-
Sejarah Gunung Anak Krakatau dimulai dari kemunculannya pada tahun 1927.
-
Pertumbuhan tinggi Anak Krakatau tergolong sangat cepat dibanding gunung lain.
-
Longsoran bodi gunung memicu bencana tsunami Selat Sunda pada 2018.
Tragedi Tsunami 2018 dan Perubahan Wujud
Momen paling kelam dalam sejarah Anak Krakatau terjadi pada 22 Desember 2018.
Tanpa peringatan gempa tektonik yang besar, tubuh gunung mengalami longsoran besar (flank collapse) seluas minimal 64 hektare yang jatuh ke laut.
Peristiwa ini memicu tsunami mematikan di Selat Sunda yang menghantam pesisir Banten dan Lampung. Dampak dari longsoran ini pun mengubah total morfologi gunung:
- Ketinggian menyusut drastis: Dari 338 mdpl menjadi hanya 110 mdpl.
- Kehilangan massa: Sekitar 150-180 juta meter kubik material longsor ke laut.
- Terbentuk danau kawah: Foto satelit menunjukkan kawah yang tadinya berupa lubang magma kini berubah menjadi laguna yang kemudian terpotong menjadi danau kawah.
Status Terkini dan Mitigasi
Sejak tragedi 2018, tipe letusan Anak Krakatau berubah dari tipe Strombolian (lontaran lava pijar) menjadi tipe Surtseyan (percampuran magma dengan air laut).
Meskipun tingginya sempat menyusut, Gunung Anak Krakatau tetap aktif melakukan erupsi dan secara perlahan kembali menimbun material untuk tumbuh.
Pemerintah melalui PVMBG terus melakukan pemantauan 24 jam dengan berbagai alat canggih,
termasuk pemasangan buoy pendeteksi tsunami di sekitarnya.
Kini, dengan status yang sering berfluktuasi antara Waspada (Level II) hingga Siaga (Level III), masyarakat diingatkan untuk selalu mematuhi radius aman.
Sejarah mencatat bahwa Anak Krakatau adalah pengingat nyata bahwa kekuatan alam yang luar biasa selalu menuntut kesiapsiagaan dari kita yang hidup berdampingan dengannya.