- Yamaha Motor India resmi meluncurkan skuter listrik premium Aerox E yang mengusung desain sport khas keluarga Aerox.
- Motor listrik ini dipasarkan seharga Rp53,5 juta dengan keunggulan torsi instan sebesar 48 Nm untuk akselerasi awal.
- Aerox E dilengkapi fitur canggih seperti layar TFT navigasi Garmin dan rem cakram belakang untuk pengalaman berkendara.
Suara.com - Siapa yang tidak mengenal Yamaha Aerox? Skutik ini telah menjadi ikon motor sport matic yang sangat digemari di Indonesia karena desainnya yang gagah dan performanya yang responsif.
Namun, baru-baru ini jagat otomotif dihebohkan dengan langkah berani Yamaha Motor India yang resmi meluncurkan Yamaha Aerox E, versi bertenaga listrik dari sang legenda jalanan tersebut.
Kehadiran motor listrik ini tentu memancing rasa penasaran, terutama bagi pengendara yang mulai melirik kendaraan ramah lingkungan namun tetap ingin tampil keren.
Yamaha Aerox E hadir sebagai skuter listrik premium di India bersama dengan model EC-06. Peluncuran ini menjadi tonggak sejarah bagi Yamaha dalam menghadirkan mobilitas elektrik yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga tetap membawa DNA sport khas Aerox.
Namun, bagi konsumen di Indonesia, harga motor listrik ini mungkin akan terasa cukup mengejutkan.

Berdasarkan kurs terbaru di mana 1 Rupee India setara dengan Rp 189,84, Aerox E dibanderol dengan harga Rs 2,82 lakh atau setara dengan Rp 53.534.880.
Angka ini selisih sangat jauh jika dibandingkan dengan Yamaha Aerox 155 Standard di Indonesia yang harganya hanya Rp 29.380.000.
Bahkan jika dibandingkan dengan versi termahalnya, yakni Aerox 155 Connected/ABS yang dijual seharga Rp 32.115.000, selisih harganya masih terpaut lebih dari Rp 20 juta.
Banyak calon pembeli kemudian bertanya, apakah dengan harga yang hampir dua kali lipat tersebut, performa Aerox E bisa lebih kencang dari versi bensinnya?
Jika kita melihat data teknis, Aerox 155 versi bensin masih memegang kendali dalam hal tenaga puncak. Mesin Blue Core 155cc milik Aerox 155 mampu menghasilkan daya maksimal 11,3 kW pada 8.000 rpm.
Sementara itu, Aerox E memiliki tenaga puncak sebesar 9,4 kW. Meskipun daya puncaknya lebih rendah, Aerox E menang telak dalam urusan akselerasi awal karena memiliki torsi maksimal mencapai 48 Nm.
Sebagai perbandingan, torsi maksimal Aerox 155 hanya berada di angka 13,9 Nm. Artinya, untuk urusan tarikan bawah saat lampu merah berubah hijau, si listrik dipastikan terasa lebih "menjambak" daripada versi bensinnya.

Namun, untuk urusan kecepatan puncak, Aerox E harus mengakui keunggulan mesin konvensional. Kecepatan maksimal Aerox E dibatasi pada angka 95,5 km/jam ketika menggunakan mode Power ditambah fitur Boost.
Angka ini mungkin terasa cukup untuk penggunaan di dalam kota, namun bagi mereka yang sering melintasi jalan panjang tanpa hambatan, Aerox 155 bensin masih menawarkan napas yang lebih panjang.
Dari sisi kepraktisan, Aerox E menawarkan jarak tempuh sekitar 117 km dalam sekali pengisian daya penuh, yang secara metaforis setara dengan perjalanan dari Jakarta ke Cirebon.
Tenaga listrik tersebut disimpan dalam dua paket baterai yang dapat dilepas dengan total kapasitas 3 kWh.

Selain masalah mesin, perbedaan fitur menjadi alasan mengapa harga Aerox E melonjak tinggi.
Yamaha menyematkan instrumen cluster TFT digital penuh pada versi listrik yang mendukung navigasi Garmin Street Cross, kontrol musik, hingga notifikasi cuaca.
Fitur mewah lainnya yang tidak ditemukan pada Aerox 155 Indonesia adalah penggunaan rem cakram di roda belakang serta indikator belok atau lampu sein yang sudah menggunakan LED.
Meski secara visual keduanya berbagi panel bodi dan desain yang hampir identik, Aerox E jelas diposisikan sebagai produk yang lebih canggih dan eksklusif bagi mereka yang siap beralih ke masa depan tanpa emisi.