Seketika itu pula mata Sulastri mulai terasa perih.
Benda itu gas air mata yang ditembakkan aparat dari pinggir lapangan.
Saking perihnya, Sulastri tak bisa membuka mata.
Pada kesempatan terakhir melihat, ia menggamit tangan Wahyudi.
“Pegangan semua, pegangan,” perintah Wahyudi.
Wahyudi berada paling depan. Kemudian diikuti Sulastri, menantu, cucu, dan ketiga keponakannya.
Dari sekitar tangga, persisnya di tribun nomor 12, Aremania lainnya banyak berteriak ketakutan.
Aparat menembaki mereka memakai gas air mata.
Demi menyelamatkan diri, penonton bergegas ke tangga menuju pintu 12.
Saat itu Wahyudi sekeluarga harus melawan arus massa untuk sampai ke gerbang.
Ratusan orang berdesak-desakan, mencari jalan keluar.
Tapi, pintu 12 hanya dibuka satu sisi.
Wahyudi mencari cara agar bisa menyelamatkan keenam anggota keluarganya.
Sembari terus berpegangan tangan, mereka menyeruak mendekati pintu.
Sementara dorongan Aremania dari arah belakang semakin kuat.