Seketika itu pula mata Sulastri mulai terasa perih.
Benda itu gas air mata yang ditembakkan aparat dari pinggir lapangan.
Saking perihnya, Sulastri tak bisa membuka mata.
Pada kesempatan terakhir melihat, ia menggamit tangan Wahyudi.
“Pegangan semua, pegangan,” perintah Wahyudi.
Wahyudi berada paling depan. Kemudian diikuti Sulastri, menantu, cucu, dan ketiga keponakannya.
Dari sekitar tangga, persisnya di tribun nomor 12, Aremania lainnya banyak berteriak ketakutan.
Aparat menembaki mereka memakai gas air mata.
Demi menyelamatkan diri, penonton bergegas ke tangga menuju pintu 12.
Saat itu Wahyudi sekeluarga harus melawan arus massa untuk sampai ke gerbang.
Ratusan orang berdesak-desakan, mencari jalan keluar.
Tapi, pintu 12 hanya dibuka satu sisi.
Wahyudi mencari cara agar bisa menyelamatkan keenam anggota keluarganya.
Sembari terus berpegangan tangan, mereka menyeruak mendekati pintu.
Sementara dorongan Aremania dari arah belakang semakin kuat.
Tak ayal, pegangan Wahyudi dengan keenam keluarganya terlepas.
Sulastri terombang-ambing di tengah massa yang berdesak-desakkan.
Ia terdorong ke sana-ke mari oleh suporter yang juga ingin selamat.
Dada Sulastri semakin sesak, kedua matanya tak bisa melihat karena perih.
Dalam hati, ia hanya pasrah bila harus mati di pintu 12. Setelahnya, dia tak sadarkan diri.
Ketika siuman, Sulastri justru harus menerima kabar buruk, suaminya tewas.
Sementara cucu, menantu, dan ketiga keponakannya berhasil keluar selamat dari stadion.
“Bapak meninggal demi menyelamatkan kami dan cucunya," kata Sulastri, Senin 3 Oktober.
Suaranya masih parau. Sulastri bersama belasan penyintas tragedi Kanjuruhan larut dalam kesedihan yang sama di kantor Kecamatan Lowokwaru, Kota Malang, saat mengenang peristiwa tersebut.