Virus Pemicu Covid-19 Sudah Ada di Tubuh Manusia Selama Puluhan Tahun

Liberty Jemadu

Senin, 30 Maret 2020 | 17:50 WIB
Virus Pemicu Covid-19 Sudah Ada di Tubuh Manusia Selama Puluhan Tahun
Ilustrasi virus corona Covid-19. [Shutterstock]

Suara.com - Virus corona yang menyebabkan Covid-19 mungkin sudah hidup dalam tubuh manusia beberapa tahun atau bahkan puluhan tahun lalu sebelum akhirnya terdeteksi di Wuhan, Hubei, China pada akhir 2019 kemarin.

Para ilmuwan dari sejumlah negara menganalisis data ilmuwan dari seluruh dunia untuk melacak jejak evolusi Sars-Cov-2 yang kini memicu wabah Covid-19 di seluruh dunia.

Mereka menemukan bahwa ada kemungkinan virus itu sudah menyeberang dari binatang ke manusia jauh sebelum kasus infeksi di Wuhan pada Desember 2019.

Sars-Cov-2 memiliki mutasi unik yang diduga terjadi ketika virus itu berulang kali menginfeksi sejumlah kecil manusia dan bahwa mutasi itu tak ditemukan pada virus corona di dalam binatang yang diduga sebagai inangnya, seperti kelelawar atau trenggiling.

Francis Collins, Direktur Institut Kesehatan Nasional (NIH), Amerika Serikat, mengatakan studi ini membuka kemungkinan bahwa Sars-Cov-2 sudah ada di tubuh manusia jauh sebelum ia mampu memicu penyakit dalam tubuh kita. Collins tak terlibat dalam riset ini.

"Sebagai hasil dari evolusi yang gradual selama bertahun-tahun atau puluhan tahun, virus itu akhirnya memunyai kemampuan untuk menyebar dari manusia ke manusia dan memicu penyakit serius," tulis Collins dalam sebuah artikel yang diterbitkan di website NIH, Kamis (26/3/2020).

Studi terbaru itu digelar Kristian Andersen dari Scripps Research Institute, California, AS; Andrew Rambaut dari University of Edinburgh, Skotlandia; Ian Lipkin dari Columbia University, New York, AS; Edward Holmes dari University of Sydney, Australia; dan Robert Garry dari Tulane University, New Orleans, AS.

Temuan para ilmuwan di atas diterbitkan di jurnal Nature Medicine edisi 17 Maret kemarin.

Mutan, bukan chimera

baca juga

Ketika Covid-19 muncul di Wuhan pada Desember 2019, para ilmuwan China menduga virus corona pemicu wabah tersebut berasal dari virus yang ditemukan pada kelelawar gua di perbatasan China - Myanmar.

Virus dari kelelawar dan dari pasien di Wuhan memiliki kesamaan gen hingga 96 persen. Tetapi virus pada kelelawar tak bisa menginfeksi manusia, karena tak memiliki duri-duri protein yang bisa menjadi jalan masuk ke sel-sel manusia.

Para ilmuwan dari Guangzhou dan Hong Kong lalu menemukan virus corona yang memiliki duri protein pada tubuh trenggiling malaya. Ini memicu spekulasi bahwa Sars-Cov-2 adalah hasil rekombinasi - gabungan antara virus corona di kelelawar dan pada trenggiling.

Tetapi hasil studi baru menunjukkan bahwa virus Sars-Cov-2 memiliki sebuah mutasi dalam gen yang dikenal dengan nama polybasic cleavage site, yang tak ditemukan dalam virus corona yang ditemukan di kelelawar maupun trenggiling.

Mutasi ini bisa menghasilkan struktur unik dalam duri protein untuk berinteraksi dengan furin, salah satu enzim dalam tubuh manusia. Ketika terjadi kontak antara keduanya, maka lapisan luar virus dan membran sel manusia akan bergabung. Mutasi inilah yang membuat Sars-Cov-2 sangat mudah menular.

Mutasi seperti ini mungkin saja terjadi di binatang yang menjadi inang. SARS dan MERS, misalnya, diduga sebagai turunan langsung virus corona yang ditemukan pada musang serta unta karena kemiripan genetiknya mencapai 99 persen.

Beda halnya pada Sars-Cov-2 pemicu Covid-19. Perbedaan antara virus yang ditemukan pada manusia dan binatang terlalu jauh berbeda, sehingga para ilmuwan mengajukan teori alternatif.

"Mungkin nenek moyang Sars-Cov-2 melompat ke manusia dan memiliki fitur-fitur genom yang dijelaskan di atas lewat proses adaptasi yang terjadi ketika ia menyebar dari manusia ke manusia tanpa terdeteksi," jelas para peneliti.

"Adaptasi itu memicu terjadinya pandemi dan cukup banyak kasus, sehingga pada akhirnya bisa terdeteksi oleh sistem pengawasan kesehatan kita," lanjut para ilmuwan.

Lebih lanjut para peneliti menegaskan bahwa temuan mereka ini memperkuat argumentasi bahwa Sars-Cov-2 adalah virus yang berasal dari alam, bukan hasil rekayasan di laboratorium.

