Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.551.000
Beli Rp2.425.000
IHSG 6.267,880
LQ45 625,790
Srikehati 305,028
JII 377,806
USD/IDR 17.830

Belanja Iklan Rokok Kretek Terbesar Ketiga di Televisi

Adhitya Himawan, Dian Kusumo Hapsari

Kamis, 12 Januari 2017 | 12:58 WIB
Belanja Iklan Rokok Kretek Terbesar Ketiga di Televisi
Petugas Unit Pelayanan Pajak (UPP) Tanah Abang dibantu Satpol PP melakukan pembongkaran papan reklame iklan rokok di kawasan Tanah Abang, Jakarta, Senin (21/12). [suara.com/Kurniawan Mas'ud]

Komite Nasional Pengendalian Tembakau dan penggiat masyarakat sipil di bidang pengendalian tembakau mendukung keputusan Komisi I DPR RI yang akan melarang iklan rokok di media penyiaran.  Langkah Komisi 1 DPR tersebut menunjukkan kepedulian para wakil rakyat untuk melindungi anak dan remaja yang selama ini menjadi target utama iklan rokok.

Komisi 1 DPR kini sedang membahas Rancangan UU Penyiaran, yang merupakan revisi atas UU Penyiaran No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Dalam draf DPR bulan Desember 2016, DPR menegaskan larangan iklan rokok pada pasal yang berbunyi “Materi siaran iklan dilarang mempromosikan minuman keras, rokok, dan zat adiktif lainnya”.

Langkah DPR dalam Draf Desember 2016 tersebut merupakan kemajuan positif, mengingat dalam draf-draf sebelumnya DPR masih membolehkan iklan rokok. Muhamad Joni, SH, MHA, Pengurus Komnas Pengendalian Tembakau Bidang Hukum dan Advokasi, menyatakan, “Pelarangan iklan, promosi dan sponsor rokok dalam RUU Penyiaran merupakan kebijakan politik hukum Dewan yang maju dan konform dengan UU Kesehatan dan sejumlah putusan MK. Soal larangan total iklan rokok itu, DPR telah terbukti pro pengendalian tembakau dan perlindungan masyarakat, karenanya mesti diamankan dalam harmoninasi, pembahasan, sampai pengesahan menuju era revolusi mental hak atas kesehatan dari bahaya rokok,” kata Joni dalam keterangan resmi, Kamis (12/1/2017).

Revisi UU Penyiaran telah dimulai sejak DPR periode lalu. Sejarah proses penyusunan RUU tersebut ditandai oleh catatan buruk. Dalam proses awal penyusunan RUU, Komisi 1 DPR periode lalu sebenarnya telah mengusung pasal pelarangan iklan rokok. Namun, dalam proses di tahap akhir, pasal larangan tersebut hilang, digantikan dengan tetap dibolehkannya iklan rokok di media penyiaran.

Joni menegaskan pihaknya tidak ingin preseden buruk ini terulang lagi. "Kita harus kawal bersama-sama pasal larangan iklan rokok ini sampai RUU ini disahkan,” ujar Joni.

UU No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan Pasal 113 menyatakan bahwa tembakau mengandung zat adiktif. Pada tahun 2012, Mahkamah Konsitusi juga telah menolak uji materiil terhadap pasal 113 dan 116 UU Kesehatan tersebut dan memutuskan bahwa tembakau tetap termasuk dalam golongan zat adiktif. Dua regulasi ini merupakan landasan hukum yang kuat bahwa iklan produk tembakau rokok seharusnya dilarang di media apapun.

“Kita semua tahu rokok itu produk berbahaya. Produk berbahaya seharusnya tidak diiklankan, ini sama saja mau menjerumuskan masyarakat ke hal yang merugikan. Iklan rokok bukan hanya menawarkan orang merokok, tapi juga menafikkan kampanye bahaya rokok karena citra positif yang diciptakan di iklan-iklannya. Industri rokok harusnya malu kalau ngotot produknya yang berbahaya terus diiklankan. Mau menjebak rakyat Indonesia?” ungkap Tulus Abadi, Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI).

Faktanya, selama ini belanja iklan rokok sangat besar di televisi. Menguatnya pemasaran yang masif oleh industri diperlihatkan dengan belanja iklan rokok yang terus meningkat dari tahun ke tahun (Media Scene, 2010 – 2014) dengan catatan bahwa belanja iklan rokok kretek menempati nomer tiga tertinggi belanja rokok di televisi.

baca juga

Menurut penelitian Nina Mutmainnah Armando dkk di Universitas Indonesia pada 2012 selama empat bulan di 10 stasiun televisi, satu stasiun televisi saja bisa menampilkan iklan rokok hingga 25 merek rokok dengan 48 versi. Inilah mengapa masyarakat, termasuk anak-anak, sangat mudah terpapar iklan rokok di media penyiaran, terutama televisi, meskipun ada pembatasan jam tayang. Pada tahun 2007, 97% anak mengaku melihat iklan rokok di televisi (studi UHAMKA dan Komnas Perlindungan Anak) dan 90% anak usia 13 - 15 tahun di tahun 2009 (Global Youth Tobacco Survey).

Padahal iklan rokok memiliki peran yang sangat besar dalam mempengaruhi perilaku merokok pada anak dan remaja. Berbagai studi ilmiah membuktikan bahwa iklan mendorong anak untuk mulai merokok. Di Indonesia, UHAMKA dan Komnas Anak menunjukkan bahwa 46,3 persen remaja mengaku mulai merokok karena terpengaruh oleh iklan rokok, 50% remaja perokok merasa dirinya seperti yang dicitrakan iklan rokok, dan 29 persen remaja perokok menyalakan rokoknya ketika melihat iklan rokok pada saat tidak merokok. Ditambah lagi, iklan rokok di televisi dianggap sebagai iklan yang paling menarik di televisi (Komnas Perlindungan Anak, 2013). 

Karena itu, melakukan pelarangan iklan rokok di media penyiaran menjadi sangat penting dan merupakan langkah awal dalam mengendalikan epidemi penyakit akibat produk tembakau. Dengan melarang iklan rokok di media penyiaran, Indonesia akan bergabung dengan 144 negara lain yang sudah melakukannya, termasuk negara-negara miskin di Afrika, seperti Namibia dan Ethiopia (WHO, 2013).

Dr. Dewi Motik Pramono, M.Si, tokoh perempuan sekaligus pendiri Wanita Indonesia Tanpa Tembakau, mendesak pemerintah Indonesia untuk bersungguh-sungguh melarang iklan rokok di berbagai media, karena iklan-iklan rokok saat ini sangat menyasar anak-anak dan perempuan yang merupakan pasar yang sangat besar. Dewi Motik menegaskan, “Hal yang harus diutamakan negara ini adalah perlindungan kepada masyarakat, bukan perlindungan kepada industri, apalagi ini industri rokok. Kalau anak-anak sehat, perempuan sehat, maka negara kuat dan hebat.” 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Pemerintah Jamin Kenaikan Pajak Rokok Tak Ganggu Inflasi

Pemerintah Jamin Kenaikan Pajak Rokok Tak Ganggu Inflasi

Bisnis | Selasa, 10 Januari 2017 | 19:02 WIB

Petani Tembakau Minta Gubernur Ganjar Tolak Impor Tembakau

Petani Tembakau Minta Gubernur Ganjar Tolak Impor Tembakau

Bisnis | Selasa, 10 Januari 2017 | 09:01 WIB

Pajak Produk Tembakau Tahun 2015 Capai Rp173,9 Triliun

Pajak Produk Tembakau Tahun 2015 Capai Rp173,9 Triliun

Bisnis | Selasa, 10 Januari 2017 | 08:58 WIB

Alamak, Rokok Bisa Bikin Penis Memendek?

Alamak, Rokok Bisa Bikin Penis Memendek?

Health | Kamis, 05 Januari 2017 | 21:00 WIB

Penerimaan Negara dari Rokok Kretek Capai Rp150 Triliun

Penerimaan Negara dari Rokok Kretek Capai Rp150 Triliun

Bisnis | Sabtu, 17 Desember 2016 | 19:57 WIB

Misbakhun Optimis RUU Pertembakauan Lindungi Semua Stakeholders

Misbakhun Optimis RUU Pertembakauan Lindungi Semua Stakeholders

Bisnis | Sabtu, 17 Desember 2016 | 19:51 WIB

MA Perintahkan Menperin Cabut Peta Jalan Produksi Rokok

MA Perintahkan Menperin Cabut Peta Jalan Produksi Rokok

Bisnis | Selasa, 13 Desember 2016 | 15:13 WIB

Berhenti Merokok Bisa Turunkan Risiko Kanker Paru

Berhenti Merokok Bisa Turunkan Risiko Kanker Paru

Health | Kamis, 17 November 2016 | 08:48 WIB

Perokok Berisiko 20 Kali Lipat Mengidap Kanker Paru

Perokok Berisiko 20 Kali Lipat Mengidap Kanker Paru

Health | Rabu, 16 November 2016 | 19:51 WIB

Petani Tuntut Pemerintah Tolak Modal Asing di Industri Tembakau

Petani Tuntut Pemerintah Tolak Modal Asing di Industri Tembakau

Bisnis | Rabu, 16 November 2016 | 17:07 WIB

Terkini

Operasi Kilat 24 Jam: Polda Lampung Sapu Bersih 41 Bandit, 86 Titik Kejahatan Terbongkar

Operasi Kilat 24 Jam: Polda Lampung Sapu Bersih 41 Bandit, 86 Titik Kejahatan Terbongkar

Lampung | Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:32 WIB

Warung Bu Sastro: Ketika Bisnis Tidak Cuma Soal Menghitung Untung

Warung Bu Sastro: Ketika Bisnis Tidak Cuma Soal Menghitung Untung

Your Say | Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:30 WIB

Gubernur Khofifah Pimpin Misi Dagang & Investasi Jatim-Kalbar: Catatkan Transaksi Rp 2,529 Triliun

Gubernur Khofifah Pimpin Misi Dagang & Investasi Jatim-Kalbar: Catatkan Transaksi Rp 2,529 Triliun

Jatim | Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:26 WIB

KMP Putri Yasmin Terbakar di Perairan Sekotong, Tim Gabungan Evakuasi Penumpang

KMP Putri Yasmin Terbakar di Perairan Sekotong, Tim Gabungan Evakuasi Penumpang

Bali | Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:24 WIB

Persija Gelar Pesta Besar di JIS, Brisbane Roar Jadi Lawan Sebelum Super League Bergulir

Persija Gelar Pesta Besar di JIS, Brisbane Roar Jadi Lawan Sebelum Super League Bergulir

Bola | Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:22 WIB

7 Tentara AS Tewas Bentrok Berdarah di Kapal Perang USS Abraham Lincoln

7 Tentara AS Tewas Bentrok Berdarah di Kapal Perang USS Abraham Lincoln

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:19 WIB

3 Rekomendasi Skincare Penghilang Flek Hitam untuk Usia 50 Tahunan, Lengkap dengan Review

3 Rekomendasi Skincare Penghilang Flek Hitam untuk Usia 50 Tahunan, Lengkap dengan Review

Lifestyle | Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:18 WIB

Menghidupkan Kembali 'Emas' Kopi Tombo, Menumbuhkan Ekonomi dan Menjaga Lingkungan

Menghidupkan Kembali 'Emas' Kopi Tombo, Menumbuhkan Ekonomi dan Menjaga Lingkungan

Jawa Tengah | Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:16 WIB

Buntut Kematian Winda Lorenza, Mantan Suami Dipatsus Propam Polda Sumut

Buntut Kematian Winda Lorenza, Mantan Suami Dipatsus Propam Polda Sumut

Sumut | Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:14 WIB

Solusi Gaji PPPK Nunggak: 3 Skema Bantuan Rp18,9 T Wajib Nyata, Jangan Cuma di Atas Kertas

Solusi Gaji PPPK Nunggak: 3 Skema Bantuan Rp18,9 T Wajib Nyata, Jangan Cuma di Atas Kertas

News | Rabu, 12 Agustus 2026 | 11:13 WIB

×