- Vice Chairman AMSI Suwarjono menyatakan kecerdasan buatan mengubah total proses produksi hingga model bisnis media.
- Ketua IPRAHUMAS Fachrudin Ali menyampaikan teknologi kecerdasan buatan membantu pemerintah mempercepat pengolahan informasi dan transkrip.
- Direktur CARMA Sabrina Azmi menjelaskan kepercayaan publik terhadap opini kecerdasan buatan lebih tinggi pada jurnalis dan akademisi.
Suara.com - Perjalanan industri media memasuki babak baru setelah artificial intelligence (AI) ikut mengubah cara informasi dibuat, disebarkan, dan ditemukan publik.
Perubahan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Sebelum AI, industri media telah lebih dulu menghadapi gelombang disrupsi dari agregator hingga media sosial.
Namun, AI membawa perubahan yang lebih luas karena teknologi ini mulai masuk langsung ke proses produksi sekaligus menjadi pintu baru bagi masyarakat untuk mencari informasi.
Vice Chairman Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Suwarjono mengatakan, dirinya melihat setidaknya tiga perubahan besar yang dialami industri media, yakni ketika agregator hadir, kemudian media sosial, dan kini AI.
“Disrupsi pertama adalah ketika hadir teknologi pertama namanya agregator,” ujar Suwarjono dalam The 5 IABC Indonesia Conference & Awards 2026, bertema “Driving Communications Impact: Building Trust in the Age of AI” di Jakarta, (18/9/2026).
Menurutnya, kehadiran agregator membuat media mulai memahami bahwa distribusi berita tidak lagi hanya bergantung pada situs milik sendiri.
Ketika media sosial berkembang, perubahan menjadi semakin besar karena media harus hadir di berbagai platform agar kontennya bisa menjangkau publik.Kini, AI kembali mengubah pola tersebut.
“Yang terakhir adalah mengendalikan AI. Di AI ini dari produksi sampai ke bisnis model itu juga berubah total,” katanya.
Dalam proses produksi, misalnya, AI dapat membantu media membaca statistik, mengidentifikasi isu yang sedang berkembang dari berbagai wilayah, hingga melihat pola audiens.
Namun, menurut Suwarjono, teknologi tersebut sekaligus membuat tantangan jurnalisme semakin kompleks. Ketika informasi dapat dibuat dan disebarkan dengan sangat cepat, keberadaan liputan langsung dan proses verifikasi justru semakin penting.
“Jurnalisme ke depan tetap akan masih relevan karena hadirnya platform baru yang ternyata mengandalkan media jurnalisme sebagai salah satu sumber utama,” ujarnya.
AI Mengubah Cara Kerja Komunikasi
Perubahan tersebut tidak hanya dirasakan oleh industri media. Dunia komunikasi pemerintah juga mulai memanfaatkan AI untuk mempercepat pekerjaan sehari-hari.
Ketua Ikatan Pranata Humas Indonesia (IPRAHUMAS), Fachrudin Ali mengatakan, AI dapat membantu pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu cukup panjang, terutama dalam mengolah informasi.
“Dengan hanya menggunakan AI saya enggak sampai lima menit semua transkrip selesai,” kata Fachrudin.
Setelah transkrip tersedia, materi tersebut dapat kembali diolah menggunakan AI menjadi berbagai format komunikasi. Namun, menurut Fachrudin, kemudahan tersebut tidak menghilangkan kebutuhan terhadap pemahaman substansi.
![Ilustrasi media. [Unsplash/Matthew Guay]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2024/07/04/99755-ilustrasi-media.jpg)
Justru ketika informasi bergerak semakin cepat, komunikasi pemerintah menghadapi tantangan untuk menjaga kepercayaan publik.
“Pemerintah itu punya legitimasi kekuasaan tapi belum tentu legitimasi itu bisa diaktualisasikan ke dalam legitimasi komunikasi,” ujarnya.
Karena itu, komunikasi di era digital tidak cukup hanya mengandalkan rilis. Menurut Fachrudin, publik membutuhkan pesan yang jelas, konsisten, dan berdampak, sekaligus membuka ruang komunikasi dua arah.
Perhatian Belum Tentu Berujung Kepercayaan
Perubahan ekosistem informasi juga terlihat dari cara publik menentukan siapa yang mereka percaya.
General Manager Indonesia Research Solutions dan Director CARMA, Sabrina Azmi, mengatakan ada perbedaan antara mendapatkan perhatian, memiliki pengaruh, dan memperoleh kepercayaan.
“Perhatian memberikan suara buat Anda,” ujar Sabrina.
Ia menjelaskan, perhatian dapat membuat seseorang atau organisasi memperoleh porsi pemberitaan lebih besar. Pengaruh kemudian membuat orang ingin mendengarkan.
Namun, kepercayaan tidak bisa diperoleh hanya dengan banyaknya pemberitaan.
“Kepercayaan benar-benar merupakan sesuatu yang harus didapatkan melalui usaha.,” katanya.
![Ilustrasi kecerdasan buatan. [Freepik]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/08/25/51931-ilustrasi-kecerdasan-buatan.jpg)
Dalam riset yang dipaparkannya, CEO perusahaan AI termasuk pihak yang memiliki porsi besar dalam pemberitaan mengenai AI. Namun, tingkat kepercayaan publik terhadap opini mengenai AI justru lebih tinggi pada jurnalis dan akademisi.
Menurut Sabrina, apa yang dikatakan sebuah organisasi perlu sejalan dengan apa yang mereka lakukan. Hal tersebut menjadi bagian penting dalam membangun reputasi dan kepercayaan.
“Orang-orang baru akan mulai memercayai dan meyakini Anda ketika Anda mewujudkan hal-hal ini dalam tindakan nyata,” ujarnya.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa AI bukan sekadar teknologi baru untuk membuat konten. Kehadirannya ikut mengubah hubungan antara media, pemerintah, komunikator, platform, dan masyarakat.
Informasi kini dapat diproduksi lebih cepat, didistribusikan melalui lebih banyak kanal, dan ditemukan dengan cara yang berbeda.
Tetapi di tengah perubahan tersebut, satu hal tetap menjadi perhatian: bagaimana memastikan informasi yang sampai kepada publik tetap memiliki dasar yang dapat dipercaya.