Momen tiga bacapres (bakal calon presiden) di acara "3 Bacapres Bicara Gagasan" gagasan Mata Najwa dan Universitas Gadjah Mada jadi sorotan. Salah satunya adalah momen Prabowo Subianto menolak untuk refleksi diri di depan cermin.
Prabowo Subianto bersama dua bacapres lain, Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo, secara terpisah diminta merefleksikan diri di depan cermin besar yang sudah disiapkan. Semuanya sesuai perintah Najwa Shihab selaku pemandu acara.
Anies Baswedan dan Ganjar Pranowo dengan tenang memenuhi permintaan tersebut. Namun sikap berbeda ditunjukkan oleh Prabowo Subianto yang justru menolak untuk merefleksikan diri.
Sikap Prabowo Subianto ini lantas dikomentari oleh psikolog, Hanna Rahmi. Dia menilai sikap tersebut dilakukan karena Prabowo denial dan punya ketakutan gagal seperti sebelumnya.
"Kita lihat kalau dari beberapa kali kegagalannya gitu, ada kecenderungannya untuk denial," ucap Hanna Rahmi, dikutip dari Mamagini---jaringan Suara.com pada Kamis (21/9/2023).
Menurut akademisi di Universitas Bhayangkara ini, alasan penolakan tersebut bisa dilatarbelakangi kegagalannya di masa lalu. Sehingga dia khawatir dikesankan mengkhayal terlalu tinggi atau halu.
"Jadi kekhawatiran dia untuk dikatakan gagal. Jadi kalau misalnya gagal dia enggak kepengin melihat apa yang menjadi faktor kegagalanku, nah itu ada yang kecenderungannya seperti itu," kata Hanna Rahmi lagi.
Lebih lanjut, Hanna Rahmi menyebutkan bahwa Prabowo masih memperlihatkan dirinya yang tertutup. Dia juga menilai ada kekhawatiran yang disimpan oleh Prabowo kala itu.
"Paling kaya tentu karena sudah paling senior. Tapi kemudian ada yang bagian direject (ditolak) dan ingin dipercepat. Ada satu kekhawatiran 'Jangan-jangan ini kaya dari sesuatu' itu (Prabowo) punya kekhawatiran seperti itu," jelasnya.
Baca Juga: Lima Purnawirawan Jenderal Bertamu ke Rumah Dinasnya, Cak Imin Pasang Muka Serius
Tak hanya denial, kata Hanna, bacapres Prabowo juga menunjukkan sikap blocking dan boundaries atas dirinya. Dia seolah enggan orang lain mengetahui lebih banyak tentang dirinya, terutama soal kekurangan dan kelemahannya.
"Kenapa tidak mau bercermin, kalau untuk diri sendiri enggak masalah. Tapi dia blocking di situ. Dia enggak kepengin orang lain tahu. Menutupi, jadi jangan sampai orang itu tahu apa yang menjadi kekurangan, kelemahan," tutur Hanna Rahami.
"Orang dengan karakter seperti itu, dia cenderung ya sudah pokoknya saya bantu tapi enggak perlu tahu bantuannya apa, dari mana. Dia punya kekhawatiran, jadi dia sudah menganulir sehingga enggak perlu sampai ke dalam sana," pungkasnya. (Elza)