- Website resmi motor EMMO senilai triliunan rupiah dibiarkan eror dan berisi teks dummy.
- Vendor pengadaan terbukti tak punya bengkel resmi dan memiliki rekam jejak bisnis konveksi.
- Spesifikasi trail motor MBG dinilai janggal dengan indikasi markup harga yang fantastis.
Lini bisnis mereka tercatat merambah dari sektor konveksi pakaian, alat laboratorium, farmasi, hingga mesin kantor. Namun, Yasagroup di situs resminya tetap mengklaim siap menyediakan pengadaan motor listrik secara profesional.
Klaim sepihak tersebut nyatanya berbenturan keras dengan realitas di lapangan. Rekam jejak bisnis gado-gado ini memicu kecurigaan aparat atas kapabilitas mereka.
Mimpi Buruk Bengkel Gaib
Pihak Kejaksaan Agung secara tegas membongkar celah fatal terkait ketersediaan jaringan purnajual. Negara telah membayar penuh ke PT YAT yang terbukti tidak memenuhi syarat sebagai vendor.
Keterangan resmi Kejagung menyebutkan vendor tidak memiliki dealer atau bengkel aktif dan melakukan markup. Fakta ini berbanding terbalik dengan daftar dealer di situs resmi EMMO yang tersebar dari Jakarta hingga Merauke.
Ironisnya, status semua dealer yang diklaim tersebut masih tertulis "Segera Hadir". Publik pun bertanya ke mana puluhan ribu armada BGN ini harus diservis jika mengalami kerusakan.
Misteri Selisih Banderol Harga
PT YAT menawarkan dua model utama untuk megaproyek ini, yaitu Emmo JVH Max dan Emmo JVX GT. Model JVH Max dipatok seharga Rp 48,84 juta, sedangkan Emmo JVX GT dihargai Rp 49,95 juta.
Angka penawaran tersebut terasa sangat ganjil jika disandingkan dengan harga di etalase EMMO sendiri. Pada situs resminya, tipe JVH Max dibanderol Rp 48,9 juta dan seri JVX GT menembus Rp 58 juta.
Kombinasi vendor konveksi, bengkel gaib, dan website error kian memperkeruh skandal birokrasi ini. Publik kini disuguhi realitas pahit di balik pengadaan kendaraan operasional bernilai triliunan rupiah.