- PBESI menggandeng Garmin Health menggunakan 50 unit smartwatch untuk memantau fisik atlet Pelatnas Asian Games 2026.
- Perangkat tersebut melacak denyut jantung, kualitas tidur, tingkat stres, dan pemulihan tubuh atlet secara terpusat.
- Pelatih memanfaatkan data analitik tersebut di Jakarta pada Kamis untuk menyusun program latihan yang lebih terukur.
Suara.com - Skill mekanik, strategi, dan refleks cepat bukan satu-satunya modal Timnas Esports Indonesia untuk menghadapi Asian Games 2026 Aichi-Nagoya. Kondisi fisik dan mental atlet kini ikut dipantau menggunakan teknologi wearable.
Pengurus Besar Esports Indonesia (PBESI) menggandeng Garmin Health untuk menerapkan pendekatan sports science berbasis data dalam program Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).
Sebanyak 50 unit Garmin vívoactive 6 digunakan untuk memantau kondisi para atlet.
Perangkat tersebut mengandalkan sensor Garmin Elevate dan teknologi Firstbeat Analytics untuk membaca sejumlah metrik, termasuk denyut jantung dan Heart Rate Variability (HRV).
Data kesehatan tersebut dilengkapi dengan fitur Body Battery, Sleep Score, dan Stress Tracking. Informasi ini dapat membantu melihat tingkat energi, kualitas tidur, stres, hingga pemulihan atlet.
Marcom Manager Garmin Indonesia, Rian Krisna, mengatakan performa atlet esports tidak hanya ditentukan saat pertandingan berlangsung. Kondisi tubuh di luar permainan juga menjadi bagian penting yang perlu diperhatikan.
![Garmin vívoactive 6. [Garmin]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/08/27/46052-garmin-vivoactive-6.jpg)
“Melalui Body Battery, Stress Tracking, Sleep Score dan berbagai insight kesehatan pada vívoactive 6, atlet dapat lebih memahami pola energi, stres, dan pemulihan mereka sehari-hari,” ujar Rian di Jakarta, Kamis (27/8/2026).
Dengan begitu, pola latihan tidak sekadar mengejar durasi bermain. Kondisi tubuh dapat menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan kapan atlet siap menjalani scrimmage atau membutuhkan pemulihan.
Data 50 Atlet Dipantau Terpusat
Teknologi Garmin juga mencakup Garmin Clipboard, dasbor analitik yang memungkinkan pelatih melihat data para atlet secara terpusat.
Pelatih tidak perlu memeriksa smartwatch satu per satu. Data yang dikumpulkan secara nirkabel dapat menjadi bahan evaluasi untuk menyusun program latihan yang lebih terukur.
“Di level kompetisi global seperti Asian Games, kemampuan mekanik in-game saja tidak cukup,” ujar Pelatih Kepala Timnas Esports Indonesia, Richard Permana.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa esports semakin bergerak ke arah olahraga berbasis data.
Bagi Timnas Esports Indonesia, kemenangan bukan hanya soal seberapa cepat tangan bergerak di dalam game, tetapi juga seberapa siap tubuh dan pikiran atlet ketika pertandingan dimulai.