- Kemajuan teknologi baterai terbukti membuat mobil listrik modern lebih tahan lama dibandingkan prediksi awal para konsumen.
- Riset menunjukkan rata-rata baterai mobil listrik usia lima tahun mampu mempertahankan sekitar 95 persen kapasitas aslinya.
- Rasio penggantian baterai mobil listrik keluaran 2022 ke atas turun drastis hingga mencapai angka 0,3 persen secara global.
Suara.com - Banyak calon konsumen di kota-kota besar Indonesia masih ragu beralih ke kendaraan ramah lingkungan karena takut daya tahan baterai mobil listrik. Namun fakta terbaru menunjukkan bahwa kekhawatiran mengenai biaya penggantian baterai yang mahal mulai kehilangan relevansinya seiring kemajuan teknologi.
Melansir laporan Wall Street Journal, baterai mobil listrik modern terbukti mampu bertahan jauh lebih lama dari perkiraan awal. Salah satu bukti nyata datang dari unit Tesla Model 3 yang telah menempuh jarak hampir 397.000 kilometer.
Meski sudah digunakan secara intensif selama lima tahun, mobil tersebut tetap sanggup menempuh jarak lebih dari 400 kilometer hanya dalam sekali pengisian daya.
Data dari perusahaan pemantau kesehatan baterai Recurrent memperkuat temuan ini. Hasil riset mereka menunjukkan rata-rata mobil listrik yang sudah berusia lima tahun masih mampu mempertahankan sekitar 95 persen kapasitas aslinya.
Artinya penurunan performa yang terjadi sangat minim dan tidak mengganggu mobilitas harian penggunanya.
Lonjakan daya tahan ini merupakan hasil dari penyempurnaan kimia baterai serta sistem pendingin yang lebih efektif. Selain itu perangkat lunak manajemen baterai masa kini jauh lebih cerdas dalam menjaga kesehatan sel sehingga proses degradasi berlangsung sangat lambat.
Angka risiko penggantian baterai juga turun drastis secara global. Jika mobil listrik keluaran 2011 hingga 2016 memiliki rasio penggantian satu berbanding 12 kendaraan, maka pada model keluaran 2022 ke atas angkanya anjlok menjadi hanya 0,3 persen.
Penurunan signifikan ini membuktikan bahwa kualitas komponen kendaraan listrik semakin andal. Sayangnya persepsi masyarakat belum sepenuhnya bergeser mengikuti fakta tersebut.
Survei AutoPacific pada 2025 mengungkapkan bahwa ketakutan akan biaya perbaikan baterai mobil listrik masih menjadi hambatan utama penjualan. Banyak calon pembeli belum menyadari bahwa risiko kerusakan baterai pada mobil listrik generasi terbaru sangatlah kecil dibandingkan model lama seperti Nissan Leaf versi awal yang belum memiliki sistem pendingin mumpuni.
Para ahli otomotif menekankan bahwa keraguan publik saat ini lebih didasari oleh sisa trauma teknologi masa lalu. Padahal data di lapangan menunjukkan bahwa baterai mobil listrik saat ini sudah sangat siap untuk penggunaan jangka panjang.