Mengenal Hotspot Hujan di Jabar, Simak Penjelasan Ilmiah Fenomena dari Peneliti

Tantrum

Selasa, 18 Oktober 2022 | 07:43 WIB
Mengenal Hotspot Hujan di Jabar, Simak Penjelasan Ilmiah Fenomena dari Peneliti
Penampakan banjir 1,2 meter di Kolong Tol Meruya Utara, Jakarta Barat setelah hujan deras. (Foto: BPBD DKI)

TANTRUM - Hujan hampir setiap hari terjadi dan bersifat persisten atau berlanjut dari siang hingga malam hari bahkan tengah malam di sejumlah kawasan di Jawa bagian barat.

Mengapa hujan masih intensif terjadi setiap hari di wilayah Jawa bagian barat sepanjang bulan Oktober 2022? Kawasan Jawa Barat yang dimaksud termasuk wilayah Banten dan Jabodetabek.

Padahal kata Peneliti klimatologi dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, di belahan bumi utara Samudra Pasifik, saat ini terbentuk setidaknya empat rangkaian bibit siklon tropis. 

"Dampakya menarik awan-awan konvektif di atas wilayah Indonesia sehingga sebagian besar wilayah di selatan dan tenggara Indonesia saat ini minim awan," ujar Erma, ditulis Selasa, 18 Oktober 2022.

Menurut Erma, minimnya awan tidak menyebabkan frekuensi hujan harian menjadi berkurang untuk wilayah Jawa Barat. Hal ini terjadi karena terdapat beberapa lokasi yang menjadi hotspot hujan di Jawa Barat. 

Hotspot hujan merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan bahwa pada lokasi tersebut  titik permulaan hujan terbentuk sekaligus bersifat menjalarkan atau meluaskan hujan ke wilayah-wilayah lain di sekitarnya.

Seperti diketahui, wilayah Jawa Barat bagian selatan merupakan dataran tinggi yang terdiri dari banyak gunung. 

"Topografi pegunungan di selatan Jabar inilah saat ini yang memiliki peran menjadi hotspot hujan dengan penguatan yang signifikan dalam menghasilkan hujan yang memanjang dan meluas ke utara," kata Erma. 

Berdasarkan pantauan terhadap data hujan dari Satellite-Based Disaster Early Warning System (SADEWA) resolusi tinggi (1 km), terdapat setidaknya empat hotspot utama hujan di Jawa Barat, yaitu Gunung Salak, Gunung Gede Pangrango, Gunung Burangrang, dan Gunung Tangkuban Parahu. 

baca juga

Gunung Salak dan Gede menjadi hotspot hujan yang berperan dalam menghasilkan hujan dan segera bermigrasi atau meluas ke utara yaitu ke wilayah Bogor, Sukabumi, dan Cianjur. 

Tak jarang hujan yang dihasilkan dari kedua gunung tersebut mengalami penggabungan sehingga membentuk suatu sistem badai yang besar dan luas. 

"Ketika badai tersebut menjalar ke utara (Depok dan Jakarta), sistem tersebut kembali bergabung dengan hujan dari pesisir barat Banten sehingga menimbulkan perluasan dan penggandaan sel hujan. Inilah yang membuat hujan persisten (menerus) hingga malam hari," jelas Erma.

Demikian pula yang terjadi dengan hotspot hujan Burangrang dan Tangkuban Parahu yang juga berperan dalam perluasan area hujan peningkatan intensitas dan durasi bagi hujan di wilayah Purwakarta dan Bandung. 

Hujan di Purwakarta sering meluas dan menjalar menuju Karawang, Cikarang, bahkan hingga ke Pamanukan. 

Sementara itu, hujan dari hotspot Tangkuban memodulasi hujan di Bandung yang dapat mengalami perluasan hingga wilayah di Cimahi, Padalarang, Cileunyi, dan selatan Bandung. 

"Hal ini membuat Bogor dan Bandung berpotensi menjadi dua wilayah di dekat pegunungan yang saat ini mengalami hujan terus menerus dan tak jarang sedang hingga lebat karena efek aliran hujan dari pegunungan terdekat yang menjadi hotspot hujan," ucap Erma.
 
Untuk kondisi yang minim awan di selatan Indonesia pun, hotspot utama tersebut tetap berperan penting dalam mengonsentrasikan dan mendistribusikan hujan di Jawa Barat. 

Caranya yaitu dengan meningkatkan intensitas hujan dari hujan ringan atau sedang menjadi hujan lebat melalui pembentukan awan konvektif kuat (deep convective cloud) yang berpotensi membangkitkan badai. 

Selain itu, pegunungan tersebut juga berperan dalam memicu gelombang gravitas di atmosfer sehingga penjalaran hujan terjadi lebih cepat, yang memungkinkan penggabungan banyak sel-sel hujan menjadi satu sistem badai berskala meso atau radius puluhan hingga kurang dari 100 km.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Terungkap di Dakwaan, Tembakan Penghabisan Ferdy Sambo ke Yosua

Terungkap di Dakwaan, Tembakan Penghabisan Ferdy Sambo ke Yosua

Tantrum | Selasa, 18 Oktober 2022 | 07:03 WIB

Awas Potensi Hujan di Seluruh Jawa Barat

Awas Potensi Hujan di Seluruh Jawa Barat

Tantrum | Selasa, 18 Oktober 2022 | 06:03 WIB

Aksi Heroik Kompol Rosana, Wanda Hamidah Haturkan Terima Kasih

Aksi Heroik Kompol Rosana, Wanda Hamidah Haturkan Terima Kasih

Tantrum | Selasa, 18 Oktober 2022 | 05:43 WIB

Terkini

Tipu Pengelola SPPG, Oknum ASN Lampung Timur Masuk Bui

Tipu Pengelola SPPG, Oknum ASN Lampung Timur Masuk Bui

Lampung | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:45 WIB

Prancis Samakan AS dengan Korut, Anak Buah Trump Walk Out dari Sidang DK PBB

Prancis Samakan AS dengan Korut, Anak Buah Trump Walk Out dari Sidang DK PBB

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:43 WIB

Apa Itu Makeup Vegan? Ini Penjelasan dan Rekomendasi dari Merek Lokal

Apa Itu Makeup Vegan? Ini Penjelasan dan Rekomendasi dari Merek Lokal

Lifestyle | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:42 WIB

Naik Transum, Aku Belajar Jatuh Cinta dengan Jakarta

Naik Transum, Aku Belajar Jatuh Cinta dengan Jakarta

Your Say | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:38 WIB

Rupiah Hari Ini Anjlok ke Rp18.063 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah di Asia

Rupiah Hari Ini Anjlok ke Rp18.063 per Dolar AS, Jadi Mata Uang Terlemah di Asia

Bisnis | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:37 WIB

Dari Motor ke KRL: Langkah Kecil Anak Rantau untuk Bumi yang Lebih Baik

Dari Motor ke KRL: Langkah Kecil Anak Rantau untuk Bumi yang Lebih Baik

Your Say | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:36 WIB

Paham Prosedur TPPU, Eks Jampidsus Febrie Tanya Kejagung: Apa Tindak Pidana Asal Kasus Saya?

Paham Prosedur TPPU, Eks Jampidsus Febrie Tanya Kejagung: Apa Tindak Pidana Asal Kasus Saya?

News | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:34 WIB

KPK Periksa Plt Gubri SF Hariyanto Terkait Temuan Uang di Rumah Dinasnya

KPK Periksa Plt Gubri SF Hariyanto Terkait Temuan Uang di Rumah Dinasnya

Riau | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:34 WIB

Hattrick Lawan Kamboja, Mitchell Baker Ungkap Peran Besar Orang di Balik Layar

Hattrick Lawan Kamboja, Mitchell Baker Ungkap Peran Besar Orang di Balik Layar

Bola | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:34 WIB

Warga NTB Mulai Krisis Air Bersih

Warga NTB Mulai Krisis Air Bersih

Bali | Selasa, 28 Juli 2026 | 09:32 WIB

×