China Bayar Pelaku Bisnis Satwa Liar yang Bersedia Berhenti Secara Sukarela

Reza Gunadha | Fitri Asta Pramesti
China Bayar Pelaku Bisnis Satwa Liar yang Bersedia Berhenti Secara Sukarela
Ilustrasi satwa liar - (Pixabay/Pascal-Laurent)

Hunan akan memberi kompensasi bagi pedagang yang mau menyerahkan satwa liar seperti ular, tikus bambu dan musang ke pemerintah

Suara.com - Pemerintah China akan memberikan kompensasi kepada para peternak jika mereka bersedia menghentikan penjualan satwa liat seperti ular, tikus, hingga musang.

Menyadur South China Morning Post, langkah ini diambil guna mengakhiri industri yang belakangan disorot sebagai penyebab munculnya wabah virus corona. Sekaligus membantu para pedagang satwa liar untuk menemukan bisnis baru.  

Otoritas berwenang di Provinsi Hunan pada Jumat (15/5), mengumumkan akan membayar siapapun yang secara sukarela menutup peternakan hewan liar, dan akan didukung untuk memelihara hewan lain yang lebih 'ramah'.

Hunan akan membayar 120 yuan (Rp248.327) untuk setiap satu kilogram ular, 75 yuan (Rp 155.242) untuk satu tikus bambu, dan 600 yuan (Rp 1.241.853) untuk landak atau musang.

Selain kompensasi, Hunan juga kab menyediakan subsidi tambahan dan pengadaan program pelatihan kerja bagi peternak satwa liar untuk dapat melanjutkan bisnis.

Pengembangbiakan satwa liar hanya diperbolehkan bagi penelitian atau pengobatan, itu pun harus memiliki lisensi dari pemerintah.

Peternak satwa liar di China akan dibayar jika bersedia beralih bisnis. (AFP)
Peternak satwa liar di China akan dibayar jika bersedia beralih bisnis. (AFP)

Senada dengan Hunan, sejumlah kota seperti Ganzhou dan Dongyuan juga menyediakan beragam insentif bagi mereka yang bersedia berhenti dari bisnis satwa liar.

Pemerintah Kota Dongyuan berjanji akan mengucurkan dana 2 juta yuan atau setara dengan Rp 4,1 miliar untuk membeli tikus bambu dan ular dari para peternak.

Sedangkan Ganzhou akan menyediakan pinjaman dan harga sewa lahan yang terjangkau bagi peternak satwa liar yang bersedia beralih profesi.

Bisnis satwa liar merupakan salah satu bisnis yang cukup besar di China. Berdasarkan laporan Akademi Teknik China tahun 2017, menyebutkan bisnis ini bernilai 520 miliar yuan dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 14 juta orang. 

Semenjak wabah virus corona, pemerintah pusat China telah memberlakukan larangan perdagangan dan konsumsi satwa liar yang berlaku mulai Februari lalu.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS