Pulau Flores dan Misteri Tubuh-tubuh yang Menyusut

Liberty Jemadu

Sabtu, 04 Agustus 2018 | 12:49 WIB
Pulau Flores dan Misteri Tubuh-tubuh yang Menyusut
Goa Liang Bua, lokasi penemuan manusia hobbit yang selanjutnya diberinama Homo Floresiensis. (Dok Pribadi)

Tetapi kelompok lain mengatakan bahwa Homo floresiensis berasal dari cabang lain dalam pohon keluarga manusia, berkembang dari spesies Homo erectus yang fosil-fosilnya banyak ditemukan di Jawa.

Pada 2007 Herawati Sudoyo, pakar genetik dari Eijkman Institute, Bandung membawa beberapa sampel Homo floresiensis ke Green, yang ketika itu masih bekerja untuk Max Planck Institute for Evolutionary Anthopology di Jerman.

Tetapi sayangnya Green dan timnya tak berhasil memperoleh DNA dari fosil-fosil itu.

"Kami sama sekali kebingungan," aku Green.

Orang-orang Rampasasa

Beberapa tahun kemudian, Green dkk membuat dua penemuan penting. Pertama mereka menemukan bahwa manusia modern dan manusia purba Eropa, Neanderthals, pernah berkawin-mawin. Sekitar 1 persen dari DNA manusia modern di luar Afrika berasal dari manusia purba yang telah punah itu.

Kedua, mereka menemukan satu cabang baru hominin yang dinamai Denisovan, yang juga ternyata pernah berkawin silang dengan manusia modern. Jejak DNA Denisovan banyak ditemukan di orang-orang Asia Timur, Australia, dan Pasifik Selatan.

Dalam sebuah konferensi sains tahun 2012, Green dan Sudoyo kembali bertemu. Dalam kesempatan itu mereka membahas tentang Homo floresiensis dan menyadari bahwa mungkin mereka sama sekali tak perlu mencari DNA dari manusia purba Flores tersebut.

Mereka menduga, bahwa orang-orang di Rampasasa merupakan keturunan dari Homo floresiensis dan karenanya masih membawa DNA dari manusia purba tersebut.

Pada 2013 mereka terbang ke Flores dan bertamu ke Rampasasa. Mereka, dengan izin tetua adat setempat, mengambil sampel ludah dari 32 warga desa.

Di saat bersamaan, ilmuwan lain melakukan analisis ulang terhadap fosil Homo floresiensis. Hasilnya mengejutkan, karena diketahui bahwa usia fosil tersebut ternyata lebih tua, yakni sekitar 60.000 tahun.

Penemuan itu membantah teori sebelumnya yang menyebutkan bahwa manusia modern - yang diperkirakan mulai menginjakkan kaki di Flores sekitar 50.000 tahun silam - pernah hidup berdampingan bersama Homo floresiensis di pulau purba itu selama puluhan ribu tahun.

Sampel DNA orang Rampasasa itu kemudian diserahkan kepada Serena Tucci, seorang peneliti yang kini bekerja di Princeton University, AS. Mereka lalu membandingkannya dengan DNA manusia dari seluruh dunia.

Hasilnya ditemukan bahwa orang Rampasasa memiliki sangat sedikit DNA Neanderthal atau Denisovan. Sementara ada sebagian lain DNA orang Rampasasa yang sama sekali tak mirip dengan DNA manusia modern, Neanderthal, atau Denisovan.

Tucci menyimpulkan bahwa orang-orang Rampasasa bukan keturunan Homo floresiensis.

"Saya tak kecewa, karena hasil analisis ini sangat menarik karena alasan-alasan lain," kata Tucci.

Orang-orang Rampasasa bertubuh kecil bukan karena mereka diwarisi DNA Homo floresiensis, jelas Tucci. Nenek moyang mereka diyakini bertubuh lebih tinggi.

Tubuh-tubuh yang menyusut

Tetapi pada satu titik setelah mereka datang ke Flores, tubuh mereka menyusut - sama seperti yang terjadi pada Homo floresiensis. Tetapi di Flores, mereka bukan satu-satunya mamalia yang tubuhnya menyusut.

Gajah Flores yang termasyur tapi kini sudah punah, juga dikenal memiliki tubuh kerdil. Tinggi gajah-gajah Flores hanya setara dengan pundak manusia dewasa. Jika melihat gajah lain di Asia Tenggara, nenek moyang gajah-gajah itu diyakini tadinya bertubuh besar.

Tubuh yang berubah menjadi kerdil memang bukan hal aneh. Orang-orang pigmi - yang bertubuh pendek - juga ada di Filipina, Kepulauan Andaman di Samudera Hindia, Afrika, atau Amerika Selatan.

Perubahan tubuh mamalia menjadi kecil juga bisa dilihat pada anjing. Perubahan pada sebuah gen yang bernama IGF1 diketahui menyebabkan tubuh anjing menjadi mungil. Ini menjelaskan mengapa ada anjing raksasa seperti Great Danes dan ada pula Chihuahua yang imut.

Tetapi yang terjadi di Flores sama sekali berbeda. Pada orang-orang Rampasasa ditemukan banyak gen yang diketahui bisa mengurangi tinggi badan. Diduga ini terjadi karena tuah seleksi alam.

"Hal ini sesuai dengan penelitian kami tentang orang-orang pigmi Afrika," kata Ryan Gutenkunst,ilmuwan dari Universitas Arizona, AS.

"Ketika terjadi seleksi alam terhadap ukuran tubuh, respon tubuh ditentukan oleh variasi-variasi dalam banyak gen," lanjut dia.

Salah satu teori, jelas para ilmuwan, yang bisa menjelaskan misteri tubuh-tubuh yang menyusut di Flores berkaitan dengan ketesediaan sumber daya makanan. Pulau Flores diduga memiliki sumber makanan yang sedikit sehingga para penghuninya dipaksa untuk beradaptasi dengan kondisi itu.

Tubuh yang menyusut diyakini sebagai respon tubuh terhadap tekanan alam di Pulau Flores. Tubuh yang lebih kecil butuh tak banyak kalori, dan apa gunanya mempertahankan ukuran tubuh besar jika tak mampu mempertahankan kelestarian spesies?

"Apa pun faktor ekologi yang menyebabkan kekerdilan, faktor-faktor itu tersedia sangat banyak di Pulau Flores. Itulah yang membuatnya sangat menarik," pungkas Green. (New York Times)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Perubahan Iklim dan Letusan Gunung Jadi Penyebab Punahnya Hobbit Flores

Perubahan Iklim dan Letusan Gunung Jadi Penyebab Punahnya Hobbit Flores

Tekno | Rabu, 10 Desember 2025 | 13:47 WIB

Rahasia Perbedaan Wajah Neanderthal dan Manusia Modern Akhirnya Terungkap

Rahasia Perbedaan Wajah Neanderthal dan Manusia Modern Akhirnya Terungkap

Tekno | Minggu, 16 November 2025 | 11:36 WIB

Sulawesi Mengubah Sejarah Migrasi Manusia Purba

Sulawesi Mengubah Sejarah Migrasi Manusia Purba

Tekno | Rabu, 13 Agustus 2025 | 06:18 WIB

Lamine Yamal Diduga Sewa Manusia Kerdil di Pesta Ulang Tahunnya, Terancam Investigasi

Lamine Yamal Diduga Sewa Manusia Kerdil di Pesta Ulang Tahunnya, Terancam Investigasi

Bola | Selasa, 15 Juli 2025 | 12:15 WIB

Museum Bukuran Jadi Pusat Konservasi Fosil dan Benda Purbakala

Museum Bukuran Jadi Pusat Konservasi Fosil dan Benda Purbakala

Foto | Kamis, 10 Juli 2025 | 19:57 WIB

DNA Manusia Purba dari Afrika Utara Ungkap Sejarah Tersembunyi Gurun Sahara, Apa Itu?

DNA Manusia Purba dari Afrika Utara Ungkap Sejarah Tersembunyi Gurun Sahara, Apa Itu?

News | Selasa, 08 April 2025 | 22:46 WIB

Apakah Manusia Prasejarah Benar-Benar Tinggal di Gua?

Apakah Manusia Prasejarah Benar-Benar Tinggal di Gua?

Tekno | Kamis, 23 Januari 2025 | 16:45 WIB

Siapakah Manusia Hobbit Purba di Indonesia?

Siapakah Manusia Hobbit Purba di Indonesia?

Tekno | Kamis, 19 Desember 2024 | 11:22 WIB

Museum Manusia Purba Sangiran, Destinasi Wisata Edukatif yang Diakui UNESCO

Museum Manusia Purba Sangiran, Destinasi Wisata Edukatif yang Diakui UNESCO

Your Say | Rabu, 18 Desember 2024 | 18:45 WIB

Apakah Neanderthal dan Homo Sapiens Spesies yang Sama?

Apakah Neanderthal dan Homo Sapiens Spesies yang Sama?

Tekno | Senin, 16 Desember 2024 | 15:53 WIB

Terkini

38 Kode Redeem FF Terbaru 31 Mei 2026: Klaim Cepat SG2 Golden dan MP40 Cobra

38 Kode Redeem FF Terbaru 31 Mei 2026: Klaim Cepat SG2 Golden dan MP40 Cobra

Tekno | Minggu, 31 Mei 2026 | 07:22 WIB

Terpopuler: HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik, Fenomena Langka Blue Moon pada 31 Mei 2026

Terpopuler: HP Samsung Rp2 Jutaan Terbaik, Fenomena Langka Blue Moon pada 31 Mei 2026

Tekno | Minggu, 31 Mei 2026 | 06:50 WIB

Snapdragon C Resmi Diumumkan, Prosesor Baru Qualcomm untuk Laptop Murah, Baterai Tahan Seharian

Snapdragon C Resmi Diumumkan, Prosesor Baru Qualcomm untuk Laptop Murah, Baterai Tahan Seharian

Tekno | Sabtu, 30 Mei 2026 | 19:20 WIB

Viral Game Simulasi Kereta Buatan Indonesia Banjir Pujian di Jepang, Grafis Menawan!

Viral Game Simulasi Kereta Buatan Indonesia Banjir Pujian di Jepang, Grafis Menawan!

Tekno | Sabtu, 30 Mei 2026 | 17:51 WIB

Deretan Fitur Ugreen EchoBuds Magic, Lengkap dengan Kelebihan dan Kekurangannya

Deretan Fitur Ugreen EchoBuds Magic, Lengkap dengan Kelebihan dan Kekurangannya

Tekno | Sabtu, 30 Mei 2026 | 16:09 WIB

Asus TUF Gaming F16 dan A16 Resmi Pakai RTX 50-Series, Tangguh Berstandar Militer

Asus TUF Gaming F16 dan A16 Resmi Pakai RTX 50-Series, Tangguh Berstandar Militer

Tekno | Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:19 WIB

Tablet Apa yang Cocok untuk Pelajar? 5 Pilihan Tab Rp1 Jutaan dengan Spek Dewa dan Baterai Badak

Tablet Apa yang Cocok untuk Pelajar? 5 Pilihan Tab Rp1 Jutaan dengan Spek Dewa dan Baterai Badak

Tekno | Sabtu, 30 Mei 2026 | 15:15 WIB

India 'Buang Muka' dari Sawit Indonesia, Harga Referensi CPO Juni 2026 Terkoreksi 1,91 Persen

India 'Buang Muka' dari Sawit Indonesia, Harga Referensi CPO Juni 2026 Terkoreksi 1,91 Persen

Tekno | Sabtu, 30 Mei 2026 | 14:08 WIB

Redmi Headphones Neo Lolos Sertifikasi Komdigi, Usung Hi-Res dan Baterai Tahan Lama

Redmi Headphones Neo Lolos Sertifikasi Komdigi, Usung Hi-Res dan Baterai Tahan Lama

Tekno | Sabtu, 30 Mei 2026 | 13:33 WIB

Hacker Gunakan Kode QR Teks untuk Kelabuhi Email Security, Ini Cara Kerjanya

Hacker Gunakan Kode QR Teks untuk Kelabuhi Email Security, Ini Cara Kerjanya

Tekno | Sabtu, 30 Mei 2026 | 13:13 WIB