Populer di Luar Negeri, Kementan Pacu Peremajaan Tanaman Salak Sleman

Fabiola Febrinastri, Dian Kusumo Hapsari

Sabtu, 12 Oktober 2019 | 06:08 WIB
Populer di Luar Negeri, Kementan Pacu Peremajaan Tanaman Salak Sleman
Tanaman salak. (Dok : Kementan).

Suara.com - Siapa yang tak kenal buah salak? Buah eksotis dengan penampakan bersisik itu memiliki penggemar yang tidak sedikit. Apalagi rasa khas manis dan sepatnya memang tidak dimiliki buah-buah lain. 

Ternyata penggemar buah salak tidak hanya dari dalam negeri. Buktinya, buah salak menjadi salah satu komoditas hortikultura yang sudah merambah pasar luar mancanegara. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi pada tahun 2018 mencapai 896.504 ton dengan jumlah tanaman menghasilkan 38.024.008 batang.

Dari total produksi tersebut , sejumlah 1.233,28 ton (0,14%) telah diekspor ke beberapa negara di Asia dan Timur tengah, antara lain Kamboja (46,25%), Tiongkok (15,89%), Malaysia (14,16%), Singapura (10,14%), dan Saudi Arabia (4,84%) dengan total nilai ekspor sebesar 1,4 juta dolar AS. 

Populer baik di dalam maupun luar negeri, para petani Salak pun berupaya untuk terus menggenjot produksi buah ini. Apalagi seiring makin tua umur tanaman, produktivitasnya pun semakin melambat. Menangkap situasi ini, pemerintah pun memberikan dukungan kepada para petani dalam bentuk program peremajaan tanaman salak.

Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta merupakan salah satu kawasan yang akan mendapat bantuan program peremajaan tanaman salak. Kawasan lereng selatan Gunung Merapi tersebut memang terkenal sebagai sentra penghasil salak pondoh terbesar di Indonesia. 

“Pada tahun 2020 nanti, Direktorat Jenderal Hortikultura menyiapkan bantuan kegiatan intensifikasi pemeliharaan salak seluas 150 hektare khusus untuk Kabupaten Sleman. Kegiatan tersebut bisa dimanfaatkan oleh petani untuk melakukan gerakan peremajaan tanaman dengan metode cangkok tanpa menggangu produktivitas," ujar Direktur Jenderal Hortikultura Prihasto Setyanto dalam keterangan pers, Jumat (11/10/2019). 

Pria yang akrab dipanggil Anton tersebut menuturkan bahwa pendekatan yang digunakan berbentuk kawasan terpadu. Ini artinya seluruh stakeholders terkait pengembangan salak sleman harus saling mendukung. 

“Pemda, Dinas Pertanian, SKPD terkait, eksportir, penyedia sarana produksi, pakar salak dan tentu tokoh-tokoh petani setempat harus dilibatkan dalam proses peremajaan salak ini," jelasnya.

Direktur Buah dan Florikultura, Liferdi Lukman menjelaskan, berdasarkan pengamatan timnya di sentra Kecamatan Turi, Tempel dan Pakem ditemukan sebagian besar tanaman salak sudah berumur 15 -20 tahun. 

baca juga

“Umur tanaman yang sudah tua akan mempengaruhi produktivitas tanaman salak. Imbas dari fenomena ini adalah turunnya produksi salak nasional," kata Liferdi.

Pilihan ekstensifikasi atau perluasan areal pengembangan salak, menurut Liferdi, relatif terbatas mengingat semakin tergerusnya lahan pertanian di kabupaten Sleman. Terlebih salak pondoh memang spesifik lokasi. 

Liferdi menerangkan, teknik peremajaan melalui anakan salak yang selama ini dilakukan perlu dievaluasi karena membutuhkan waktu tiga tahun untuk belajar berproduksi. Kondisi tersebut dinilainya sangat berdampak pada penghasilan petani. 

“Terlebih, kepemilikan lahan petani rata-rata terbatas. Kalau harus nunggu selama itu, tentu akan membuat petani tidak bergairah mengembangkan salaknya. Kita akan kembangkan teknik cangkok menggunakan ember/karung di pangkal batang utama seperti yang sudah dicoba petani setempat. Hasilnya ternyata lebih efisien," paparnya.

Ketua kelompok tani Marsudi Luhur Kecamatan Tempel, Wakimin, mengatakan pihaknya sudah mencoba berbagai teknologi peremajaan salak. "Selama kurun lima tahun terakhir, kami sudah coba praktikkan cangkok tanaman tua dengan dua cara, yaitu rebah batang pokok dan mencangkok menggunakan karung. Metode perebahan batang pokok tingkat keberhasilannya sangat rendah, begitu pula dengan penggunaan karung ketika dibuka tanah cenderung ambrol/berantakan. Mungkin karena cara tersebut menyebabkan tanaman stres bahkan bikin mati bila tidak ditangani dengan pas," jelas Wakimin. 

Wakimin menjelaskan, dari hasil studi lapang anggota selama 18 bulan terakhir ditemukan metode peremajaan salak yang lebih efisien yaitu cangkok dengan menggunakan ember. Ini lebih baik dibandingkan dengan karung di pangkal batang utama. Meskipun salak sedang beproduksi, teknik cangkok tersebut tidak mempengaruhi produktivitas tanaman salak.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dorong Anak Muda Jadi Konglomerat, Kementan Luncurkan Program Kewirausahaan

Dorong Anak Muda Jadi Konglomerat, Kementan Luncurkan Program Kewirausahaan

Bisnis | Jum'at, 11 Oktober 2019 | 16:13 WIB

Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Perubahan Sistem Pangan Dunia

Indonesia Jadi Tuan Rumah Konferensi Perubahan Sistem Pangan Dunia

News | Jum'at, 11 Oktober 2019 | 10:31 WIB

Kementan Sediakan Alat Super Canggih dan Harapkan Peran Generasi Milenial

Kementan Sediakan Alat Super Canggih dan Harapkan Peran Generasi Milenial

Bisnis | Jum'at, 11 Oktober 2019 | 07:55 WIB

Mentan : Populasi Sapi Indonesia Meningkat 5 Juta Ekor

Mentan : Populasi Sapi Indonesia Meningkat 5 Juta Ekor

Bisnis | Jum'at, 11 Oktober 2019 | 07:46 WIB

Tren Ekspor Sejumlah Komoditas Asal Banten Meningkat

Tren Ekspor Sejumlah Komoditas Asal Banten Meningkat

Bisnis | Kamis, 10 Oktober 2019 | 10:22 WIB

Kementan Dukung Program Prioritas Toli-Toli Pertahankan Lahan Pertanian

Kementan Dukung Program Prioritas Toli-Toli Pertahankan Lahan Pertanian

Bisnis | Kamis, 10 Oktober 2019 | 09:41 WIB

Terkini

Miris! Rumah Nyaris Ambruk, Ayah Tunggal di Sukabumi Tak Dapat Bansos Gegara Desil 5

Miris! Rumah Nyaris Ambruk, Ayah Tunggal di Sukabumi Tak Dapat Bansos Gegara Desil 5

Jabar | Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:37 WIB

Dony Oekon Desak ESDM dan Pertamina Evaluasi Gangguan Pasokan BBM

Dony Oekon Desak ESDM dan Pertamina Evaluasi Gangguan Pasokan BBM

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:34 WIB

Terjebak Hustle Culture? Ini Tanda Gen Z Harus Segera Ambil Jeda Biar Nggak Kena Job Fatigue

Terjebak Hustle Culture? Ini Tanda Gen Z Harus Segera Ambil Jeda Biar Nggak Kena Job Fatigue

Your Say | Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:32 WIB

5 Idol K-Pop yang Sukses Gebrak Dunia Akting Lewat Drakor 2026, Siapa Saja?

5 Idol K-Pop yang Sukses Gebrak Dunia Akting Lewat Drakor 2026, Siapa Saja?

Your Say | Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:30 WIB

MK Wajibkan DPR dan Pemerintah Rombak UU Peradilan Militer Paling Lambat 2028

MK Wajibkan DPR dan Pemerintah Rombak UU Peradilan Militer Paling Lambat 2028

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:28 WIB

Soal Karhutla Jadi Bencana Nasional, BNPB: Jangan Status Besar tapi Respons Tak Ada

Soal Karhutla Jadi Bencana Nasional, BNPB: Jangan Status Besar tapi Respons Tak Ada

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:28 WIB

Kapok! Buang Sampah Sembarangan di Surabaya, Empat Orang Kena Denda

Kapok! Buang Sampah Sembarangan di Surabaya, Empat Orang Kena Denda

Jatim | Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:28 WIB

DPRD DKI Siap Jadi Penengah, Nasib Pedagang Pasar Taman Puring Pascakebakaran Dicarikan Titik Temu

DPRD DKI Siap Jadi Penengah, Nasib Pedagang Pasar Taman Puring Pascakebakaran Dicarikan Titik Temu

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:26 WIB

Dana Haji Rp185,73 Triliun Jadi Sorotan, Kemenhaj Dorong Penguatan BPKH

Dana Haji Rp185,73 Triliun Jadi Sorotan, Kemenhaj Dorong Penguatan BPKH

News | Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:23 WIB

KPK Belum Tetapkan Tersangka dalam Penyidikan Baru Kasus Fadia Arafiq

KPK Belum Tetapkan Tersangka dalam Penyidikan Baru Kasus Fadia Arafiq

Jawa Tengah | Kamis, 15 Oktober 2026 | 18:22 WIB

×