- Merek otomotif China mencatat kenaikan penjualan 40 persen di Australia selama empat bulan pertama tahun 2026.
- Ekspansi pabrikan China menyebabkan penurunan signifikan sebesar 20 persen pada total penjualan mobil merek Jepang di Australia.
- BYD mulai memproduksi mobil secara lokal di Eropa guna menghindari tarif impor serta meningkatkan daya saing pasar.
Suara.com - Industri otomotif dunia saat ini sedang mengalami pergeseran peta kekuatan yang sangat ekstrem. Jika dulu merek-merek mobil asal China sering dipandang sebelah mata, kini kondisinya sudah berbalik total.
China telah bertransformasi menjadi kekuatan dominan di pasar mobil baru melalui merek-merek seperti BYD, Chery, MG, dan GWM yang semakin memperkuat posisinya di berbagai negara, termasuk Australia.
Fenomena ini bukan sekadar tren sesaat, melainkan sebuah invasi teknologi dan harga yang mulai mengubah perilaku konsumen secara masif.
Digdaya di Australia

Dikutip dari Drive Australia, kondisi pasar di Australia menjadi bukti nyata betapa agresifnya pertumbuhan merek China.
Berdasarkan data terbaru, angka penjualan dari 14 merek asal China yang melaporkan hasil penjualannya melonjak drastis hingga 40 persen dalam empat bulan pertama tahun 2026 dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Lonjakan ini setara dengan kenaikan dari 56.510 unit menjadi 93.539 unit hanya dalam waktu singkat. Pertumbuhan pesat ini tentu saja memakan pangsa pasar yang selama ini dikuasai oleh pemain lama.
Pihak yang paling merasakan dampak pahit dari ekspansi ini adalah pabrikan asal Jepang. Hampir seluruh merek utama Jepang di Australia, mulai dari raksasa otomotif hingga merek spesialis, mencatatkan penurunan penjualan yang signifikan.
Secara total, penjualan mobil Jepang di Negeri Kanguru tersebut merosot hingga 20 persen dalam empat bulan pertama tahun ini. Jika tahun lalu mereka masih bisa menjual 186.507 unit, kini angkanya turun menjadi 150.797 unit saja.
Beberapa nama besar mengalami penurunan yang cukup mengkhawatirkan. Nissan mencatatkan penurunan paling tajam di antara merek utama dengan angka mencapai 32,2 persen.
Mitsubishi menyusul dengan penurunan 25,5 persen, dan Suzuki melorot 23,4 persen. Bahkan pemimpin pasar seperti Toyota pun tidak luput dari gempuran ini, di mana penjualan mereka berkurang sebanyak 17.502 unit atau turun sekitar 22,7 persen dibandingkan tahun lalu.
Pergeseran preferensi pembeli ke arah teknologi baru yang ditawarkan merek China menjadi biang kerok utama di balik fenomena ini.
Ekspansi besar-besaran ke Eropa

Tidak hanya di Australia, strategi "pengepungan" merk China juga merambah ke wilayah Eropa dengan taktik yang lebih cerdik.
Saat ini, era hanya mengandalkan pengiriman mobil lewat laut dari China ke Eropa mulai menemui hambatan besar berupa pajak impor yang tinggi dan ketegangan politik.
Uni Eropa mulai menaikkan hambatan dagang dan tarif bagi kendaraan listrik (EV) impor asal China. Untuk menyiasati tembok pajak ini, raksasa seperti BYD mulai beralih ke strategi produksi lokal.
Alih-alih membangun pabrik dari nol yang memakan waktu lama, BYD justru mengincar fasilitas produksi milik kompetitornya yang sedang menganggur.
Mereka saat ini tengah bernegosiasi dengan beberapa pabrikan Eropa, termasuk grup Stellantis, untuk mengambil alih atau berbagi jalur produksi di pabrik yang tidak terpakai.
Langkah produksi lokal di dalam wilayah Eropa ini memungkinkan mereka menghindari tarif pajak impor sepenuhnya sekaligus mengubah citra merk agar lebih diterima sebagai pemain lokal di mata masyarakat Eropa.
Saat ini, merek China telah menguasai sekitar 22 persen pangsa pasar EV di Eropa, seiring dengan minat masyarakat yang terus beralih ke mobil bersih lingkungan.