Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.798.000
Beli Rp2.660.000
IHSG 6.969,396
LQ45 677,179
Srikehati 334,465
JII 451,232
USD/IDR 17.370

KTNA Mart Solusi Tambah Nilai Produk Pertanian

Fabiola Febrinastri | Suara.com

Jum'at, 22 Maret 2019 | 09:12 WIB
KTNA Mart Solusi Tambah Nilai Produk Pertanian
Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir. (Dok : Kementan)

Suara.com - Ketua Umum Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir,menyatakan, berbagai dukungan pemerintah di atas membuat jumlah produksi berbagai komoditas terus merangkak naik. Untuk membantu memasarkannya dengan nilai jual yang lebih baik, KTNA terus berinovasi, salah satunya dengan menyiapkan KTNA Mart.

Ide ini bermula dari kegelisahan KTNA melihat kurang dipasarkannya olahan hasil pertanian Indonesia di pasar ritel. KTNA Mart diminta menjajakan minimal 30 persen produk pertanian lokal dan terus dinaikkan secara bertahap.

Sebagai contoh, produk lokal yang potensial dipasarkan, KTNA menghadirkan sejumlah UMKM yang mengolah hasil produk pertanian.

Salah satunya, Ibu Lasmi dari Kelompok Wanita Tani (KWT) Jakarta Selatan, yang sangat terkenal keberhasilannya mengembangkan jamu gendong. Sayangnya, ia merasa kesulitan meluaskan pasar jamu racikannya, yang ia jamin keaslian dan kemurnian penggunaan bahan-bahannya, karena menggunakan bahan pengawet.

"Salah satu racikan saya uang mulai populer adalah sanapis, yaitu campuran sawi, nanas, dan jeruk nipis. Ini berkhasiat untuk melancarkan pencernaan, mencegah osteoporosis, menurunkan kadar kolesterol, dan bisa meredakan batuk. Tapi saya kesulitan masuk ke pasar ritel karena ada biaya-biaya yang memberatkan untuk UMKM," ujar Lasmi, di Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Ia berharap peningkatan produksi yang telah dicapai dengan segenap dukungan pemerintah melalui Kementan, dapat disinergikan dengan membuatkan sebuah wadah untuk memasarkan produk-produk hasil olahan hasil pertanian.

Bendungan bagi Para Petani
Sementara itu, sejumlah bendungan dan embung kini sudah berfungsi di seluruh Indonesia. Hal ini merupakan jaminan bagi para petani untuk bisa menjalani aktivitas pertaniannya dengan lebih mudah dan menguntungkan.

"Penyediaan air dari bendungan yang berjumlah 65 buah, ada yang sudah selesai, ada juga yang belum. Embung yang jumlahnya bisa mencapai 30 ribu di seluruh Indonesia dibuatkan untuk menghadapi El Nino. Jumlah ini bisa mengairi lahan pertania hingga empat juta hektare," ujarnya, dalam Sarasehan KTNA di Wisma Yampi, Jaksel.

Ia menambahkan, untuk sistem irigasi, pemerintah membantu memperbaiki saluran air yang rusak, membuatkan embung (waduk kecil), karena selama ini, lahan pertanian tidak sepenuhnya mendapat pengairan yang ideal. Sejak 2015, petani juga mendapatkan bantuan berupa subsidi benih.

Untuk meningkatkan indeks pertanaman, dibantu dengan mekanisasi pertanian dari yang kecil hingga yang besar, termasuk dryer (mesin pengering) bagi petani jagung.Jumlahnya mencapai puluhan ribu unit. Winarno mengakui belum semua kelompok tani mendapatkan bantuan dalam bentuk alat mesin pertanian (alsintan), namun tak dipungkiri bahwa bantuan ini efektif menekan biaya tenaga kerja.

"Juga mesin panen. Potensi kehilangan saat panen sekarang berhasil diturunkan menjadi 3-4 persen. Ke depan, kita targetkan 2-3 persen, bahkan seperti di Jepang, 1-2 persen saja. Kita optimalkan di operatornya, nanti diberi pelatihan dan pembekalan lagi," jelas Winarno.

Ia menggambarkan, dulu saat panen masih menggunakan cara tradisional menggunakan arit, kehilangan saat panen mencapai 10 persen karena rontok. Berapa persen yang terselamatkan setelah adanya bantuan mekanisasi bisa dengan mudah dihitung, dan menurutnya, ini menjadi keutungan langsung bagi petani.

"Untuk menghadapi El Nino tahun ini, kita juga Insya Allah lebih siap dengan bantuan perbaikan irigasi dan embung. Harapannya, El Nino 2019 tidak terlalu berdampak pada pertanian," tambahnya optimistis.

Risiko bertani kini juga relatif lebih kecil setelah ada bantuan asuransi pertanian. Saat ini memang baru sebatas petani padi dan ternak, ke depan, ia mendapat kepastian akan dilebarkan juga ke petani jagung dan komoditas lainnya.

"Manakala petani menghadapi risiko pertanaman, ini berguna untuk meminimalisir kerugian. Dengan membayar Rp 36 ribu saja, saat gagal panen mendapat penggantian 36 juta rupiah," tambahnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kementan : Anggaran DIPA 2019 Rp 4,927 Triliun

Kementan : Anggaran DIPA 2019 Rp 4,927 Triliun

News | Senin, 11 Februari 2019 | 11:07 WIB

Kementan Fokus Genjot Produksi Beras dalam Negeri

Kementan Fokus Genjot Produksi Beras dalam Negeri

News | Senin, 04 Februari 2019 | 07:15 WIB

Kementan Luncurkan Buku Panduan Hadapi Penyakit Infeksi Baru dan Zoonosis

Kementan Luncurkan Buku Panduan Hadapi Penyakit Infeksi Baru dan Zoonosis

Health | Selasa, 29 Januari 2019 | 16:15 WIB

Awasi Peredaran Daging Celeng, Kementan Gunakan GPS

Awasi Peredaran Daging Celeng, Kementan Gunakan GPS

Bisnis | Sabtu, 05 Januari 2019 | 13:00 WIB

Terkini

Langgar Aturan Penagihan, Indosaku Didenda OJK Rp875 Juta

Langgar Aturan Penagihan, Indosaku Didenda OJK Rp875 Juta

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:45 WIB

Sebut Beda Karakteristik, IMA Ragukan Skema Migas Diterapkan di Sektor Tambang

Sebut Beda Karakteristik, IMA Ragukan Skema Migas Diterapkan di Sektor Tambang

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 14:33 WIB

Dampingi Presiden Prabowo di KTT ASEAN, Bahlil Fokus Bahas Diversifikasi Energi

Dampingi Presiden Prabowo di KTT ASEAN, Bahlil Fokus Bahas Diversifikasi Energi

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 12:03 WIB

Dukung Ekonomi Rakyat, Pegadaian Hadirkan Solusi Keuangan Inklusif di Timor Leste

Dukung Ekonomi Rakyat, Pegadaian Hadirkan Solusi Keuangan Inklusif di Timor Leste

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 11:55 WIB

Harga Pangan Hari Ini Naik? Cabai Rawit Tembus Rp65 Ribu per Kg, Telur Ayam Rp31 Ribu

Harga Pangan Hari Ini Naik? Cabai Rawit Tembus Rp65 Ribu per Kg, Telur Ayam Rp31 Ribu

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 11:47 WIB

Bukan Dihapus, Ini Alasan 13 SPBU di Jabodetabek Tak Lagi Jual Pertalite

Bukan Dihapus, Ini Alasan 13 SPBU di Jabodetabek Tak Lagi Jual Pertalite

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 10:49 WIB

Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 9 Mei 2026: Antam Turun, UBS dan Galeri24 Stabil

Harga Emas Hari Ini di Pegadaian 9 Mei 2026: Antam Turun, UBS dan Galeri24 Stabil

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 09:20 WIB

Pertamina-Departemen Energi Amerika Serikat Bahas Penguatan Pasokan Energi & Infrastruktur Strategis

Pertamina-Departemen Energi Amerika Serikat Bahas Penguatan Pasokan Energi & Infrastruktur Strategis

Bisnis | Sabtu, 09 Mei 2026 | 08:33 WIB

Anomali Wisatawan RI, Kini Incar Tanggal Kembar Demi Tiket Murah

Anomali Wisatawan RI, Kini Incar Tanggal Kembar Demi Tiket Murah

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 23:27 WIB

RI Bakal Gandeng UNDP Sulap 9 Kota Besar Jadi "Surga" Kendaraan Listrik

RI Bakal Gandeng UNDP Sulap 9 Kota Besar Jadi "Surga" Kendaraan Listrik

Bisnis | Jum'at, 08 Mei 2026 | 21:15 WIB