PURWOKERTO.SUARA.COM, CILACAP - Kajian kegempaan di laut selatan Jawa menunjukkan adanya potensi gempa megathrust berkekuatan 8,8 SR yang mampu menimbulkan tsunami setinggi 20 meter.
Kajian itu antara lain dilakukan Dr Ing Widjo Kongko. Ia mulai dikenal luas kala menyampaikan hasil kajian potensi tsunami di selatan Pulau Jawa bagian barat itu.
Perekayasa di Balai Teknologi Infrastruktur Pelabuhan dan Dinamika Pantai Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) ini membuat pemodelan bencana dengan fokus ke daerah Selatan Jawa. Dari permodelan inilah ia menemukan potensi gempa bermagnitudo 8,8 dan tsunami dengan tinggi 20 meter.
Potensi megathrust dan tsunami besar ini makin meyakinkan ketika didukung data sains dan sejarah. Berdasarkan permodelan ini, Peneliti tsunami purba dari LIPI, Eko Yulianto bahkan menemukan apa yang diyakini sebagai lapisan tsunami sekitar 400 tahun yang lalu di Selatan Jawa.
“Ada teman yang ahli Paleotsunami. Pak Eko melakukan survei dan mengambil sampel material organiknya, dan di dating menggunakan sistem karbon. Diketahui umurnya ada yang 1.000 tahun, 500 tahun, dan sebagainya” kata pria kelahiran Banyumas 1967 itu.
Peristiwa tsunami pada masa lampau, menurut Widjo juga tercatat dalam beberapa manuskrip kuno. Salah satunya seperti yang terekam dalam tembang/sekar mocopat Serat Srinata. Manuskrip-manuskrip tersebut menurutnya patut diteliti lebih mendalam secara saintis.
“Hal ini penting agar kearifan lokal ini menjadi pertimbangan pemerintah untuk merumuskan mitigasi bencana yang baik bagi suatu daerah,” ujar Widjo saat berkunjung ke kantor Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten Cilacap, Kamis 22 September 2022 untuk berbagi kisah mengenai pengalamannya mengkaji berbagai permodelan tsunami.
Pria yang pernah menjadi peneliti senior pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini menjelaskan, zona megathrust bukanlah hal baru karena sudah ada saat terbentuknya rangkaian busur kepulauan Indonesia jutaan tahun lalu.
Tak hanya di selatan Jawa, zona megathrust sendiri berada di berbagai zona subduksi aktif yang meliputi subduksi Sunda mencakup Sumatera, Jawa, Bali, Lombok, dan Sumba. Ada pula Subduksi Banda, Subduksi Lempeng Laut Maluku, Subduksi Sulawesi, Subduksi Lempeng Laut Filipina dan Subduksi Utara Papua.
Widjo menyarankan, pemerintah perlu memperbaiki sistem peringatan dini tsunami, terutama untuk tsunami non tektonik. Ia juga menggarisbawahi mitigasi bencana terpadu untuk mengurangi dampak dan risiko yang timbul. Di sisi lain, media juga harus membuat pemberitaan yang proporsional untuk mengedukasi masyarakat.
Baca Juga: Bukan Ulah Teroris, Barang Bukti Bahan Petasan yang Meledak Hasil Razia Tahun 2021
“Bagaimanapun kita harus selalu siap. Potensi tetap ada. Tidak perlu panik, tapi kita perlu tumbuhkan kembali kearifan lokal untuk membuat program literasi dan mitigasi untuk evakuasi mandiri,” ujarnya.
Namun tak semua orang merespons temuannya secara positif. Alih-alih mengantisipasi dengan kesiapsiagaan, kajian tersebut malah dinilai meresahkan hingga berujung ke laporan kekepolisian. Namun semua ia hadapi dengan data dan kajian ilmiah.