-
Fiandra Reja raih P4 overall Junior GP-0 160cc 2026 dalam debutnya selama lima bulan.
-
Cetak tiga podium di Boyolali dan Mijen meski berawal dari nol pengalaman bermotor.
-
Proyeksi musim 2027 fokus pada peningkatan konsistensi menuju kompetisi kelas FIM yang lebih ketat.
Suara.com - Dunia balap motor Tanah Air kembali dikejutkan oleh lahirnya talenta muda yang berani melawan logika. Bayangkan saja, seseorang yang belum pernah memuntir selongsong gas sama sekali, tiba-tiba menjelma menjadi ancaman nyata di lintasan sirkuit nasional.
Kisah luar biasa ini datang dari Fiandra Reja, pembalap bernomor start #12 yang bernaung di bawah bendera Bali Queen Racing Team.
Hanya dalam waktu lima bulan sejak pertama kali belajar menjaga keseimbangan di atas roda dua, ia langsung diterjunkan ke kerasnya aspal kompetisi.
Hebatnya, ajang yang diikutinya bukanlah kompetisi sembarangan, melainkan kelas bergengsi Junior GP-0 160cc musim 2026 yang menuntut teknik cornering serta kontrol traksi tingkat tinggi.
Logika umumnya mengatakan, seorang debutan butuh adaptasi bertahun-tahun untuk sekadar mampu finis di barisan tengah dan menghindari insiden.
Namun, Fiandra justru membalikkan semua teori tersebut dengan langsung menusuk ke papan atas dan mengobrak-abrik dominasi pembalap yang jauh lebih senior.

"125 Poin, 3 Podium, dan P4 Overall di musim perdana! Bukti nyata bahwa mentalitas petarung di sirkuit sama pentingnya dengan performa mesin 160cc yang dipacu ke batas maksimal."
Perjalanan balap Fiandra di musim ini benar-benar menyajikan grafik performa layaknya mesin yang terus meroket tajam.
Mengawali putaran pertama di sirkuit Boyolali, ia tampil solid dengan menyentuh garis finis di posisi kelima.
Tidak butuh waktu lama untuk menemukan racing line terbaiknya, putaran kedua langsung dibabat dengan raihan podium ketiga.
Puncak pembuktian skill berkendaranya tersaji pada putaran ketiga di Mijen.
Di lintasan teknikal tersebut, bukaan gas yang ia eksekusi semakin presisi hingga sukses mengamankan posisi kedua.

Kecepatan dan agresivitasnya dalam menaklukkan tikungan tajam mulai mendapat sorotan serius dari tim-tim rival.
Tentu saja, DNA balap motor selalu penuh dengan risiko dan limitasi aspal. Pada putaran keempat, Fiandra sempat mengalami insiden yang memaksanya gagal finis.
Namun, momen tersebut justru menjadi pelajaran krusial mengenai pentingnya throttle control dan ketenangan saat berduel rapat (dogfight).
Mentalitasnya teruji mutlak ketika ia berhasil comeback dan kembali mengunci podium ketiga pada putaran kelima.
Sentuhan dingin Alvin Chandra bersama Bali Queen Racing Team menjadi kunci utama di balik set-up motor yang optimal dan pembinaan fundamental balap Fiandra.
Menatap musim 2027, tantangan sesungguhnya diproyeksikan bergeser ke kelas FIM yang menuntut kesempurnaan teknis, race pace yang konsisten, serta insting balap yang jauh lebih matang.