Alasannya karena hasil pemodelan superkomputer paling cepat berbasis pada data-data yang saat ini tersedia, tidak mampu melahirkan perubahan struktur duri protein yang aneh, tapi efisien seperti pada Sars-Cov-2.

"Faktanya, para perekayasa hayati di dunia yang berusaha merancang virus corona tidak akan memilih struktur duri protein seperti ini," kata Collins. [South China Morning Post]

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Skandal Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu, Granit Xhaka Kena Denda Rp3,2 Miliar

Skandal Sertifikat Vaksin Covid-19 Palsu, Granit Xhaka Kena Denda Rp3,2 Miliar

Bola | Jum'at, 09 Oktober 2026 | 09:53 WIB

Kisah Sukses Zulhaida Sitanggang, Mampu Sulap Sampah Pasar Jadi Usaha Beromzet Jutaan Rupiah

Kisah Sukses Zulhaida Sitanggang, Mampu Sulap Sampah Pasar Jadi Usaha Beromzet Jutaan Rupiah

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 16:45 WIB

Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun

Efek Domino Pandemi Bikin Harga Mobil Bekas Gagal Turun

Otomotif | Rabu, 17 Juni 2026 | 15:38 WIB

Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19

Menkes Pastikan Risiko Ebola di Indonesia Rendah, Penularannya Tak Semudah Covid-19

News | Selasa, 02 Juni 2026 | 12:23 WIB

IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi

IHSG Hancur Lebur Seperti Era COVID-19, Padahal Tak Sedang Pandemi

Bisnis | Minggu, 24 Mei 2026 | 15:05 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19

Pakar Medis Belanda Menjamin Hantavirus Bukan Ancaman Pandemi Baru Seperti COVID-19

News | Minggu, 10 Mei 2026 | 06:05 WIB

Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?

Cek Fakta: Benarkah Hantavirus Disebabkan Efek Samping Vaksin Covid-19 Pfizer?

News | Jum'at, 08 Mei 2026 | 16:24 WIB

Viral Cuitan 2022 yang Singgung Hantavirus 2026, Disebut Prediksi Masa Depan

Viral Cuitan 2022 yang Singgung Hantavirus 2026, Disebut Prediksi Masa Depan

Entertainment | Kamis, 07 Mei 2026 | 15:49 WIB

Ancaman Baru Setelah COVID? Argentina Dituding Jadi Sumber Wabah Hantavirus

Ancaman Baru Setelah COVID? Argentina Dituding Jadi Sumber Wabah Hantavirus

News | Kamis, 07 Mei 2026 | 07:07 WIB

Terkini

The Old Money Rules: Pelajaran Finansial dari Para Konglomerat

The Old Money Rules: Pelajaran Finansial dari Para Konglomerat

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 20:08 WIB

Rocky Gerung Soroti Praktik Penyadapan Ilegal Oknum Kepolisian ke Prabowo

Rocky Gerung Soroti Praktik Penyadapan Ilegal Oknum Kepolisian ke Prabowo

Video | Kamis, 05 November 2026 | 20:05 WIB

DPR Usulkan Aset Pelaku Karhutla Dirampas Negara

DPR Usulkan Aset Pelaku Karhutla Dirampas Negara

News | Kamis, 05 November 2026 | 20:01 WIB

Momen Roy Suryo Lempar Senyum dan Angkat Jempol Saat Salaman dengan Jokowi

Momen Roy Suryo Lempar Senyum dan Angkat Jempol Saat Salaman dengan Jokowi

News | Kamis, 05 November 2026 | 20:01 WIB

Ritual Adat Jadi Cara Warga NTT Melindungi Mata Air di Hutan Sanabibi: Bagaimana Caranya?

Ritual Adat Jadi Cara Warga NTT Melindungi Mata Air di Hutan Sanabibi: Bagaimana Caranya?

Lifestyle | Kamis, 05 November 2026 | 20:00 WIB

Urutan Skincare Malam Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun, Ampuh Cegah Kerutan dan Flek Hitam

Urutan Skincare Malam Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun, Ampuh Cegah Kerutan dan Flek Hitam

Lifestyle | Kamis, 05 November 2026 | 19:54 WIB

Demo di Kaltim Memanas, Massa Lempar Sayuran Busuk ke Kantor Rudy Mas'ud

Demo di Kaltim Memanas, Massa Lempar Sayuran Busuk ke Kantor Rudy Mas'ud

Kaltim | Kamis, 05 November 2026 | 19:53 WIB

Belajar dari KHW 400: Ini 5 Insight Storytelling Nadia Omara Bagi Kreator

Belajar dari KHW 400: Ini 5 Insight Storytelling Nadia Omara Bagi Kreator

Your Say | Kamis, 05 November 2026 | 19:50 WIB

Dukung Implementasi UU SDI, Mendagri Tito: Perkuat Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah

Dukung Implementasi UU SDI, Mendagri Tito: Perkuat Sinkronisasi Program Pusat dan Daerah

News | Kamis, 05 November 2026 | 19:50 WIB

Momen Tak Biasa di Sidang Roy Suryo, Botol Minum Jokowi Diambil Petugas

Momen Tak Biasa di Sidang Roy Suryo, Botol Minum Jokowi Diambil Petugas

News | Kamis, 05 November 2026 | 19:50 WIB

×