Waduh! Dua Pertiga Populasi Satwa Liar Bumi Menurun dalam 50 Tahun

Dythia Novianty, Lintang Siltya Utami

Jum'at, 11 September 2020 | 08:45 WIB
Waduh! Dua Pertiga Populasi Satwa Liar Bumi Menurun dalam 50 Tahun
Ilustrasi kawanan gajah di alam liar. [Paweldotio/Unsplash]

Suara.com - Populasi hewan, burung, dan ikan di dunia akan menurun lebih dari dua pertiga dalam waktu kurang dari 50 tahun karena konsumsi berlebihan yang dilakukan manusia.

Aktivitas manusia telah sangat merusak tiga perempat dari seluruh daratan dan 40 persen lautan di Bumi. Kehancuran alam yang semakin cepat, kemungkinan besar akan menimbulkan konsekuensi yang tak terhitung pada kesehatan dan mata pencaharian manusia.

Living Planet Index melacak lebih dari 4.000 spesies vertebrata, memperingatkan bahwa peningkatan penggundulan hutan dan ekspansi pertanian adalah pendorong utama di balik penurunan rata-rata 68 persen populasi antara 1970 dan 2016.

Tak hanya itu, hilangnya habitat alami secara terus-menerus meningkatkan risiko pandemi di masa depan karena manusia memperluas kontak yang semakin dekat dengan hewan liar.

Penggundulan hutan hujan Amazon. [AFP/Nelson Almeida]
Penggundulan hutan hujan Amazon. [AFP/Nelson Almeida]

Living Planet Report 2020 yang berkolaborasi dengan WWF International dan Zoological Society of London telah melacak populasi satwa liar di seluruh dunia.

Direktur Jenderal WWF International Marco Lambertini mengatakan tentang hilangnya keanekaragaman hayati di Bumi secara mengejutkan sejak 1970.

"Ini adalah penurunan akselerasi yang kami pantau selama 30 tahun dan terus mengarah ke arah yang salah. Tahun 2016, kita mendokumentasikan penurunan 60 persen, sekarang turun 70 persen," kata Lambertini, seperti dikutip Science Alert, Jumat (11/9/2020).

Pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh penggunaan konsumsi sumber daya alam global secara berlebihan telah terjadi selama setengah dekade terakhir.

Jika, hingga 1970 jejak ekologi manusia lebih kecil dari kapasitas Bumi untuk meregenerasi sumber daya, WWF menghitung sekarang manusia telah melebihi penggunaan kapasitas Bumi lebih dari setengahnya.

baca juga

Meski ada faktor pendukung lain seperti spesies invasif dan polusi, pendorong terbesar hilangnya spesies adalah perubahan penggunaan lahan.

Biasanya, industri mengubah hutan atau padang rumput menjadi pertanian. Hal itu sangat merugikan spesies liar yang kehilangan tempat tinggal.

Selain itu, sepertiga dari semua daratan dan tiga perempat dari semua wilayah air tawr di Bumi sekarang didedikasikan untuk memproduksi makanan. Sebanyak 75 persen stok ikan di lautan pun dieksploitasi secara berlebihan.

Kawasan tropis di Amerika Tengah dan Selatan bahkan telah mengalami penurunan spesies 94 persen sejak tahun 1970.

Menurut penelitian yang ditulis Living Planet bersama dengan 40 LSM dan lembaga akademis menunjukkan bahwa mengurangi limbah makanan dan mendukung pola makan yang lebih sehat serta lebih ramah lingkungan dapat membantu "membengkokkan" degradasi.

Burung Kuntul Besar (Egretta alba) berada di sekitar pemukiman warga di kawasan Muara Angke, Jakarta, Senin (1/2).
Burung Kuntul Besar (Egretta alba) berada di sekitar pemukiman warga di kawasan Muara Angke, Jakarta, Senin (1/2). [Suara.com]

Ditambah dengan upaya konservasi radikal, tindakan ini dapat mencegah lebih dari dua pertiga dari hilangnya keanekaragaman hayati di masa depan.

"Kita perlu bertindak sekarang. Tingkat pemulihan keanekaragaman hayati biasanya jauh lebih lambat, dibandingkan dengan hilangnya keanekaragaman hayati baru-baru ini," ucap David Leclere, penulis utama penelitian di International Institute of Applied System Analysis.

Dia menambahkan, itu menyiratkan bahwa setiap penundaan tindakan akan memungkinkan hilangnya keanekaragaman hayati lebih lanjut yang mungkin membutuhkan waktu puluhan tahun untuk pulih.

