Mengapa Transisi Menuju Energi Terbarukan Berjalan Lambat?

Ruth Meliana | Suara.com

Selasa, 18 November 2025 | 12:05 WIB
Mengapa Transisi Menuju Energi Terbarukan Berjalan Lambat?
Ilustrasi penggunaan tenaga surya dan angin sebagai sumber energi bersih (Pexels)

Suara.com - Upaya global menuju penggunaan energi bersih sebenarnya menunjukkan perkembangan menggembirakan.

Harga tenaga surya dan angin kini lebih murah dibandingkan pembangkit listrik berbahan bakar fosil, terutama dalam skala besar.

Namun dibalik kabar baik tersebut, pertumbuhan energi terbarukan masih terhambat oleh berbagai faktor, mulai dari politik, pembiayaan, hingga perbedaan strategi negara-negara besar.

Dalam laporan The Conversation (17/11/2025), para ahli energi menyebutkan bahwa transisi energi memang bergerak, tetapi tidak cukup cepat untuk menggantikan bahan bakar fosil.

Padahal, manfaatnya bukan hanya bagi lingkungan, tetapi juga bagi kesehatan masyarakat.

Sejak satu dekade lalu, pembangkit berbahan bakar batubara atau gas adalah pilihan paling murah untuk memenuhi kebutuhan listrik.

Kini, kondisi itu terbalik. Tenaga surya dan angin menjadi opsi paling ekonomis karena tidak membutuhkan bahan bakar.

Sepanjang 2024, penggunaan energi terbarukan berhasil menghemat sekitar US$467 miliar dari biaya bahan bakar global.

Data dari International Renewable Energy Agency menunjukkan bahwa pada 2024, lebih dari 90% kapasitas listrik yang baru dibangun di dunia berasal dari energi bersih.

Total kapasitas energi terbarukan global kini mencapai 46% dari seluruh kapasitas pembangkit listrik yang terpasang. Tahun itu juga menandai rekor penambahan 585 gigawatt energi terbarukan.

Meski harganya semakin terjangkau, adopsi energi terbarukan tetap menghadapi hambatan. Di Amerika Serikat misalnya, proyek energi besar membutuhkan waktu rata-rata 4,5 tahun hanya untuk mengantongi izin.

Proyek pembangunan jaringan transmisi bahkan bisa memakan waktu lebih dari satu dekade. Usulan reformasi perizinan melalui Energy Permitting Reform Act tahun 2024 akhirnya gagal disahkan, salah satunya karena perdebatan politik.

Di negara-negara berkembang, tantangannya berbeda. Permintaan energi meningkat tajam seiring bertumbuhnya ekonomi.

Namun proyek energi terbarukan cenderung lebih mahal untuk dibiayai dibandingkan pembangkit berbahan bakar fosil.

Para pemberi pinjaman menilai proyek energi konvensional lebih aman karena sudah didukung mekanisme jaminan, kontrak pasokan, dan struktur finansial yang matang.

Sementara proyek energi bersih sering kali dianggap berisiko lebih tinggi sehingga bunga pinjaman pun meningkat.

Akibatnya, meskipun energi terbarukan lebih murah dalam jangka panjang, biaya awal yang tinggi membuat banyak negara berkembang tetap mengandalkan batubara dan gas untuk mengimbangi lonjakan kebutuhan listrik.

Para ahli menekankan perlunya kerja sama internasional agar negara berkembang tidak tertinggal dalam revolusi energi bersih. Pemerintah dan bank pembangunan global dapat membantu dengan memberikan jaminan, stabilitas kebijakan, atau skema asuransi untuk menurunkan risiko investasi. Jika risiko menurun, bunga pinjaman ikut turun—dan energi terbarukan menjadi opsi paling masuk akal secara ekonomi.

Transisi energi global juga dipengaruhi dinamika geopolitik dan arah kebijakan negara-negara besar. Dalam laporan Reuters (17/11/2025), disebutkan bahwa sejak berlakunya Perjanjian Paris pada 2015, perjalanan transisi energi justru semakin terfragmentasi. Amerika Serikat, Tiongkok, dan Eropa kini berjalan dengan strategi masing-masing, dipengaruhi kepentingan ekonomi nasional.

Tiongkok menjadi contoh paling mencolok. Negara ini adalah konsumen energi terbesar sekaligus penghasil emisi karbon terbesar di dunia. Namun ambisi mengurangi ketergantungan impor energi membuat Beijing berinvestasi besar-besaran pada sumber energi domestik—baik fosil maupun terbarukan.

Tiongkok kini menjadi pemimpin global dalam produksi panel surya, baterai, dan bahan baku energi bersih, serta menyumbang lebih dari 60% penambahan kapasitas energi terbarukan dunia pada 2024.

Di sisi lain, Tiongkok masih memperluas penggunaan pembangkit listrik tenaga batubara untuk mengantisipasi lonjakan permintaan dan intermitensi energi surya-angin. Meski begitu, negara tersebut menargetkan netral karbon pada 2060 dan klaimnya bahwa emisi telah mencapai puncak tampaknya semakin mendekati kenyataan.

Berbeda dengan Tiongkok, Amerika Serikat menunjukkan arah yang lebih berliku. Setelah kembali ke Perjanjian Paris di era Biden, negara tersebut kembali menarik diri di awal masa jabatan kedua Donald Trump pada 2025.

Dengan potensi energi fosil yang besar, terutama gas alam dan minyak, transisi energi AS diperkirakan terus melambat. Investor pun menjadi ragu untuk menanamkan modal pada teknologi rendah karbon karena ketidakpastian kebijakan jangka panjang.

Di Eropa, semangat transisi energi juga terganggu oleh perang Rusia-Ukraina yang memicu lonjakan harga energi. Ketergantungan pada gas Rusia mengakibatkan tekanan ekonomi besar, mendorong beberapa negara menunda atau merevisi target iklim.

Meski masih berkomitmen terhadap netral karbon pada 2050, Eropa kini menghadapi dilema baru: ketergantungan yang meningkat pada impor energi dari Amerika Serikat dan ketergantungan pasokan teknologi hijau dari Tiongkok.

Gambaran besar ini memperlihatkan bahwa transisi energi tidak berjalan lurus. Meski energi terbarukan semakin murah dan semakin banyak digunakan, perjalanan menuju sistem energi global yang bersih akan berlangsung panjang dan penuh tantangan.

Namun para ahli sepakat, jika dunia ingin menghindari dampak terburuk perubahan iklim, percepatan transisi energi harus dimulai dari sekarang—melalui kerja sama internasional, kebijakan yang stabil, serta komitmen politik yang konsisten.

Kontributor : Gradciano Madomi Jawa

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pramono Anung Resmikan Pemanfaatan Biogas Septik Komunal di Jakarta Timur

Pramono Anung Resmikan Pemanfaatan Biogas Septik Komunal di Jakarta Timur

Foto | Kamis, 13 November 2025 | 18:23 WIB

Emiten TOBA Siapkan Dana Rp 10 Triliun untuk Fokus Bisnis Energi Terbarukan

Emiten TOBA Siapkan Dana Rp 10 Triliun untuk Fokus Bisnis Energi Terbarukan

Bisnis | Rabu, 12 November 2025 | 14:17 WIB

Mau Tinggalkan Batu Bara, Emiten TOBA Fokus Bisnis Energi Terbarukan

Mau Tinggalkan Batu Bara, Emiten TOBA Fokus Bisnis Energi Terbarukan

Bisnis | Rabu, 12 November 2025 | 13:01 WIB

Terkini

5 Rekomendasi HP Murah Tanpa Iklan, Mulai dari 1Rp Jutaan

5 Rekomendasi HP Murah Tanpa Iklan, Mulai dari 1Rp Jutaan

Tekno | Minggu, 05 April 2026 | 14:26 WIB

Game Ninja Turtles Empire City Segera Debut, Padukan Fitur Canggih di Platform VR

Game Ninja Turtles Empire City Segera Debut, Padukan Fitur Canggih di Platform VR

Tekno | Minggu, 05 April 2026 | 14:20 WIB

Duel Performa Poco X8 Pro vs X8 Pro Max, Mana yang Paling Worth It untuk Gaming?

Duel Performa Poco X8 Pro vs X8 Pro Max, Mana yang Paling Worth It untuk Gaming?

Tekno | Minggu, 05 April 2026 | 13:46 WIB

Xiaomi Siap Rilis Redmi Book Pro 2026 dan Redmi K Pad 2 dengan Spek Gahar

Xiaomi Siap Rilis Redmi Book Pro 2026 dan Redmi K Pad 2 dengan Spek Gahar

Tekno | Minggu, 05 April 2026 | 13:11 WIB

Spesifikasi Samsung Galaxy S26 FE Terungkap di Geekbench, Calon HP Flagship Murah

Spesifikasi Samsung Galaxy S26 FE Terungkap di Geekbench, Calon HP Flagship Murah

Tekno | Minggu, 05 April 2026 | 11:35 WIB

4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel

4 HP Tahan Air yang Bisa Digunakan saat Berenang, Anti Rusak dan Anti Rewel

Tekno | Minggu, 05 April 2026 | 10:55 WIB

49 Kode Redeem FF Terbaru 5 April 2026, Bisa Dapat Diamond dan Item Langka Gratis

49 Kode Redeem FF Terbaru 5 April 2026, Bisa Dapat Diamond dan Item Langka Gratis

Tekno | Minggu, 05 April 2026 | 09:38 WIB

32 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 5 April 2026, Bonus Gems dan Player OVR Tinggi

32 Kode Redeem FC Mobile Terbaru 5 April 2026, Bonus Gems dan Player OVR Tinggi

Tekno | Minggu, 05 April 2026 | 08:56 WIB

Terpopuler: 6 HP 5G Terbaru Paling Murah, Meta dan Google Dipanggil Komdigi

Terpopuler: 6 HP 5G Terbaru Paling Murah, Meta dan Google Dipanggil Komdigi

Tekno | Minggu, 05 April 2026 | 07:05 WIB

3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar

3 HP Murah Rp1 Jutaan RAM 8 GB April 2026 untuk Multitasking Lancar

Tekno | Sabtu, 04 April 2026 | 19:20 WIB