Rano Karno: Politik Itu Kejam, Kita Harus Siap dengan Segala Konsekuensi

Arsito Hidayatullah | Erick Tanjung
Rano Karno: Politik Itu Kejam, Kita Harus Siap dengan Segala Konsekuensi
Ilustrasi wawancara. Rano Karno. [Foto: Alfian Winanto / Olah gambar: Suara.com]

Rano Karno mengakui dalam politik popularitas bisa jadi faktor nomor satu, tapi bukan satu-satunya karena ada unsur lain yang bisa bermain.

Suara.com - Dikenal sebagai salah satu sosok selebritas atau artis yang terjun ke dunia politik, Rano Karno tergolong salah satu yang berpengalaman, baik di lembaga eksekutif maupun di legislatif. Menjabat Wakil Gubernur kemudian sempat menjadi Gubernur Banten, Rano juga tergolong yang cukup lengkap merasakan pahit-manisnya dunia politik.

Dalam kesempatan berkunjung ke kantor Arkadia Digital Media di Jakarta, Selasa (7/1/2020) lalu, Rano pun sempat diajak berbincang sejenak seputar topik tersebut, yakni artis di dunia politik. Padahal, saat itu dia sejatinya datang bersama rombongan artis lainnya dalam rangka promo film ketiga dalam trilogi Si Doel, sebuah judul sinema yang melambungkan namanya sejak bertahun-tahun lalu.

Berikut petikan wawancara singkat Suara.com dengan Rano Karno saat itu:

Anda diketahui sudah dua kali menjadi anggota DPR RI. Apakah hal ini berkaitan dengan popularitas Anda sebagai artis?

Salah satu unsur yang mengantarkan saya ke gedung dewan, ya, karena saya artis. Walaupun itu bukan satu-satunya unsur. Kemudian unsur yang lain, karena pemilihan Dapil (daerah pemilihan) yang tepat. Dapil saya ini kan Banten III. Kenapa saya di Banten III? Karena kebetulan dulu saya pernah jadi Gubernur. Jadi, jauh lebih mudah; "deposito"-nya sudah adalah. Jadi betul, ini adalah yang kedua. Tetapi ini bukan dua periode. Artinya, ini saya menjadi anggota dewan (memang) tak lepas daripada itu (status artis).

Begitu juga tampaknya saat Anda ikut Pilkada dan menang pada periode pertama. Apakah memang popularitas artis itu sangat diperhitungkan dalam "matematika politik elektoral" di Indonesia?

Dalam matematika politik elektoral, popularitas nomor satu, walaupun bukan satu-satunya. Terbukti, (di) Pilkada kedua saya kalah, karena ada unsur lain yang bermain, (yang) memang mungkin tidak bisa saya isi. Cuma tentu, saya menyikapi dengan positif, bukan negatif. Artinya, salah satu elektoral yang paling mudah adalah populer. Itu saja sudah menjadi, minimal 30 persen sudah bisa kita ini (jadi modal menang). Yang kedua, strategi pemenangan seperti apa.

Soal kinerja bagaimana? Apakah Anda melihat ada perbedaan kinerja antara politikus artis maupun yang bukan?

Oh, sama saja. Karena (di DPR) artis ini kan masuk ke dalam komisi-komisi yang bukan bagian artis. Kebetulan kalau saya di Komisi X, memang saya yang minta. Karena itu bicara tentang pendidikan, kebudayaan, pemuda dan olahraga, pariwisata. (Artis) Yang lain tidak di sini. Kalau pun dikatakan artis di Komisi X, cuma ada tiga: saya, Bang Dede Yusuf, dan Desi Ratnasari. Ya, cuma tiga itu. Yang lain, Mulan dan Krisdayanti (itu) di Komisi IX.

Banyak yang menilai artis terjun ke politik itu hanya untuk "melebarkan sayap" secara ekonomis. Benarkah? Bagaimana Anda melihat kawan-kawan artis selama ini?

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS