- Indonesia membatasi BBM Pertalite untuk mobil pribadi sebanyak 50 liter per hari lewat MyPertamina.
- Malaysia menjatah bensin RON 95 subsidi hanya 200 liter per bulan untuk kendaraan pribadi.
- Jatah harian di Malaysia jauh lebih ketat, hanya sekitar 6,5 liter dibanding Indonesia.
Suara.com - Di tengah fluktuasi harga minyak dunia, kebijakan pembatasan BBM subsidi kini resmi diterapkan di Indonesia maupun negara tetangga, Malaysia.
Menariknya, meski sama-sama melakukan pengetatan untuk kendaraan pribadi, terdapat perbedaan yang sangat mencolok mengenai besaran jatah kuota di kedua negara tersebut.
Pemerintah Indonesia menetapkan batas aman pembelian Pertalite (RON 90) untuk mobil pribadi sebanyak 50 liter per hari.
Transaksi ini dikunci menggunakan pantauan barcode aplikasi MyPertamina.
Jika diakumulasikan, satu kendaraan roda empat di Tanah Air bisa meminum hingga 1.500 liter bensin subsidi dalam sebulan.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, aturan ketat ini murni membidik mobil pribadi berpelat hitam.
Angkutan umum seperti bus dan truk logistik dibebaskan dari pembatasan 50 liter demi menjaga urat nadi roda ekonomi dan pasokan barang tetap stabil.
![Petronas dalam waktu dekat akan melakukan PHK kepada 5.000 karyawannya. [Antara]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/06/09/74534-logo-petronas.jpg)
Lompat ke seberang Selat Malaka, Negeri Jiran ternyata mengambil langkah pengetatan yang jauh lebih ekstrem.
Pemerintah Malaysia memangkas jatah bensin RON 95 bersubsidi menjadi hanya 200 liter per bulan untuk tiap pengguna, turun dari kuota sebelumnya yang mencapai 300 liter.
Sebagai gambaran, bensin RON 95 subsidi di Malaysia saat ini dibanderol sangat murah, yakni 1,99 ringgit atau sekitar Rp 8.000-an per liter.
Namun dengan kuota bulanan tersebut, warga Malaysia secara hitungan kasar hanya dijatah sekitar 6,5 liter per hari.
Angka yang sangat jomplang jika dibandingkan dengan kelonggaran 50 liter per hari di Indonesia!
Lalu, apa yang terjadi jika tangki mobil warga Malaysia sudah menenggak habis jatah 200 liter sebelum ganti bulan?
Mesin pom bensin tidak akan menolak pelayanan. Pengendara tetap diizinkan mengisi bahan bakar, namun argo harga otomatis berpindah ke tarif nonsubsidi yang dipatok sebesar 3,87 ringgit (sekitar Rp 16.267) per liter.
Kebijakan pembatasan drastis ini rupanya tidak memicu kepanikan massal. Kepala Ekonom CGS International Securities Malaysia, Nazmi Idrus, membeberkan fakta menarik bahwa 90 persen konsumen di sana memang menghabiskan kurang dari 200 liter bahan bakar dalam sebulan.