Suara.com - Telkomsel baru saja meluncurkan aplikasi by.U yang diklaim memudahkan konsumen untuk memilih nomor ponsel, sekaligus melakukan transaksi pembelian pulsa dan data internet.
Lantas, apakah keberadaan by.U akan menggerus lapak para pedagang eceran yang menjual paket data dan kartu SIM fisik Telkomsel?
Direktur Utama Telkomsel Emma Sri Martini mengatakan bahwa kanibalisme tidak akan terjadi antara aplikasi by.U dan pedagang konvensional. Alasan pertama, perbedaan segmentasi pasar akan menjadi batas yang memisahkan arus transaksi di antara keduanya.
"Dari awal by.U ditujukan untuk generasi milenial, khusususnya Gen Z, yang notabene melek teknologi dan bagi mereka yang punya behaviour melakukan aktivitas dari ponsel. Sementara bagi konsumen yang sudah matang atau di daerah, akan terus membeli pulsa dan produk kami secara konvensional," kata Emma di sela-sela peluncuran aplikasi by.U di Jakarta, Kamis (10/10/2019).
Kedua, jumlah populasi Indonesia non milenial jauh lebih besar ketimbang Gen Z. Dari 260 juta penduduk Indonesia, hanya sekitar 44 juta saja yang masuk dalam kategori Gen Z.
"Gen Z populasinya jauh lebih kecil daripada total populasi di Indonesia. Sisa ratusan juta populasi itu kemungkinan besar akan menggunakan layanan konvensional," tandas Emma.
Dari sekitar 44 juta milenial di Tanah Air, Telkomsel pun menargetkan aplikasi by.U ini bisa diunduh oleh 200.000 pengguna.
"Kami optimistis (aplikasi by.U) bisa didownload oleh 200.000 pengguna hingga akhir tahun ini," imbuh Trio Lumbantoruan, Tribe Leader Telkomsel.
Lewat aplikasi by.U, pengguna bisa memilih nomor ponsel, menentukan topping (paket internet untuk chatting, browsing, streaming, gaming, pulsa), hingga membayar dengan banyak cara (Go-Pay, LinkAja, kartu kredit, bank virtual account).
Konsumen juga tidak perlu beranjak dari kediaman mereka karena kurir JNE akan mengantarkan kartu yang sudah dipilih ke alamat yang dituju konsumen. Hanya saja untuk pengiriman baru tersedia di Depok, Bogor, Sukabumi, dan Cianjur.