facebook

Sampaikan Pidato di UMM, Menteri BUMN Sebut Soal Baterai Kendaraan Listrik

RR Ukirsari Manggalani
Sampaikan Pidato di UMM, Menteri BUMN Sebut Soal Baterai Kendaraan Listrik
Presiden Joko Widodo (kanan) menyimak penjelasan proses pembuatan baterai kendaraan listrik saat meresmikan peletakan batu pertama pembangunan pabrik baterai mobil listrik di Karawang, Jawa Barat, Rabu (15/9/2021). [Antara/Biro Pers Media Setpres/Laily Rachev]

Negara penghasil material untuk baterai kendaraan listrik mesti bisa mengolah sumber daya alam ini di negeri sendiri.

Suara.com - Menteri Badan Usaha Milik Negara atau Menteri BUMN Erick Thohir telah menyatakan kesiapan Indonesia untuk menjadi pemain utama industri mobil listrik.

Dikutip dari kantor berita Antara, Menteri BUMN menjelaskan bahwa mobil listrik memiliki banyak manfaat. Tak sebatas sektor ekonomi melainkan lingkungan. Hal ini sejalan dengan misi pemerintah untuk mendorong pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.

Disebutkannya bahwa semua pihak harus turut menjaga ketahanan energi Nasional. Saat ini, Indonesia mengimpor 1,5 juta barrel per hari untuk Bahan Bakar Minyak atau BBM. Nilai ini setara Rp 200 triliun per tahun.

Kawasan industri di Kawasi, Obi, Halmahera Selatan Maluku Utara, akan produksi baterai mobil listrik, sedang memasuki tahap konstruksi akhir [ANTARA/Abdul Fatah/am]
Kawasan industri di Kawasi, Obi, Halmahera Selatan Maluku Utara, akan produksi baterai mobil listrik, sedang memasuki tahap konstruksi akhir [ANTARA/Abdul Fatah/am]

Hadirnya mobil listrik akan menjadi bagian dari solusi untuk mengurangi berpindahnya devisa ke luar negeri.

Baca Juga: Mobil Listrik Wuling Hongguang Laku Keras di China

Kemudian, saat menyampaikan key speech di Universitas Muhammadiyah Malang, yang dipantau kantor berita Antara secara daring dari Jakarta, Sabtu (16/1/2022) Menteri BUMN Erick Thohir menegaskan tentang investasi produksi baterai kendaraan listrik harus berlokasi Indonesia, karena bahan nikel ada di negara kita.

"Apa rela nikel kita diekspor semua ke luar negeri. Yang buat baterai kendaraan listrik negara lain, kemudian dikirim ke Indonesia dan kita lagi yang beli. Karena itu perlu kita ubah jalur produksinya dan berpikir cerdas: kalau mau mempergunakan nikel kita maka harus investasi produksi baterai kendaraan listrik di Indonesia," tukas Menteri BUMN Erick Thohir.

Ia menyampaikan tidak ingin terulang kembali kejadian di mana Indonesia menjadi pasar mobil terbesar di Asia Tenggara, tetapi investasi sarana produksinya di Thailand.

"(Itu) Salah? Tidak, kita yang mesti introspeksi mengapa kalah dari Thailand. Kalau sekarang Thailand tidak produksi nikel, investasi mobil listriknya masih di Thailand maka ada yang salah dari kita. Karena itu kita harus paksakan produksinya harus di sini, kalau tidak mau investasi maka tidak usah kita memberikan nikelnya," tegasnya.

Baca Juga: Brand Tuan Rumah Dominasi Pasar Mobil Listrik China, Apa Kabar Merek Asing?

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS

Komentar