Leclere juga memperingatkan tentang hilangnya keanekaragaman hayati yang tidak dapat diubah, seperti ketika suatu spesies punah. Menurutnya, manusia masih memiliki kewajiban moral untuk hidup berdampingan dengan kehidupan di Bumi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dampak Virus Corona, China akan Hukum Berat Perdagangan Satwa Liar

Dampak Virus Corona, China akan Hukum Berat Perdagangan Satwa Liar

News | Jum'at, 22 Mei 2020 | 13:20 WIB

Antisipasi Gelombang Kedua Covid-19, Wuhan Larang Warga Makan Binatang Liar

Antisipasi Gelombang Kedua Covid-19, Wuhan Larang Warga Makan Binatang Liar

News | Kamis, 21 Mei 2020 | 11:00 WIB

China Bayar Pelaku Bisnis Satwa Liar yang Bersedia Berhenti Secara Sukarela

China Bayar Pelaku Bisnis Satwa Liar yang Bersedia Berhenti Secara Sukarela

News | Rabu, 20 Mei 2020 | 22:03 WIB

Jual Beli Satwa Liar Indonesia Turun Drastis, Apa Tak Tutup Saja Sekalian?

Jual Beli Satwa Liar Indonesia Turun Drastis, Apa Tak Tutup Saja Sekalian?

News | Selasa, 14 April 2020 | 13:52 WIB

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Ini 5 Bahaya Pelihara Satwa Liar

Hari Cinta Puspa dan Satwa Nasional, Ini 5 Bahaya Pelihara Satwa Liar

Lifestyle | Selasa, 05 November 2019 | 07:05 WIB

Kaos Nadya Hutagalung x PANGAIA, Dedikasi untuk Konversi Satwa Liar

Kaos Nadya Hutagalung x PANGAIA, Dedikasi untuk Konversi Satwa Liar

Lifestyle | Jum'at, 25 Oktober 2019 | 22:30 WIB

Terkini

Temani Istri Beli Makan, Pria di Bogor Malah Bacok Bobotoh hingga Tewas

Temani Istri Beli Makan, Pria di Bogor Malah Bacok Bobotoh hingga Tewas

Bogor | Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:51 WIB

Tips Memilih Parfum untuk Musim Hujan: Ini Jenis Aroma yang Cocok dan Tahan Lama

Tips Memilih Parfum untuk Musim Hujan: Ini Jenis Aroma yang Cocok dan Tahan Lama

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:50 WIB

AGRA Kecam Barikade Berlapis Aparat saat Demo, Tuding Prabowo-Gibran Abaikan Rakyat

AGRA Kecam Barikade Berlapis Aparat saat Demo, Tuding Prabowo-Gibran Abaikan Rakyat

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:43 WIB

4 Zodiak Bakal Dihujani Keberuntungan dan Kelimpahan di Bulan November 2026

4 Zodiak Bakal Dihujani Keberuntungan dan Kelimpahan di Bulan November 2026

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:42 WIB

Connor Storrie Negosiasi Peran Antagonis di Film Ghost Rider MCU

Connor Storrie Negosiasi Peran Antagonis di Film Ghost Rider MCU

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:36 WIB

Pasangan Idaman, Ini 5 Shio Pria yang Dikenal Paling Setia dan Family Man

Pasangan Idaman, Ini 5 Shio Pria yang Dikenal Paling Setia dan Family Man

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:35 WIB

Tanggalkan Teriakan Cadas, Matheo in Rio Sambut Fajar Lewat Single Anyar 'Arunika'

Tanggalkan Teriakan Cadas, Matheo in Rio Sambut Fajar Lewat Single Anyar 'Arunika'

Entertainment | Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:34 WIB

Perjalanan Futsal dan Konser Musik di Grand Final AXIS Nation Cup 2026

Perjalanan Futsal dan Konser Musik di Grand Final AXIS Nation Cup 2026

Your Say | Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:23 WIB

Jangan Salah Pilih, Ini Perbedaan Viva Sunscreen Foundation vs Viva Special Day Cream

Jangan Salah Pilih, Ini Perbedaan Viva Sunscreen Foundation vs Viva Special Day Cream

Lifestyle | Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:20 WIB

Sujud Mahasiswa Trisakti di Patung Kuda: Mengetuk Pintu Langit Kala Suara Rakyat Tak Didengar

Sujud Mahasiswa Trisakti di Patung Kuda: Mengetuk Pintu Langit Kala Suara Rakyat Tak Didengar

News | Kamis, 29 Oktober 2026 | 20:15 WIB

×