- Direktur Utama KB Bank, Kunardy Darma Lie, menargetkan bank tersebut masuk jajaran 10 bank terbesar di Indonesia.
- KB Bank berfokus pada transformasi dengan memperkuat segmen wholesale sambil tetap melayani segmen ritel dan UMKM.
- Strategi utama mencakup perbaikan kualitas aset dengan menurunkan NPL tinggi dan menargetkan profitabilitas operasional positif.
Suara.com - Membawa PT Bank KB Indonesia Tbk (BBKP) masuk ke daftar top 10 bank terbesar di Indonesia adalah ambisi Kunardy Darma Lie, yang menjabat sebagai direktur utama bank asal Korea Selatan itu pada pertengahan 2025 lalu.
Kunardy mengatakan meski dirinya optimistis KB Bank akan mampu menjadi salah satu pemain utama di industri perbankan Indonesia, tapi ada beberapa syarat yang harus dipenuhi.
Berikut adalah petikan wawancara ekslusif Dirut KB Bank Indonesia Kunardy Darma Lie, yang ditemani Direktur Kredit Henry Sawali, dengan Pemimpin Redaksi Suara.com Suwarjono dan Mohamad Teguh, Pemimpin Redaksi IDNFinancials.com dalam program Meet The CEO:
Selamat sore Pak Kunardy dan Pak Henry
Kita akan ngobrol santai terkait perkembangan industri finansial digital dan perkembangan perbankan ke depan. Mulai dari satu yang sangat simpel: penyebutan yang benar PT Bank KB Indonesia atau Bukopin?
Kunardy: Jadi memang cikal bakal dari bank ini sebelumnya adalah PT Bank Bukopin. Kemudian KB masuk. KB itu adalah Kookmin Bank dari Korea. Di Agustus 2025 mereka mengubah nama dari sebelumnya PT KB Bukopin menjadi PT Bank KB Indonesia Tbk.
Nah, yang menarik juga akhirnya ada direktur utama dari Indonesia sendiri, yang sebelumnya selalu dari Korea.
Kunardy: Jadi, betul saya di sini baru tiga bulan. Secara fit and proper, sebelumnya saya menjadi direktur corporate banking di sebuah bank asing dari Singapura. Sebelumnya juga saya sudah menjadi presdir di bank Jerman di Indonesia dan lamanya saya di sebuah bank Amerika, 18 tahun. Jadi selama perjalanan saya, selalu menekuni perbankan ini dari sisi customer facing dan sebagainya.
Ini kesempatan baik untuk saya menakhodai sebuah bank, PT Bank KB ini. Kita tahu bahwa komitmen dari KB di Korea sang terhadap Indonesia sangat kuat dan saya merasa tertantang karena bank ini masih dalam fase transformasi.
Baca Juga: KB Bank dan KB Bank Syariah Salurkan Bantuan bagi Warga Terdampak Banjir di Sumatera
Karena seperti di bank saya sebelumnya, juga yang bank Singapura itu, saya membantu mereka dalam sisi transformasi, di mana mereka rugi 8 tahun dari sisi segmen corporate banking-nya. Dan selama dua tahun setengah kita bantu untuk menjadi profitable dan mencapai hasil yang baik dengan award-award yang internasional, dipercayai di luar juga.
Nah, itu adalah harapan saya. Semoga saya dan tim juga bisa membantu KB Bank ini untuk bertransformasi untuk menjadi lebih dikenal.
Oleh karena itu, sewaktu saya bergabung dengan Bank KB, saya memberikan sebuah visi baru. Visi saya, adalah intinya adalah menjadi mitra terpercaya bagi semua pemangku kepentingan, stakeholder. Juga menjadi institusi finansial terpandang di Indonesia dan menjadi juga tempat berkarier bagi talent.
Kenapa menjadi mitra terpercaya itu sangat penting? Karena histori dari bank ini belum sampai menjadi mitra terpercaya. Siapa pemangku kepentingan itu? Customer, investor, pemegang saham, regulator, dan juga karyawan.
Jadi ini adalah tantangan kami. Semoga journey ini, transformasi ini dapat kita sukseskan dan kita dapat mencapai visi yang kita tanang canangkan itu.
Ada pertimbangan lain enggak? Misalnya karena orang Indonesia punya karakter berbeda dengan pimpinan-pimpinan asing misalnya?
Kunardy: Iya, sudah tentu. Karena ini market perbankan di Indonesia, saya sebagai pemimpin lokal kita kan lebih mengerti mengenai kultur di Indonesia, bagaimana berbisnis dengan customer di Indonesia.
Jadi itu adalah karakteristik-karakteristik yang kami bawa dan saya bawa dan juga tim saya yang lokal yang bisa menjembatani perbedaan berbisnis di Korea dan berbisnis di Indonesia. Itu beda kan. Culture-nya juga beda.
Jadi sudah tentu untuk berhasil di Indonesia harus dijembatani dengan bankir yang paham mengenai market di Indonesia dan bagaimana berhubungan dengan customer.
Nah KB Bank itu kalau di Korea kan number one. Terbesar di Korea dan DNA-nya kalau enggak salah terutama adalah properti. Ketika masuk bank di sini kan sebetulnya spesialisnya bank yang lama itu UMKM. Sebetulnya ini nanti DNA-nya mau diarahkan ke mana? Kalau properti mungkin sudah ada BTN yang kuat, UMKM sudah ada BRI yang sangat kuat. Kemudian wholesales ada BCA. Kalau kita mendengar KB Bank ini sebetulnya kita harus membayangkan apa?
Kunardy: Iya, benar. Memang kalau kita melihat bagaimana KB Bank ini ke depan mau seperti apa, tetap kita ingin menjadi universal bank. Artinya apa? Kita tidak akan meninggalkan retail.
Boleh saya akui, semenjak saya masuk ke sini, saya menyadari bahwa produk offering-nya kita cukup luas, end to end. Karena kan dulunya kan Bukopin. Tapi ke depan kita juga mau meng menguatkan sisi dari wholesale, sisi korporasinya. Kita ingin memfokuskan kan aset-aset loan portfolio kita di perusahaan-perusahaan yang besar yang quality kreditnya bagus.
Seperti kita ketahui masalah yang membebankan bank ini di masa lampau adalah NPL yang tinggi ya. NPL yang tinggi. Oleh karena itu, kita ingin meningkatkan loan portfolio yang baik, yang sehat, recovery dari NPL tersebut supaya NPL-nya juga turun.
Tapi ke depan wholesale bank ini kita akan terus tingkatkan dan dari wholesale bank ini menjadi basis untuk kita me-refer dan cross sell ke retail.
Jadi misalkan kita memberikan financing ke sebuah perusahaan yang besar, kita juga melihat ekosistemnya seperti apa? Karyawannya seperti apa? Karena karyawannya ini kan merupakan target market dari retail.
Misalkan kita memberikan financing ke department store, kita bisa juga masuk EDC kita ke sana, supplier kita juga tab.
Memang tidak dipungkiri dunia perbankan ini makin hari juga makin tidak muda. Kompetisi banyak, regulasi dan sebagainya.
Yang juga penting adalah fee based income. Ini sangat penting. Saya selalu bicara ke tim bahwa fee based income yang membedakan antara kita make profit atau tidak.
Artinya sebetulnya KB Bank ini akan totally berubah. Kemudian kalau kita baca di KB Bank Korea memakai digital approach tapi kunjungan account officer tetap terjadi. Jadi gabungan, enggak semata-mata digital. Apakah strategi di Indonesia juga akan berubah total dengan menggabungkan dua pendekatan ini?
Jadi betul kita selalu terus mengkaji keberadaan kantor cabang. Kita lihat cabang kalau banyak pun tapi kalau tidak profitable apa fungsinya? Menurut saya cost itu sangat penting ya. Jadi jumlah cabang kita terus akan mengkaji berapa amount yang tepat.
Satu hal, kita juga tidak mau terlalu banyak, tapi kita juga tidak mau terlalu sedikit. The right size itu berapa? Kita sekarang cabang ada sekitar 150an.
Tapi juga hal yang lain mengenai digital. Itu penting sekali. Kita digital juga sekarang masih terus berkembang. Tapi nasabah-nasabah yang segmen tertentu kita mungkin cukup di-cover oleh digital. Terus segmen customer yang lebih prioritas ada banker-banker tertentu. Jadi it's a mix of jadi kombinasi dari dua sisi itu.
Kemudian bank-bank Korea di sini juga enggak sedikit, ada lima. Ya artinya ada kemungkinan mungkin KB Bank juga akan masuk ke perusahaan-perusahaan Korea untuk mendapatkan kredit yang berkualitas. Nah, pertempuran antar sesama Korean Bank ini kira-kira bagaimana ke depan? Yang kedua, kalau UMKM itu akan tetap diambil atau tidak?
Kunardy: Saya jawab pertanyaan yang terakhir dulu. Apakah kita akan meninggalkan UMKM? Tidak. Kita tetap ada di UMKM. Malah saya juga pas datang ke sini saya juga lihat bahwa kita ada KUR.
Tapi yang penting apa sih, Pak? Kita mau yang makes sense-lah. UMKM juga, kita akan melihat UMKM yang lebih besar. Kenapa? Karena kita yang tadi kita tidak mau mengurangi NPL. Tapi juga tidak hanya memberikan financing, kita memberikan juga ada cross selling.
Apakah accountnya ada di kita, fee based-nya ada di kita? Jadi tidak hanya kasih loan murah terus pulang tidur, tidak. Jadi kita kasih terus kita lihat juga apa lagi yang bisa kasih kita ke retail-nya, ke ke karyawannya.
Nah, untuk yang Korean link ini sudah tentu dengan karena kita adalah bank Korea yang di Indonesia, salah satu strength kita adalah bagaimana kita memberikan connectivity antara Korea dan Indonesia. Bagaimana company-comany Korea yang mau berinvestasi di Indonesia bisa kita bantu. Misalkan eh kita kemarin memberikan financing ke PT Intiland dengan industrial estate. Jadi kalau nanti ada perusahaan Korea mau masuk kita bisa memberikan referal.
Nah kompetisi di bidang segmen ini pun saya rasa ke depan pasti akan semakin intens. Karena bank-bank Korea di Indonesia pun juga mentargetkan segmen yang sama. Artinya apa? Kita harus berinovasi. tidak hanya memberikan financing dengan bunga atau dengan bunga yang murah, tapi kita juga memberikan added value,, misalnya dalam sisi cash management-nya atau dari sisi advisory-nya.
Ke depan persaingan industri perbankan sangat ketat. Kira-kira tawaran-tawaran atau kelebihan-kelebihan apa yang hanya ada di KB Bank?
Kunardy: Ya, mungkin kalau dikatakan bahwa apa yang ada di KB Bank dan di bank lain enggak ada mungkin enggak lah. Karena hampir semua bank menurut saya adalah seperti komoditas. Hampir semua ada. Memang ada beberapa bank yang tidak ada.
Misalkan tidak banyak bank yang mempunyai mini ATM. Yang punya mini ATM mungkin hanya kita, bank pemerintah, dan yang lain. Ini adalah satu menjadi satu added value kita di mana kita bisa berbeda dengan bank lain. Dan itu pun juga saya sudah sarankan ke tim untuk terus dikembangkan, karena tidak semua bank ada.
Yang yang mungkin yang kita lihat bahwa apa yang menjadi value add KB Bank ini adalah ya itu kita mempunyai produk yang lumayan lengkap end to end. Dari retail dan dari sisi wholesale kita juga mempunyai banyak ragam offering. Dari sisi modal kerja, modal investasi, project financing dan sebagainya.
Yang saya infokan juga ke tim adalah kita juga ingin menjadi leader. Ingin menjadi leader kalau misalkan dalam sisi loan sindikasi. Kalau dulu hanya ikut-ikut orang, ikut-ikut bank lain, tapi kita juga mau menjadi leader untuk transaksi-transaksi besar.
Dan mungkin di satu bulan sampai dua bulan ke depan, Bapak mungkin akan mendengar ada beberapa deal yang kita kerjakan di mana kita menjadi leader.
Tadi beberapa kali disebut tentang NPL, Pak. Sebetulnya kondisi kualitas aset dari KB Bank ini sekarang bagaimana? Dan kita lihat juga dalam triwulan pertama, kedua, ketiga KB Bank sudah menunjukkan profitability yang bagus. Nah, kira-kira tahun depan akan tercapai growth berapa?
Henry: Pada dasarnya di tempat kita NPL-NPL itu kita urus secara bertahap. NPL kita ini merupakan satu kontribusi dari periode-periode sebelumnya. Jadi di dalam penyelesaian NPL ada beberapa strategi kita lakukan untuk menurunkan NPL atau penjualan-penjualan selain koleksi secara generik.
Kita melakukan collection secara intensif. Kita memiliki tim spesial asset sendiri yang benar-benar melakukan collection untuk account-account bermasalah atau tidak produktif.
Jadi strategi kita dilakukan collection tentunya dengan negosiasi dengan dilakukan langkah-langkah, kalau memang dipaksa bisa sampai ke ranah hukum ya
Strategi kedua, penyelesaian NPL atau aset nonproduktif secara lelang baik individual dan secara bulk.
Namun di dalam perjalanannya modal ini bagaimana, apakah modalnya ini sudah kelebur dengan NPL? Modal ini kita tentunya alokasi dengan secara hati-hati. Jadi, kita harus alokasi modal ini untuk pertumbuhan bisnis, ada juga untuk kredit yang bermasalah.
Lalu bagaimana NPL ini ke depannya? Nah, ke depannya kita harapkan masa detoksnya itu sudah selesai. Jadi harusnya kita ke depannya akan masuk ke langkah untuk pertumbuhan yang lebih solid.
Bisa digambarkan enggak mungkin dalam persentase aja NPL itu berapa persen?
Henry: NPL kita secara gross Kalau yang dipublish itu sekitar 10,7 secara grossnya. Tetapi ekspektasi kita NPL ini tentunya akan bisa di-manage dengan lebih baik ke depannya.
Kira-kira tahun targetnya tahun berapa kira-kira beres ini?
Henry: Pertanyaan ini cukup tricky karena NPL memang enggak 100 persen bisa diprediksi berapa akan turunnya. Tetapi pada dasarnya kita memiliki target secara berkala. Yang juga merupakan komitmen kita kepada tentunya kepada shareholder dan regulator. Ekspektasi kita di 2026 NPL ini bisa mencapai angka yang favorable buat sebuah bank di mata publik.
Angka bottom line-nya untuk laba bersih di 2025 kira-kira berapa?Kalau boleh atau kira-kira growth-nya saja?
Kira target Rp 300 miliar atau Rp 288 miliar.
Nah, kalau KB Bank di Korea itu number one, target Bapak kira-kira untuk di Indonesia ini akan menjadi di angka berapa?
Kunardy: Jadi mungkin sebelum saya menjawab pertanyaan itu, Pak, mungkin saya ingin menambahkan tadi penjelasan dari Pak Henry. Memang dengan sekarang OJK juga ada rencana untuk menghilangkan KBMI 1, hanya ada KBMI 2. Itu artinya himbauan secara tersirat bahwa bank itu harus mempunyai modal yang kuat.
Jadi untuk KB Bank di Indonesia ke depan, dengan tadi NPL yang Pak Hendry katakan masih lumayan tinggi di atas normal industri, saya secara pribadi juga beropini bahwa memang Bank KB ini harus mendapatkan suntikan dana modal dari pusat segera.
Apakah itu akan terjadi di tahun depan atau dua tahun lagi kita lihat. Tapi itu sangat diperlukan supaya bank ini bisa take off. Karena mau tidak mau salah satu cara untuk membersihkan NPL adalah dengan penyuntikan modal modal.
Nah untuk menjawab pertanyaan Bapak yang tadi tujuan kami, memang sekarang kita di Indonesia masih kecil. masih belum begitu dikenal.
Tujuan kami adalah kita ingin di masa yang tidak terlalu lama untuk menjadi top 10 bank di Indonesia. Tapi itu pun saya garis bawahi itu akan terjadi kalau ada suntikan modal.
Dari sisi transformasi kami yakin apa yang harus kami lakukan dalam sisi organizational, dalam sisi bisnis. Kita juga sudah align secara struktur bagaimana yang optimal untuk terus berkembang.
Karena kita kan juga bangkir veteran dan kita tahu marketnya. Satu hal juga yang penting adalah tim yang kuat, tim yang seirama.
Tadi ada disebutkan kemungkinan akan ada injeksi modal dan tentu kalau melihat "bapaknya" KB Bank yang begitu besar sebetulnya pasti akan terjadi. Berarti akan ada right issue lagi dalam waktu yang enggak lama?
Kunardy: Jadi ini adalah hal-hal yang kita belum bisa jawab. Tapi kami, saya, Pak Henri dan juga jajaran BOD kami meyakini bahwa injection dana itu adalah modal, itu penting ya untuk pertama, keluar totally ya dari zona NPL. Kedua yang lebih penting lagi adalah untuk take off.
Apakah misalnya selama setahun ini sudah ada kinerja positif yang menjadi prasyarat agar ada suntikan modal lagi?
Kunardy: Kalau saya bisa analoginya seperti pesawat mau lepas tandas, harus tambah booster misalkan bensin atau avtur. Tapi kita juga harus pastikan bahwa landasannya sudah bersih. Kalau banyak lubang harus tambal supaya take off lancar dan yang penting.
Jadi sama juga apa yang setelah kita lakukan kita ini sedang berbenah dari sisi struktur, dari sisi governance, dari sisi control, dari sisi cost, dari sisi tim, dari sisi bisnis segment. Semuanya.
Dan saya rasa selama saya di sini tiga bulan ini juga sudah banyak yang saya bereskan.
Kita lanjutkan soal NPL. Komposisinya itu bagaimana, perusahaan besar atau UMKM?
Henry: Pada dasarnya kalau NPL ini memang tidak merujuk kepada satu segmen khusus. Secara jumlah debitur, kontribusi dari setiap segmen tentunya ada.
Kemudian, secara umum sekarang bank-bank liquidity-nya ada dana pihak ketiga total di market itu sekarang R9.500 triliun. Sebagai bankers apa yang terjadi sih Pak? Outstanding untuk loan itu ada, tapi eh banyak nasabah yang tidak mau ambil kredit. Pengalaman KB Bank bagaimana soal kredit ini?
Henry: Pendapat saya pribadi, market Indonesia cukup unik karena terdiri dari segmen beragam. Ada segmen yang bagus, ada kurang baik. Baik yang secara horizontal atau industry based pun yang secara vertikal.
Nah, utilisasi ini mungkin belum efisien sehingga perputaran yang ada belum efisien. Sehingga membuat pertumbuhan kredit di pasar belum maksimal. Di samping memang mungkin secara ekonomik, global economic itu juga slowing down.
Sebagai banker kan detak jantungnya itu kerasa ini growth atau enggak, minat untuk kredit atau turun atau stagnan. Kalau melihat growth-nya ini minat untuk kreditnya bagaimana Pak?
Henry: Secara keseluruhan seharusnya minat kredit tidak setinggi tahun-tahun sebelumnya.
Pertumbuhan kredit masih di bawah 8 persen sekarang. Sebelum-sebelumnya masih double digit mungkin 10 sampai 11 persen. Sekarang ini pergerakannya mungkin lebih slowing down.
Baik dari sisi debiturnya atau dari perbankan lebih berhati-hati.
Kunardy: Saya tambahkan juga, sekarang ini kita memasuki era yang banyak uncertainty baik dari sisi geopolitik dan sebagainya. China dengan Jepang lagi tension. Kadang-kadang tarif dari Amerika yang bisa kapan saja bisa naik bisa turun.
Terus kembali ke dalam negeri. Kita melihat bahwa banyak sekali juga berita-berita bahwa middle income itu sudah berkurang. Segmen kelas menengah itu makin miskin, makin kurang uangnya.
Artinya apa? Orang mau spending juga ragu-ragu ya kan. Kalau orang optimismenya tinggi. Sekarang mungkin ada tendensi di mana orang mulai lebih banyak menabung.
Makanya dana ketiganya besar. Nah, kalau dari sisi itu dari sisi konsumen.
Dari sisi produsen ya mereka juga melihat kalau ada seperti ini mungkin saya awal mau ekspansi pabrik tambah kapasitas produksi, ah nanti dulu deh.
Mengenai kebutuhan modal, tadi ada kemungkinan ada right issue. Kalau sukuk bagaimana, Pak?
Henry: Kalau sukuk kita masih penggodokan. Kita belum bisa sampaikan pada kesempatan ini.
KB Bank di Korea itu kan majority adalah bank properti. Kalau di Indonesia ini apakah akan masuk ke rumah atau kredit motor atau apa Pak?
Kunardy: Memang walaupun KB Bank di pusat lebih banyak di properti, kita pun di sini juga ada exposure seperti itu. Kita punya KPR. Kita pun memberikan financing ke perusahaan-perusahaan properti. Kedua, ke depannya seperti apa ya kita tetap apa menganut sistem balance, dari sisi retail, wholesale dan sebagainya.
Mungkin kita lihat komposisinya adalah 55:45. Saya rasa itu mix yang yang cukup baik.
Jadi enggak ada misalnya spesial kredit khusus motor atau yang tadinya mobil enggak enggak ada semacam program pengkhususan itu?
Kunardy: Saya ingin tambahkan adalah kita di sini ada sister company. Ada delapan sister company. KB Financial Group itu bukan hanya bank. Ada sekuritas, Valbury namanya. Ada juga asuransi, ada multifinance dan ini yang untuk kredit motor.
Dengan kondisi ekonomi tahun depan yang tidak banyak berubah, apa yang akan dilakukan oleh KB Bank untuk akselerasi?
Kunardy: Secara fakta, profitnya itu kan bottom line. Tapi jangka pendeknya kita juga ingin membuat operating profit kita positif, karena operating profit kita masih negatif. Artinya apa? Revenue dan cost kita masih belum imbang.
Jadi utama, jangka pendek kita adalah di tahun depan untuk operating profit ini positif. Oleh karena itu, kita ingin tingkatkan growth di bisnis dan menekan cost. Jadi semua cost yang tidak perlu akan kita kurangi. Jadi semoga dengan disiplin ini kita bisa mencapai operating profit yang positif.
Ini untuk memberikan sinyal bahwa kita siap untuk injection modal.
Bapak sangat pengalaman di bank-bank asing ya, Deutsch Bank, Citi Bank, DBS Bank yang sistemnya sudah jadi, culture-nya sudah jadi. Kira-kira ada perubahan besar enggak dari sisi cara kerja? Karena Bapak masuk di pertempuran lain sekarang di KB Bank ini.
Kunardy: Memang itu bank-bank global yang mapan dan lama di Indonesia. Dan KB Bank ini bank lokal. Asli listing di Indonesia juga di IDX. Jadi secara secara exposure ini totally beda. Jadi saya mengatakan bahwa, pengalaman saya sebelumnya dibandingkan di sini, saya banyak sekali belajar di sini.
Tantangan yang saya sebelumnya dulu tidak pernah hadapi. Karena bank-bank asing yang Bapak sebutkan itu adalah sangat steril. Tapi kalau steril itu biasa kita jarang jadi jarang belajar. Di sini saya banyak belajarnya.
Jadi ya dan saya juga mengatakan quite challenging Tapi saya yakin dengan teamwork yang baik kita ini adalah salah satu bagian untuk menciptakan legacy. Semoga manajemen kita ini bisa membantu bank ini untuk benar-benar take off. Menjadi bank, yang sesuai dengan visi kami, menjadi bank yang terpandang di market Indonesia.
Terakhir kira-kira ada rencana buyback saham enggak?
Kunardy: Saya tidak bisa menjawab itu, Pak. Karena itu bukan menjadi prioritas yang utama. Mungkin kalau saya melihat bahwa ya kita prioritas utamanya adalah membenahi, memposisikan bank ini supaya ke depannya lebih baik. (*)