Waduh! Medan Magnet Bumi Penyok, NASA Sebut Bisa Jadi Masalah bagi Manusia

Dythia Novianty, Lintang Siltya Utami

Senin, 24 Agustus 2020 | 08:30 WIB
Waduh! Medan Magnet Bumi Penyok, NASA Sebut Bisa Jadi Masalah bagi Manusia
Ilustrasi Bumi. [PIRO4D/Pixabay]

Suara.com - NASA sedang menyelidiki wilayah "penyok" besar di medan magnet Bumi, bisa menyebabkan malapetaka pada satelit yang mengorbit. Itu juga bisa menimbulkan masalah bagi manusia karena medan adalah perlindungan utama terhadap partikel berbahaya yang ditembakkan dari Matahari.

Dijuluki South Atlantic Anomaly (SAA), titik kelemahan magnetis misterius membentang dari Amerika Selatan ke Afrika dan telah membingungkan para ilmuwan selama beberapa dekade.

Anomali ini memungkinkan partikel-partikel berbahaya turun lebih dekat ke permukaan daripada biasanya. Radiasi partikel di wilayah ini dapat melumpuhkan komputer onboard dan menganggu pengumpulan data satelit yang melewatinya. Itulah alasan utama mengapa ilmuwan NASA ingin melacak dan mempelajari anomali tersebut.

SAA juga menarik perhatian para ilmuwan NASA di Bumi yang memantau perubahan kekuatan medan magnet di sana, baik untuk mengetahui bagaimana perubahan tersebut memengaruhi atmosfer Bumi dan sebagai indikator tentang apa yang terjadi pada medan magnet Bumi.

Logo NASA. [Shutterstock]
Logo NASA. [Shutterstock]

Dilansir dari The Sun, Senin (24/8/2020), diperkirakan SAA secara bertahap berkembang selama 200 tahun dan telah kehilangan 10 persen kekuatannya dibandingkan dengan medan magnet Bumi lainnya.

"Medan magnet Bumi bertindak seperti perisai pelindung di sekitar planet, mengusir dan menjebak partikel bermuatan dari Matahari. Tapi di Amerika Selatan dan Samudera Atlantik bagian selatan, titik lemah yang tidak biasa di medan memungkinkan partikel-partikel itu turun lebih dekat ke permukaan daripada biasanya," tulis NASA dalam sebuah unggahan blog.

Para ilmuwan percaya anomali ini disebabkan oleh proses yang tidak teratur di dalam Bumi tempat asal medan magnet. Diperkirakan asal-usul SAA terletak di kerak Bumi, 2.900 kilometer di bawah permukaan tempat logam cair yang berputar menghasilkan gaya magnet.

Saat ini, SAA tidak menimbulkan dampak yang signifikan dan terlihat pada kehidupan sehari-hari. Namun, pengamatan dan prakiraan baru-baru ini menunjukkan bahwa wilayah itu meluas ke arah barat dan intensitasnya terus melemah. Itu juga membelah menjadi dua lobus, menciptakan masalah tambahan untuk misi satelit.

Sejumlah ilmuwan NASA dalam kelompok penelitian geomagnetik, geofisika, dan heliofisika mengamati dan memodelkan SAA untuk memantau dan memprediksi perubahan di masa depan serta membantu mempersiapkan tantangan masa depan terhadap satelit dan manusia di luar angkasa.

baca juga

Untuk memahami bagaimana SAA berubah dan untuk mempersiapkan ancaman masa depan terhadap satelit dan instrumen, para ilmuwan NASA menggunakan observasi dan fisika untuk berkontribusi pada model global medan magnet Bumi.

Tim ahli menilai keadaan medan magnet saat ini menggunakan data dari setelit SWARM milik Badan Antariksa Eropa (ESA). Para ilmuwan menggabungkan data yang diurutkan dengan model dinamika inti untuk meramalkan variasi sekuler geomagnetik (perubahan cepat dalam medan magnet) di masa depan.

"Kami sangat beruntung memiliki satelit Swarm di orbit untuk menyelidiki perkembangan SAA. Tantangannya sekarang adalah untuk memahami proses di inti Bumi yang mendorong perubahan ini," kata Jürgen Matzka dari Pusat Riset Jerman untuk Geosains.

Model geodinamo memiliki keunikan dalam kemampuannya menggunakan fisika inti untuk membuat prakiraan di masa depan.

Medan magnet Bumi. [NASA]
Medan magnet Bumi. [NASA]

"Ini mirip dengan bagaimana ramalan cuaca dibuat, tetapi kami bekerja dengan skala waktu yang lebih lama. Inilah perbedaan mendasar antara apa yang kami lakukan di Goddard dan sebagian besar kelompok penelitian lain yang memodelkan perubahan di medan magnet Bumi," kata Andrew Tangborn, ahli matematika di Planetary Geodynamics Laboratory Goddard, seperti dikutip laman resmi NASA.

