- BPS mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS pada Mei 2026 akibat lonjakan impor migas.
- M Rizal Taufikurahman menyarankan pemerintah mempercepat ekspor produk manufaktur bernilai tambah untuk menekan ketergantungan pada komoditas primer dan migas.
- Pemerintah perlu melakukan diversifikasi pasar nontradisional, efisiensi energi, serta menyederhanakan birokrasi guna meningkatkan daya saing ekspor nasional dalam jangka pendek.
Suara.com - Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Indef M Rizal Taufikurahman mengatakan pemerintah perlu melakukan percepatan ekspor sektor-sektor yang mempunyai nilai tambah, termasuk komponen otomotif, sebagai strategi untuk mendorong pertumbuhan ekspor nasional.
Strategi mempermuda ekspor produk manufaktur itu disampaikan Rizal setelah Badan Pusat Statistik pada pekan lalu mengumumkan defisit perdagangan pertama Indonesia dalam 73 bulan terakhir, akibat meningkatnya impor minyak dan gas.
"Untuk sisa tahun ini, strategi mendorong ekspor tidak cukup hanya dengan promosi dagang. Pemerintah perlu mempercepat ekspor sektor yang punya nilai tambah tinggi, terutama produk manufaktur, makanan olahan, kimia, farmasi, komponen otomotif, tekstil bernilai tambah, serta produk hilirisasi yang tidak berhenti di bahan setengah jadi," kata Rizal akhir pekan ini di Jakarta,
Ia berpendapat defisit neraca perdagangan pada Mei 2026 yang terjadi untuk pertama kalinya ini menjadi sinyal bahwa ekspor nasional melemah di tengah kebutuhan impor, terutama migas dan bahan baku yang meningkat cukup agresif di dalam negeri.
Ia juga mengatakan defisit ini menunjukkan kerentanan perdagangan Indonesia karena ketergantungan terhadap impor migas yang masih besar sehingga neraca perdagangan langsung tertekan ketika harga energi dan volume impor naik.
Selain itu, ia melihat ekspor dari Indonesia masih terlalu bertumpu pada komoditas primer dan hilirisasi sumber daya alam, sehingga berpengaruh oleh pelemahan harga komoditas dunia, perlambatan permintaan global dan tekanan dari negara mitra dagang utama.
Di sektor ini, penguatan hilirisasi pengolahan bahan mentah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi sebelum ekspor seperti produk berbasis logam, kelapa sawit dan hasil pertanian dapat mendatangkan devisa yang lebih besar.
Ia pun menyarankan Indonesia untuk mendorong ekspor dari sisi volume dan juga mempertimbangkan diversifikasi produk serta perluasan pasar nontradisional.
"Ekspor harus didorong dari sisi volume, diversifikasi produk, dan perluasan pasar nontradisional seperti India, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin," sarannya.
Dalam jangka pendek, Rizal juga menyarankan pemerintah untuk menyederhanakan birokrasi yang dapat memperkuat pembiayaan ekspor, mempercepat restitusi pajak, menurunkan hambatan logistik pelabuhan, memperbaiki kepastian pasokan bahan baku industri, dan menjaga stabilitas nilai tukar agar eksportir tidak menghadapi risiko biaya yang terlalu tinggi.
Di saat yang sama, impor migas perlu ditekan melalui efisiensi energi, substitusi energi domestik, dan pengendalian impor konsumtif yang tidak produktif.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada Mei 2026 neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar 1,61 miliar dolar AS, melonjak 59 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Lonjakan impor yang didorong oleh kenaikan harga minyak dan gas dunia menjadi penyebab utama celah defisit ini terjadi.