Pakar Neurosains: Like di Media Sosial adalah Candu

Liberty Jemadu Suara.Com
Jum'at, 19 Oktober 2018 | 21:23 WIB
Pakar Neurosains: Like di Media Sosial adalah Candu
Like Facebook. [Shutterstock]

Suara.com - Respons di media sosial dalam bentuk Like bisa semakin membuat ketagihan para pengguna media sosial, demikian kata ilmuwan yang juga Kepala Pusat Neurosains Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka (Uhamka), Rizki Edmi Edison PhD.

"Era internet dan berkembangnya media sosial membawa fenomena baru. Banyak orang ketagihan mendapat Like di media sosial dan berkorban banyak untuk mendapatkan respons tersebut," kata Rizki kepada Antara, Jumat (19/10/2018).

Ia mencontohkan, banyak orang yang sengaja bepergian ke berbagai negara, mencari restoran mahal, mengenakan barah mewah untuk kemudian difoto lalu diunggah di Facebook atau Instagram dan akhirnya mendapatkan Like.

"Respons Like itu jadi kepuasan diri yang membuat ketagihan. Padahal sebenarnya bisa jadi kondisi keuangannya pas-pasan," katanya.

Ketika seseorang pertama kali mengunggah foto di media sosial dan mendapat Like dari lima orang, ujarnya, orang tersebut awalnya akan merasa puas. Tetapi setelah beberapa kali unggahan, ia tidak akan lagi merasa puas dan akan mencoba mengganti stimulus.

Stimulus dalam sisi ini adalah unggahan foto yang diperkirakan akan lebih banyak lagi mengundang perhatian dan meningkatkan jumlah Like.

"Namun ketika jumlah Like bertambah, tidak lama ia menjadi kurang puas dan terus ingin meningkatkan jumlah Like tersebut dengan berbagai cara yang akhirnya menjadi ketagihan," katanya.

Rasa puas, tuturnya, terkait dengan organ di otak tengah, yakni ventral tegmental area (VTA) yang mengeluarkan hormon dopamin, senyawa yang menghantarkan sinyal rangsangan antarsel saraf. Dopamin yang ditangkap oleh nucleus accumbens di otak depan akan memberikan sensasi puas, ujarnya.

"Namun sensasi puas tersebut seiring berjalannya waktu akan beradaptasi dan jadi terasa biasa saja, sehingga dibutuhkan penggantian stimulus lain yang lebih meningkatkan kepuasan. Begitu seterusnya, kepuasan membuat ketagihan," katanya.

Menurut dia, media sosial penting untuk berkomunikasi, namun jika menimbulkan ketagihan sehingga fungsi komunikasinya hilang, maka hasilnya menjadi negatif, dan harus dikendalikan.

"Apalagi jika hal itu hanya menghabiskan waktu yang sebenarnya bisa digunakan untuk hal lain yang lebih produktif, ditambah lagi jika sampai melupakan orang-orang yang sedang bicara di hadapannya di dunia nyata yang sekarang dikenal sebagai phubbing. Ini justru membuat komunikasi jadi negatif," katanya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Sehat Ginjalmu? Cek Kebiasaan Harianmu yang Berisiko Merusak Ginjal
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Inggris Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Ekstrovert, Introvert, Ambivert, atau Otrovert?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Cocok Kamu Jadi Orang Kaya? Tebak Logo Merek Branded Ini
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: iPhone Seri Berapa yang Layak Dibeli Sesuai Gajimu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Andai Kamu Gabung Kabinet, Cocoknya Jadi Menteri Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Masuk ke Dunia Disney Tanpa Google, Bisakah Selamat?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kalau Hidupmu Diangkat ke Layar Lebar, Genre Film Apa yang Cocok?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kira-Kira Cara Kerjamu Mirip dengan Presiden RI ke Berapa?
Ikuti Kuisnya ➔
Checklist Mobil Bekas: 30 Pertanyaan Pemandu pas Cek Unit Mandiri, Penentu Layak Beli atau Tidak
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Mental Health Check-in, Kamu Lagi di Fase Apa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI