Market Data
Emas
Indeks Saham
Kurs Rupiah
Jual Rp2.625.000
Beli Rp2.490.000
IHSG 5.896,134
LQ45 583,722
Srikehati 289,560
JII 342,327
USD/IDR 17.957

Kopi Sarongge dan Petani di Masa Pandemi

Dany Garjito, Chyntia Sami Bhayangkara

Kamis, 14 Mei 2020 | 19:35 WIB
Kopi Sarongge dan Petani di Masa Pandemi
Petani kopi Sarongge (ist)

Suara.com - Merebaknya virus corona telah melumpuhkan seluruh aktivitas masyarakat dunia. Namun, hal itu tak pernah berlaku bagi para petani kopi Sarongge.

Bulan Mei dan Juni merupakan masa panen raya kopi Sarongge, kopi asal Cianjur, Jawa Barat yang terkenal dengan cita rasa uniknya. Tak kenal #dirumahaja, mereka tetap harus ke kebun demi mendapatkan kopi berkualitas baik yang telah ditanam selama tiga tahun lamanya.

Tosca Santoso, sang inisiator kopi Sarongge, meminta agar pemerintah kelak bisa lebih memperhatikan nasib para petani. Tak hanya tenaga medis yang telah berjasa, petani juga menjadi pahlawan di tengah pandemi corona.

Tanpa petani, pasokan bahan pokok akan tersendat. Karenanya juga bisa menimbulkan krisis multidimensi.

Jurnalis senior sekaligus salah satu pendiri Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) itu berharap pemerintah bisa terus menggalakan perhutanan sosial, asal lahirnya kopi Sarongge. Disanalah para petani bisa menyuplai pasokan bahan dengan maksimal.

Berikut kisah para petani Sarongge dan nasib petani lainnya di tengah pandemi yang ditulis langsung oleh Tosca Santoso.

Petani di Masa Pandemi

Pagebluk datang tanpa permisi. Virus itu, tiba-tiba melumpuhkan banyak segi kehidupan kita. Sejak Presiden Jokowi mengumumkan kasus Covid-19 pertama, awal Maret, berbagai aturan dibuat membatasi gerak. Orang-orang terkurung di rumah. Perkantoran tutup. Ekonomi melambat drastis.

Sedikit dari profesi yang diminta Presiden untuk tetap bekerja di masa pandemi ini adalah petani. Presiden mengingatkan agar petani memanfaatkan sisa hujan bulan April, untuk tetap menanam tanaman pangan. Ia khawatir akan ada kekeringan panjang di akhir tahun, yang dapat menyebabkan kurangnya pasok pangan.

baca juga

Ancaman kurang pangan jadi momok buat siapa sajayang sedang mengatur negeri.  Kalau terjadi, ia dapat timbulkan krisis multidimensi.

Tapi sesungguhnya, tanpa diminta siapa pun, petani tetap bekerja di masa pandemi ini. Terlebih pekerja tani, yang hidup dari upah harian. Libur adalah malapetaka buat mereka. Juga untuk petani gurem yang tanahnya kurang dari 0,2 ha. Mereka tetap bekerja di kebun. Anjuran untuk diam di rumah, atau bekerja dari rumah, terdengar ganjil di telinga petani.

Kopi Sarongge yang telah dikemas (dok. Tosca Santoso)
Kopi Sarongge yang telah dikemas (dok. Tosca Santoso)

Para petani kopi di Sarongge, memasuki masa panen raya Mei- Juni ini. Mereka antusias ke kebun, memetik kopi yang sudah lama ditunggu. Tak bisa ditunda. Karena telat memanen, berarti akan terlalu matang. Dan kurang bagus untuk diolah basah (fullwash) yang jadi pilihan utama dalam paska panen kopi di Sarongge. Mau tak mau, panen harus dilakukan, meski Cianjur masuk pada tahap PSBB, Pembatasan Sosial Berskala Besar 6-19 Mei. Petani terbiasa bekerja dengan ritme, yang disesuaikannya dengan alam.

Maka anjuran supaya gunakan sisa hujan untuk tanam tanaman pangan, bisa jadi bumerang. Kebanyakan petani akan pikir seribu kali untuk mulai tanam, ketika hujan tinggal sedikit. Pilihan tanaman harus yang tahan kering, sanggup hidup meski kurang air. Padi bukan pilihan. Bahkan di tempat dengan irigasi baik, mereka akan hitung, apakah air masih akan ada saat dibutuhkan? Apalagi di tempat huma tadah hujan. Tidak ada petani yang menanam padi di ujung penghujan. Titi mangsa mengajarkan mereka : tanam padi di awal musim hujan.

Singkong mungkin masih cocok untuk penghujung masa hujan. Ia hanya butuh air sedikit di awal tanam. Lalu akan bertahan, meski sisa waktunya kering. Tetapi menganjurkan tanam singkong di lahan petani yang begitu sempit, akan kurang didengar. Nilai ekonominya terlalu murah. Waktu panennya lama. Singkong cocok untuk, tanaman pagar, menambah ketahanan pangan keluarga tani sendiri.

Yang paling fatal dari antisipasi kurang pangan ini adalah rencana buka sawah baru. Menko perekonomian mengatakan sawah baru akan dicetak di Kalimantan Timur, daerah gambut. Ini sungguh tak belajar dari kesalahan masa lalu. Rezim Soeharto pernah mencoba proyek sawah sejuta hektar di Kalimantan Tengah dan gagal total. Gambut bukan lahan yang cocok untuk sawah. Apalagi, sekarang begitu banyak informasi tentang pentingnya merawat gambut untuk iklim global kita. Membuka lahan gambut untuk sawah, bukan rencana yang sejalan dengan moralitas zaman baru yang peduli lingkungan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kisah Lahirnya Kopi Sarongge, Produk Unggulan Asal Cianjur

Kisah Lahirnya Kopi Sarongge, Produk Unggulan Asal Cianjur

Bisnis | Kamis, 14 Mei 2020 | 18:50 WIB

Kopi Sarongge dan Kisah Petani Kembalikan Hutan

Kopi Sarongge dan Kisah Petani Kembalikan Hutan

Bisnis | Rabu, 13 Mei 2020 | 19:22 WIB

Kalahkan Harga Ayam, Harga Jengkol Meroket di Pasar Tradisional Cianjur

Kalahkan Harga Ayam, Harga Jengkol Meroket di Pasar Tradisional Cianjur

Jabar | Jum'at, 08 Mei 2020 | 02:30 WIB

Kecelakaan Laut di Perairan Cianjur, Galang Ditemukan Tak Bernyawa di Garut

Kecelakaan Laut di Perairan Cianjur, Galang Ditemukan Tak Bernyawa di Garut

Jabar | Kamis, 07 Mei 2020 | 01:05 WIB

Jenazah Diantar Cuma Sampai Gang, PDP Terpaksa Dimakamkan Warga Tanpa APD

Jenazah Diantar Cuma Sampai Gang, PDP Terpaksa Dimakamkan Warga Tanpa APD

Jabar | Rabu, 06 Mei 2020 | 20:27 WIB

Terkini

Pasar Modal Indonesia Turun Kasta Jadi Frontier Market? Dirut BEI Beri Bocoran

Pasar Modal Indonesia Turun Kasta Jadi Frontier Market? Dirut BEI Beri Bocoran

Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 15:54 WIB

Profil Jeffrey Hendrik, Dirut BEI Baru dengan Janji Transparansi IHSG

Profil Jeffrey Hendrik, Dirut BEI Baru dengan Janji Transparansi IHSG

Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 15:20 WIB

Prabowo Mau 'Copot' Ratusan Direksi dan Komisaris BUMN di Tengah Isu Rangkap Jabatan

Prabowo Mau 'Copot' Ratusan Direksi dan Komisaris BUMN di Tengah Isu Rangkap Jabatan

Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 15:02 WIB

Dirut Baru Berambisi Bawa BEI Masuk Daftar 10 Bursa Terbesar Dunia

Dirut Baru Berambisi Bawa BEI Masuk Daftar 10 Bursa Terbesar Dunia

Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 14:44 WIB

Bikin Pusing Pengusaha, Mengapa Gas Industri Belakangan Ini Harganya Tinggi?

Bikin Pusing Pengusaha, Mengapa Gas Industri Belakangan Ini Harganya Tinggi?

Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 14:28 WIB

Dana Asing Rp449,83 M Minggat dari Pasar Saham di Sesi I, BBCA Banyak Dilepas

Dana Asing Rp449,83 M Minggat dari Pasar Saham di Sesi I, BBCA Banyak Dilepas

Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 14:20 WIB

Telkom Perkuat Kepatuhan Regulasi dan Kapabilitas Pengambil Keputusan untuk Dorong Pertumbuhan

Telkom Perkuat Kepatuhan Regulasi dan Kapabilitas Pengambil Keputusan untuk Dorong Pertumbuhan

Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 14:09 WIB

Ini Alasan Purbaya Ngotot Cari Utang lewat Panda Bond China

Ini Alasan Purbaya Ngotot Cari Utang lewat Panda Bond China

Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 13:44 WIB

Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini Jadi Komisaris Pertamina Retail?

Siapa Ginka Febriyanti yang Dituding Ikut Demo Bayaran dan Kini Jadi Komisaris Pertamina Retail?

Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 13:33 WIB

Purbaya Endus Pegawai DJP Kongkalikong dengan Pengusaha soal Restitusi Pajak

Purbaya Endus Pegawai DJP Kongkalikong dengan Pengusaha soal Restitusi Pajak

Bisnis | Senin, 29 Juni 2026 | 13:22 WIB

×