- Suara.com menjelaskan bahwa kebiasaan seperti menggoyangkan mobil saat mengisi bensin atau memanaskan mesin terlalu lama hanyalah mitos.
- Pengemudi dapat menghemat bahan bakar dengan memastikan tekanan ban ideal, mengurangi beban kendaraan, serta menggunakan oktan yang tepat.
- Praktik berkendara secara halus dan mematikan mesin saat berhenti lama terbukti meningkatkan efisiensi penggunaan BBM secara signifikan.
![Pengendara mengisi bensin untuk kendaraannya di SPBU Pertamina, kawasan Palmerah, Jakarta, Jumat (8/5/2026). [Suara.com/Alfian Winanto]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/05/08/55574-bbm-kenaikan-harga-bbm-spbu-pertamina-ilustrasi-bbm-ilustrasi-spbu-ilustrasi-pertalite.jpg)
Trik nyata yang terbukti efektif adalah mematikan mesin saat berhenti lebih dari satu menit, misalnya di lampu merah yang memiliki penghitung waktu mundur.
Kebiasaan membiarkan mesin idle selama satu jam setara dengan membuang hampir satu liter bensin tanpa menghasilkan jarak tempuh. Selain itu, perhatikan beban kendaraan Anda.
Setiap tambahan beban sebesar 50 kg dapat meningkatkan konsumsi BBM hingga 2 persen. Membersihkan bagasi dari barang-barang yang tidak diperlukan adalah cara termudah untuk mengurangi bobot mobil.
Pemilihan nilai oktan juga berpengaruh besar pada efisiensi. Menggunakan BBM dengan oktan yang sesuai rekomendasi pabrikan memastikan pembakaran sempurna dan mencegah engine knocking.
Mesin dengan pembakaran yang efisien akan menghasilkan tenaga yang lebih responsif, yang pada akhirnya membuat konsumsi bensin lebih hemat dalam jangka panjang.
Jangan lupa untuk selalu mengecek tekanan angin ban; ban yang kurang tekanan hanya 3 psi saja sudah bisa membuat mobil lebih boros 3 persen hingga 5 persen karena meningkatnya rolling resistance.
Kunci terakhir dari penghematan bensin adalah gaya berkendara atau eco driving. Menjaga putaran mesin di rentang 1.500 hingga 2.500 RPM dan menghindari akselerasi mendadak dapat menghemat bensin hingga 15 persen.
Mengemudi secara halus dan memanfaatkan momentum kendaraan jauh lebih efisien daripada gaya mengemudi agresif yang memaksa ECU menyemprotkan lebih banyak bahan bakar ke ruang bakar.