SAA yang berubah memberi para ilmuwan peluang baru untuk memahami inti Bumi dan bagaimana dinamikanya memengaruhi aspek lain dari sistem Bumi. Dengan melacak "penyok" yang berkembang perlahan di medan magnet, para ilmuwan dapat lebih memahami cara Bumi berubah dan membantu mempersiapkan masa depan yang lebih aman bagi satelit.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ilmuwan Warga Temukan 95 Katai Cokelat di Dekat Matahari

Ilmuwan Warga Temukan 95 Katai Cokelat di Dekat Matahari

Tekno | Jum'at, 21 Agustus 2020 | 20:00 WIB

NASA Selidiki Kebocoran Udara di Stasiun Luar Angkasa Internasional

NASA Selidiki Kebocoran Udara di Stasiun Luar Angkasa Internasional

Tekno | Jum'at, 21 Agustus 2020 | 18:20 WIB

Tradisi Larung Sesaji di Pantai Serang Blitar

Tradisi Larung Sesaji di Pantai Serang Blitar

Foto | Jum'at, 21 Agustus 2020 | 17:20 WIB

Donald Trump Desak Agar Lebih Banyak Aktivitas Komersial di Luar Angkasa

Donald Trump Desak Agar Lebih Banyak Aktivitas Komersial di Luar Angkasa

Tekno | Jum'at, 21 Agustus 2020 | 12:45 WIB

Gempa Bumi 6,9 SR di Laut Banda Kemungkinan Tak Picu Tsunami

Gempa Bumi 6,9 SR di Laut Banda Kemungkinan Tak Picu Tsunami

News | Jum'at, 21 Agustus 2020 | 11:50 WIB

Bintang Raksasa Betelgeuse Meredup Lagi, Ada Apa?

Bintang Raksasa Betelgeuse Meredup Lagi, Ada Apa?

Tekno | Kamis, 20 Agustus 2020 | 11:00 WIB

Terkini

Transformasi Digital Sukses, Bisnis Madu Asal Lampung Manfaatkan QRIS dan Pembiayaan BRI

Transformasi Digital Sukses, Bisnis Madu Asal Lampung Manfaatkan QRIS dan Pembiayaan BRI

Bri | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:15 WIB

Bukan Cuma Tubuh, Ini 5 Alasan Fermentasi Makanan Ramah untuk Lingkungan

Bukan Cuma Tubuh, Ini 5 Alasan Fermentasi Makanan Ramah untuk Lingkungan

Your Say | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:10 WIB

5 Clarifying Toner yang Bantu Kulit Wajah Lebih Halus dan Sehat

5 Clarifying Toner yang Bantu Kulit Wajah Lebih Halus dan Sehat

Your Say | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:10 WIB

Hina Kapolda NTB, WNA Asal Prancis Dihukum 3 Bulan Penjara

Hina Kapolda NTB, WNA Asal Prancis Dihukum 3 Bulan Penjara

Bali | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:07 WIB

Arab Saudi Ubah Tarif Bea Masuk 51 Komoditas, Kemendag Minta Eksportir RI Tangkap Peluang

Arab Saudi Ubah Tarif Bea Masuk 51 Komoditas, Kemendag Minta Eksportir RI Tangkap Peluang

Bisnis | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:06 WIB

Prancis Tersingkir, Taktik Individualis Didier Deschamps Resmi Gagal Total?

Prancis Tersingkir, Taktik Individualis Didier Deschamps Resmi Gagal Total?

Your Say | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:02 WIB

Peneliti ITB Ungkap Potensi Sawit, Ternyata Bisa Diolah Jadi Bensin

Peneliti ITB Ungkap Potensi Sawit, Ternyata Bisa Diolah Jadi Bensin

Bisnis | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:02 WIB

Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Tito: Biaya Pilkada Tinggi, Akhirnya Cari Jalan Tak Benar

Banyak Kepala Daerah Kena OTT, Tito: Biaya Pilkada Tinggi, Akhirnya Cari Jalan Tak Benar

News | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:01 WIB

Coffee Shop dan Ruang Tenang Bagi Gen Z: Bukan Lagi Sekadar Tempat Ngopi

Coffee Shop dan Ruang Tenang Bagi Gen Z: Bukan Lagi Sekadar Tempat Ngopi

Your Say | Kamis, 16 Juli 2026 | 14:00 WIB

5 Cara Cek Nomor Indosat Pakai Internet dan Tidak, Praktis dan Cepat

5 Cara Cek Nomor Indosat Pakai Internet dan Tidak, Praktis dan Cepat

Tekno | Kamis, 16 Juli 2026 | 13:59 WIB

×