
Bagi pabrikan, teknologi seperti C15 bisa menjadi solusi murah dan cepat untuk memperluas jangkauan EV tanpa harus merombak platform secara besar-besaran.
Ini juga bisa jadi jawaban atas kekhawatiran konsumen soal jarak tempuh dan ketersediaan charging station, terutama di negara berkembang.
Horse Powertrain menyebut bahwa REEV adalah kategori powertrain yang tumbuh paling cepat di banyak pasar global. Dengan biaya konversi yang rendah dan modifikasi minimal, C15 bisa menjadi opsi menarik bagi produsen yang ingin tetap kompetitif di era transisi energi.
Jadi, bisakah mobil listrik dikonversi jadi mobil bensin? Jawabannya: tidak sepenuhnya. Tapi dengan teknologi seperti Horse C15, mobil listrik bisa diubah menjadi kendaraan hybrid ringan yang tetap mengandalkan baterai, namun punya cadangan tenaga dari mesin bensin.
Ini bukan langkah mundur, melainkan strategi adaptif untuk menjembatani kebutuhan pasar dan keterbatasan infrastruktur. Jika tren ini terus berkembang, bukan tidak mungkin kita akan melihat lebih banyak mobil listrik dengan mesin bensin kecil sebagai penolong di saat darurat—tanpa harus kembali sepenuhnya ke era BBM.