- Produsen merekomendasikan penggantian helm setelah beberapa tahun pemakaian atau segera setelah mengalami benturan keras demi menjaga perlindungan kepala.
- Pengendara harus memeriksa kondisi fisik helm secara berkala, termasuk cangkang, lapisan dalam, tali, dan visor, untuk mendeteksi penurunan kualitas material.
- Pengendara wajib memilih jenis helm baru yang sesuai standar keselamatan SNI, seperti full face, half face, modular, atau off-road.
Suara.com - Kapan harus ganti helm menjadi pertanyaan penting bagi setiap pengendara yang ingin menjaga perlindungan kepala tetap optimal.
Helm bukan perlengkapan yang dapat digunakan selamanya karena material penyusunnya dapat mengalami perubahan akibat pemakaian dan kondisi lingkungan.
Kerusakan akibat benturan juga tidak selalu terlihat dari bagian luar sehingga helm yang tampak masih bagus belum tentu memiliki kemampuan perlindungan seperti sebelumnya.
Selain mengetahui usia dan kondisi helm, pengendara perlu memahami jenis helm yang sesuai standar keselamatan SNI sebelum menentukan penggantinya.
Kapan Harus Ganti Helm?

Tidak ada angka tunggal yang berlaku untuk semua helm, tetapi banyak produsen memberikan rekomendasi penggantian setelah beberapa tahun pemakaian, tergantung material, intensitas penggunaan, perawatan, serta kondisi helm.
Salah satu alasan helm perlu diperbarui adalah adanya penurunan kondisi material seiring waktu.
Bagian dalam helm, termasuk lapisan penyerap energi, dapat terpengaruh oleh keringat, panas, kelembapan, sinar ultraviolet, dan penggunaan berulang.
Namun, usia bukan satu-satunya patokan. Helm harus segera diganti setelah mengalami benturan keras, meskipun cangkang luarnya tidak menunjukkan kerusakan yang jelas.
Benturan dapat memengaruhi struktur bagian dalam yang berfungsi menyerap energi sehingga kemampuan perlindungannya berpotensi menurun.
Perhatikan pula kondisi fisik helm secara berkala. Beberapa tanda yang dapat menjadi alasan untuk menggantinya antara lain:
- Cangkang luar mengalami retak atau kerusakan.
- Lapisan penyerap benturan di bagian dalam berubah bentuk atau rusak.
- Busa bagian dalam sudah terlalu tipis, longgar, atau lapuk.
- Tali pengikat mulai aus, robek, atau tidak dapat dikencangkan dengan baik.
- Sistem pengunci tidak lagi bekerja secara sempurna.
- Helm terasa semakin longgar meskipun ukurannya sebelumnya sesuai.
- Visor mengalami kerusakan yang mengganggu pandangan.
Kebiasaan menyimpan helm di tempat yang terpapar panas berlebihan atau membiarkannya terkena sinar matahari dalam waktu lama juga dapat mempercepat penurunan kondisi material.
Karena itu, jangan menjadikan tampilan luar sebagai satu-satunya indikator kelayakan helm. Pemeriksaan terhadap bagian luar, lapisan dalam, tali, dan mekanisme pengunci perlu dilakukan secara menyeluruh.
Jenis Helm Sesuai Standar Keselamatan SNI
Setelah mengetahui kapan helm harus diganti, langkah berikutnya adalah memilih pengganti yang sesuai dengan kebutuhan berkendara.
Helm yang beredar di Indonesia memiliki berbagai desain, sehingga pengendara dapat menyesuaikannya dengan aktivitas dan karakter perjalanan.
1. Helm Full Face
Helm full face menutupi bagian kepala, wajah, hingga dagu sehingga area perlindungannya lebih luas dibandingkan helm yang memiliki desain terbuka.
Jenis ini dapat dipertimbangkan untuk pengendara yang sering melakukan perjalanan jauh, touring, atau berkendara pada rute dengan kecepatan relatif tinggi. Ventilasi dan desain visor menjadi fitur yang perlu diperhatikan agar perlindungan tetap disertai kenyamanan.
2. Helm Half Face atau Open Face
Helm half face melindungi bagian atas, samping, dan belakang kepala, tetapi tidak menutup area dagu seperti full face.
Desain yang lebih terbuka membuatnya praktis untuk penggunaan sehari-hari, terutama ketika berkendara di wilayah perkotaan. Meski demikian, bagian wajah dan dagu tetap memiliki perlindungan yang lebih terbatas dibandingkan helm full face.
3. Helm Modular atau Flip-Up
Helm modular memiliki bagian depan yang dapat diangkat sehingga pengguna lebih mudah membuka area wajah ketika sedang berhenti.
Jenis ini menawarkan fleksibilitas bagi pengendara yang menginginkan karakter helm tertutup sekaligus kemudahan seperti helm terbuka. Sebelum membeli, periksa mekanisme pengunci bagian dagu untuk memastikan seluruh komponennya bekerja dengan baik.
4. Helm Off-Road
Helm off-road dirancang untuk kebutuhan berkendara di medan seperti jalur tanah atau aktivitas motor trail.
Bentuknya memiliki karakteristik berbeda dari helm jalan raya, termasuk ventilasi dan bagian pelindung yang disesuaikan dengan kebutuhan berkendara di medan berat.
Pastikan produk yang digunakan memenuhi standar keselamatan yang berlaku untuk penggunaannya.
Apa pun jenis helm yang dipilih, keberadaan standar SNI tetap perlu menjadi salah satu pertimbangan utama ketika membeli helm baru.
Pengendara juga sebaiknya memilih ukuran yang pas, memastikan tali pengikat dapat dikunci dengan benar, serta memeriksa kondisi helm secara rutin.