Impor Mobil India Tanpa Jaringan Purnajual Berpotensi Jadi Besi Tua di Desa-Desa

Selasa, 24 Februari 2026 | 13:13 WIB
Impor Mobil India Tanpa Jaringan Purnajual Berpotensi Jadi Besi Tua di Desa-Desa
Ilustrasi Impor Mobil India. (Gemini)
Baca 10 detik
  • Rencana impor mobil India senilai Rp 24,66 Triliun untuk Koperasi Merah Putih menimbulkan polemik nasional.
  • Spesifikasi mobil India tidak sesuai standar BBM Indonesia, berpotensi meningkatkan emisi dan biaya perawatan.
  • Kurangnya jaringan dealer dan ketersediaan suku cadang India mengancam kendaraan menjadi tidak berfungsi cepat.

Suara.com - Rencana impor mobil India dengan kontrak senilai Rp 24,66 Triliun untuk operasional Koperasi Merah Putih menimbulkan polemik. Selain nilai yang fantastis, rencana impor mobil dari negara tetangga juga menimbulkan tanda tanya besar.

Bahkan secara spesifikasi, Scorpio pick up yang dipasok oleh Mahindra, Yodha Pick-Up dan Ultra T.7 Light Truck yang dipasok Tata Motors tidak sesuai dengan standar di Indonesia.

"Mesin diesel India dirancang untuk standar BBM diesel konvensional. Penggunaan BioSolar (B35/B40) di Indonesia memerlukan penyesuaian teknis pada sistem injeksi dan filter. Ini yang perlu diperjelas oleh Agrinas," ujar Pengamat Otomotif, Yannes Martinus Pasaribu kepada Suara.com, Selasa (24/2/2026).

Tanpa adaptasi yang tepat, tambah Yannes, emisi gas buang akan melonjak, dan reliabilitas mesin akan menurun. Pada gilirannya akan meningkatkan biaya perawatan koperasi desa jika terjadi masalah pada mesin.

"Jelas produsen India seperti Mahindra dan Tata Motors belum memiliki jaringan dealer dan bengkel resmi sekuat pabrikan Jepang di wilayah pelosok Indonesia.

"Dan jika kendaraan ini mengalami kerusakan massal dengan sebaran mobil yang luas, sedangkan suku cadang harus diimpor dari India. Maka kendaraan ini akan menjadi monumen besi tua di desa-desa dalam waktu kurang dari lima tahun," tegas Yannes.

Sebelumnya Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Evita Nursanty menyoroti kontrak pengadaan kendaraan niaga senilai Rp
24,66 triliun yang diamankan oleh PT Agrinas Pangan Nusantara untuk mendukung operasional Koperasi Merah Putih.

Menurutnya, dengan nilai proyek yang mencapai Rp 24,66 triliun, kebijakan ini memiliki dampak strategis, tidak hanya terhadap distribusi pangan desa tetapi juga terhadap arah kebijakan industri
nasional.

"Ini pengadaan dalam skala sangat besar. Dampaknya bukan hanya pada logistik desa, tetapi juga terhadap struktur industri otomotif nasional," pungkas Evita.

Baca Juga: Mengapa Harus Impor CBU dari India Saat Kapasitas Manufaktur Lokal Masih Melimpah

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Fiksi dan Eksposisi dengan Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 6 SD Materi Geometri dan Pengukuran Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Hoki Kamu? Cek Peruntungan Shiomu di Tahun Kuda Api 2026
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI