bisa mengantisipasi permintaan market yang sudah masuk ke fase recovery. Karena memang chip semikonduktor ini mempengaruhi segmen premium.

"Tapi semakin mid-low modelnya, maka penggunaan semikonduktor semakin sedikit," jelas Bob Azam memberikan gambaran seberapa penting komponen ini dalam pembuatan sebuah mobil.

Sebelumnya Toyota Motor Corporation (TMC) mengatakan akan menangguhkan produksi di lima pabrik domestik pada Januari 2022. Hal ini dikarenakan masalah rantai pasokan, kekurangan chip, dan pandemi COVID-19 yang masih berlangsung.

Raksasa otomotif asal Jepang ini juga mengatakan pihaknya memproyeksikan pengurangan lebih besar terkait produksi kendaraan di Amerika Utara pada Januari tahun depan. Jumlah mobil dibuat hanya 50 ribu unit, karena masalah rantai pasokan.

Baca Juga: Berharap Situasi Lebih Stabil, Tahun Depan Toyota Siapkan Produk Ramah Lingkungan

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar