- Rupiah dibuka pada level Rp18.013 per dolar AS tanggal 3 Agustus 2026, melemah dari hari sebelumnya.
- Analis Lukman Leong menyatakan dolar AS mengalami rebound akibat data manufaktur yang lebih kuat dari ekspektasi.
- Investor memilih bersikap menunggu rilis data ekonomi penting karena pergerakan mata uang di Asia mayoritas melemah.
Suara.com - Rupiah kembali tertekan di pasar keuangan. Mata uang Garuda Indonesia melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada pagi ini.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah Selasa 3 Agustus 2026 dibuka ke level Rp18.013 per dolar Amerika Serikat (AS). Angka ini menguat 16 poin atau 0,09 persen dari hari sebelumnya yang ada di Rp17.997 dolar AS.
Dalam hal ini, Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan pelemahan terjadi dikarenakan dolar AS mulai rebound.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi dengan potensi melemah terbatas oleh rebound pada dolar AS oleh data manufaktur AS yg lebih kuat dari ekspektasi," katanya saat dihubungi Suara.com.
Menurutnya, investor cenderung wait and see menantikan beberapa data ekonomi Indonesia. Salah satunya pertumbuhan ekonomi yang akan segera diumumkan.
"Investor cenderung wait and see menantikan beberapa data ekonomi besar baik dari dalam maupun luar yang akan dirilis pekan ini. Range Rp17.950 hingga Rp18.050," jelasnya.
![Ilustrasi Yen. [Pixabay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2025/10/06/44017-ilustrasi-yen.jpg)
Sementara itu, pergerakan mata uang di Asia cenderung melemah. Yen Jepang menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam di Asia setelah ambles 0,27 persen.
Selanjutnya, ada baht Thailand yang turun 0,08 persen dan yuan China tertekan 0,05 persen. Disusul, ringgit Malaysia yang terkoreksi 0,04 persen.
Sedangkan, won Korea Selatan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia setelah melonjak 0,3 persen.
Diikuti, dolar Taiwan yang terkerek 0,1 persen. Kemudian, dolar Hong Kong terlihat bergerak tipis dengan kecenderungan menguat terhadap the greenback.