- Microsoft PHK 4.800 karyawan untuk menjaga efisiensi bisnis perusahaan.
- Divisi penjualan dan Xbox paling terdampak kebijakan ini.
- Keputusan Microsoft PHK 4.800 karyawan dipengaruhi investasi kecerdasan buatan.
Amy Coleman memberikan penjelasan lebih dalam terkait alasan di balik transformasi ini.
"Bisnis kami berubah karena dunia di sekitarnya berubah," jelasnya dalam memo tersebut.
Kebutuhan pelanggan dan model bisnis yang melayani mereka sedang mengalami pergeseran besar yang menuntut adaptasi.
Hal ini mengharuskan perusahaan untuk ikut menyesuaikan sumber daya, peran, dan cara beroperasi demi memberikan dampak terbaik bagi pelanggan.
Coleman menegaskan bahwa peran yang dihilangkan tidak serta-merta digantikan oleh AI. "Saya juga ingin berterus terang bahwa peran yang dihilangkan hari ini tidak digantikan oleh AI," ungkapnya.
Meski begitu, ia mengakui bahwa kecerdasan buatan mulai mengubah cara manusia dalam menyelesaikan pekerjaan.
Beberapa tugas harian kini dapat diotomatisasi, sehingga setiap individu harus terus beradaptasi dan membangun keterampilan baru.
Keputusan seperti ini diakui tidak pernah mudah bagi jajaran manajemen perusahaan.
"Selama setahun terakhir, kami telah memindahkan lebih dari 4.000 karyawan ke peran baru, termasuk 500 orang lainnya bulan ini," papar Coleman.
Microsoft berjanji akan memberikan dukungan finansial dan sumber daya bagi individu yang harus meninggalkan perusahaan.
Di samping itu, perusahaan terus berinvestasi dalam membekali sisa pekerjanya dengan keterampilan baru di bidang teknologi AI.
Tren efisiensi ini tidak hanya terjadi di Microsoft, melainkan juga mencerminkan fenomena di industri teknologi. Perusahaan besar kini mencari cara untuk menutupi biaya investasi infrastruktur baru dengan merampingkan tenaga kerja mereka.
Sebelumnya pada bulan Mei, perusahaan induk Facebook yakni Meta juga telah memberhentikan sekitar 8.000 pekerjanya. Langkah serupa turut diambil oleh banyak perusahaan lain seperti Amazon, Google, dan Block dalam beberapa bulan terakhir.