Paparan Vitiligo Terbanyak di Usia Dibawah 20 Tahun dan Anak

Tantrum Suara.Com
Selasa, 21 Juni 2022 | 19:13 WIB
Paparan Vitiligo Terbanyak di Usia Dibawah 20 Tahun dan Anak
Armin Rimoldi/Pexels

TANTRUM - Penyakit vitiligo atau corob dalam bahasa Sunda terbanyak terjadi di usia kurang dari 20 tahun dan anak - anak.

Berasarkan data dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski), besarannya 50 persen di usia kurang 20 tahun dam 60 persen anak - anak.

Apabila vitiligo muncul pertama kali pada masa kanak-kanak disebabkan karena faktor genetik yang berhubungan dengan autoimun. 

Penyebabnya kata Reiva Farah Dwiyana, Kepala Divisi Dermatologi Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, karena 20 - 30 persen pasien autoimun memiliki gen yang saling terkait dan akan memengaruhi timbulnya penyakit autoimun lain, baik pada pasien itu sendiri maupun pada keturunannya.

"Apakah penyakit autoimun itu ? Penyakit autoimun termasuk penyakit yang mulai popular di masyarakat awam dengan merebaknya penyakit lupus. Penyakit autoimun terjadi karena kesalahan sistem kekebalan tubuh (imunologi) dalam mengenal bagian tubuhnya sendiri dengan menganggap sebagai musuh dan akhirnya diserang hingga timbul penyakit," ujar Reiva ditulis, Selasa, 21 Juni 2022.

Reiva menerangkan pada vitiligo yang dianggap musuh adalah melanosit. Penyakit autoimun yang sering terjadi bersamaan dengan vitiligo ialah hipotiroid, diabetes melitus tipe 1, dan lainnya yang sejenis.

Selain karena autoimun lanjut Reiva, vitiligo juga bisa disebabkan karena zat kimia, stres-oksidatif dan gangguan neurokimia. 

Penyakit ini terjadi 0,5 - 2 persen pada populasi di seluruh dunia, yang secara angka cukup tinggi.

"Vitiligo merupakan kelainan pigmentasi kulit yaitu hilangnya sel  penghasil pigmen (melanosit) karena berbagai hal yang menyebabkan tidak terbentuknya zat warna (pigmen) sehingga kulit pasien vitiligo akan tampak putih seperti kapur atau susu, yang disebut dengan depigmentasi," kata Reiva.

Vitiligo merupakan penyakit kekurangan pigmen yang didapat (acquired depigmentation disorder) yang terbanyak di antara penyakit hipopigmentasi lainnya. 

Berbeda dengan albino yang bersifat diturunkan (inheridited), vitiligo tidak diturunkan secara langsung, namun ada faktor genetik yang memengaruhinya.

Penyakit ini tidak menular, tidak berbahaya, tidak menimbulkan kematian, dan kaitannya dengan penyakit sistemik non-autoimun masih diselidiki.

Namun, karena bentuk kelainan kulit yang khas dan mencolok mata, terutama bila di daerah yang terekspos misalnya wajah dan tangan, serta perjalanan penyakit yang cenderung cepat dan progresif, maka vitiligo acapkali membuat resah penderita dan keluarganya.

"Hal ini menimbulkan kekhawatiran, perasaan minder, malu, menarik diri dari lingkungan, yang berujung dengan penurunan kualitas hidup," terang Reiva.

Saat ini pengobatan vitiligo yang cukup efektif ialah dengan obat yang dioles, fototerapi, serta obat yang diminum sebagai tambahan. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI