tantrum

Awak Media Mesti Waspada 'Black Campaign' Industri AMDK

Tantrum Suara.Com
Senin, 19 Juni 2023 | 14:43 WIB
Awak Media Mesti Waspada 'Black Campaign' Industri AMDK
Ilustrasi galon guna ulang (Istimewa)

TANTRUM - Diskusi media Klub Jurnalis Ekonomi Jakarta (KJEJ) bertema 'Menyikapi Hoax dan Negative Campaign Dalam Persaingan Bisnis AMDK' di Jakarta, Kamis (15/6/2023), mendesak media massa untuk lebih peka dalam mendeteksi black campaign yang menyasar brand air minum kemasan tertentu, termasuk salah satunya Le Minerale, brand lokal yang belakangan hadir sebagai brand challenger alias penantang pasar. 

Tampil sebagai pembicara dalam diskusi, Kepala Center For Entrepreneurship, Tourism, Information and Strategy Pascasarjana Universitas Sahid, Algooth Putranto, menilai media saat ini belum maksimal dalam menyajikan berita terkait isu Air Minum Dalam Kemasan (AMDK) galon, utamanya dari aspek kesehatan maupun aspek lingkungan hidup. 

Dia mencontohkan masih minimnya pemberitaan yang komprehensif terkait risiko Bisfenol A (BPA) pada galon guna ulang. 

“Misalnya, jika regulator mengatakan BPA pada galon polikarbonat aman asalkan sesuai dengan kriteria Standar Nasional Indonesia (SNI), media seharusnya aktif menggali dasar pernyataan tersebut. Ini perlu dilakukan karena di Eropa dan Amerika, sejak lama sudah ada peringatan dan bahkan larangan dari orotitas keamanan pangan atas kemasan pangan yang berisiko mengandung BPA,” katanya. 

BPA adalah senyawa kimia yang dapat memicu kanker, gangguan hormonal dan kesuburan pada pria dan wanita, serta gangguan tumbuh kembang janin dan anak. Jamak digunakan sebagai bahan baku produksi galon guna ulang, senyawa tersebut diketahui mudah luruh dari kemasan galon dan rawan terminum oleh konsumen hingga ke level yang melebihi ambang batas aman. Risiko inilah yang mendorong Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyiapkan sebuah regulasi pelabelan risiko BPA untuk mengantisipasi dampak kesehatan publik di masa datang.

Menurut Algooth, media bisa berkontribusi dalam pendidikan publik terkait risiko BPA dengan mengangkat sisi keekonomian produksi galon polikarbonat. Media, menurutnya, bisa menyajikan fakta bahwa bahan dasar galon polikarbonat sebagian besarnya impor, dengan harga US$ 4 per kilogram. Sementara untuk produksi galon dengan kemasan Polietilena Tereftalat (PET), jenis plastik yang bebas BPA, bahannya cukup tersedia di dalam negeri dengan harga hanya seperempatnya, US$ 1/Kg.

Selain itu, menurutnya, media juga bisa mengulas secara komprehensif permasalahan transportasi air minum kemasan bermerek di Indonesia. “Sejauh ini, saya lihat sebagian media juga mulai berimbang memberitakan mudarat kemasan galon polikarbonat versus PET," kata Algooth.

Lebih jauh, Algooth berharap media tuntas membuka nama produsen galon yang masih menggunakan kemasan polikarbonat yang mengandung BPA. “Jika merujuk pada UU No 40 Tahun 1999 tentang Pers , media harusnya tidak perlu takut karena ini kepentingan umum (pasal 3 dan pasal 6). Tentu harus diingat, ada hak jawab dan koreksi (pasal 1) yang harus dihormati media ketika ada pihak yang merasa perlu menggunakan hak tersebut," lanjut Algooth.

Senada dengan itu, pakar komunikasi Akhmad Edhy Aruman menuturkan bahwa pada dasarnya tidak ada perbedaan di antara produk air minum kemasan bermerek yang beredar di pasaran. Perbedaan, menurutnya, hanya ada pada iklan-iklan produk yang muncul di media. 

Baca Juga: Amerika Serikat Raih Gelar Concacaf Nations League Usai Libas Kanada 2-0

Edhy mengacu pada persaingan Le Mineral dengan market leader. Le Mineral memunculkan brand yang 'ada manis-manisnya', sedangkan pesaingnya melalui iklannya terkesan bisa membikin orang lebih fokus.

Menurut Edhy, Le Minerale sebagai sang brand challenger alias penantang pasar, tampil dengan strategi jitu bermain dengan kemasan selalu baru, baik pada produk kemasan botol maupun galon. Ini kontan membedakannya produk perusahaan dalam negeri itu dengan perusahaan asing yang menggunakan model pakai ulang pada produk galon. 

Menurut Edhy, Le Minerale berani memasarkan produknya dengan harga di atas produk market leader saingannya. Tapi langkah itu dinilai masih belum cukup. Tak ayal, Le Minerale mencari diferensiasi yang lain.

Selama ini bisnis AMDK didominasi kemasan plastik jenis Polikarbonat yang berisiko mengandung Bisfenol A (BPA). Belakangan, karena pilihan kemasan yang lebih sehat, brand lain menyusul. Dan diam-diam, di Bali dan Manado, market leader pun ikut mengkonversi kemasan galon polikarbonatnya ke galon PET bebas BPA.

"BPA memang bisa memperkuat kemasan plastik. Kalau plastik nggak ada BPA kemasannya jadi lembek. Yang jadi problem adalah adanya potensi peluruhan BPA pada galon polikarbonat yang bisa menimbulkan risiko kesehatan," ujar Edhy.

Edhy yang tercatat sebagai Dosen Komunikasi di lembaga pendidikan komunikasi berbasis Jakarta, London School of Public Relations (LSPR) memaparkan, Le Mineral dengan branding galon selalu baru dengan kemasan plastik PET yang lebih aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Satu Frekuensi Selera Musikmu dengan Pasangan?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA Kelas 12 SMA Soal Matematika dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Beneran Orang Solo Apa Bukan?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pemula atau Suhu, Seberapa Tahu Kamu soal Skincare?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA: Soal Matematika Kelas 6 SD dengan Jawaban dan Pembahasan Lengkap
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Tahu Kamu Soal Transfer Mauro Zijlstra ke Persija Jakarta? Yuk Uji Pengetahuanmu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Fun Fact Nicholas Mjosund, Satu-satunya Pemain Abroad Timnas Indonesia U-17 vs China
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 10 Soal Matematika Materi Aljabar Kelas 9 SMP dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan John Herdman? Pelatih Baru Timnas Indonesia
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Otak Kanan vs Otak Kiri, Kamu Tim Kreatif atau Logis?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI