Industri Gula Amburadul, Swasembada Terancam Gagal?

Achmad Fauzi

Rabu, 15 April 2026 | 12:59 WIB
Industri Gula Amburadul, Swasembada Terancam Gagal?
ilustrasi industri gula [Antara]
baca 10 detik
  • APTRI menyoroti kebijakan pemerintah di tingkat hulu yang tidak realistis serta keterbatasan akses pupuk dan pembiayaan petani.
  • Kesenjangan teknologi produksi menyebabkan biaya operasional tinggi sehingga target swasembada gula nasional menjadi semakin sulit dicapai pemerintah.
  • Berbagai hambatan di hulu seperti pupuk, KUR, hingga teknologi membuat daya saing lemah.

Suara.com - Industri gula nasional saat ini menjadi sorotan setelah mencuatnya kerugian yang dialami BUMN PT Sinergi Gula Nusantara (SGN) atau Sugar Co sebesar Rp 680 miliar. Kerugian ini dinilai bukan sekadar persoalan bisnis, melainkan mencerminkan carut-marut tata kelola industri gula dari hulu hingga hilir.

Ketua Umum Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI), Soemitro Samadikoen, menilai kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa target swasembada gula semakin sulit dicapai jika tidak ada pembenahan menyeluruh.

"SGN itu kan milik rakyat. Kenapa bisa rugi sebanyak itu? Apakah di setiap periode atau interval waktu tidak diadakan evaluasi?" ujar Soemitro di Jakarta, Rabu (15/4/2026).

Ia menyebut, kegagalan industri gula nasional selama ini tidak bisa terus-menerus dikaitkan dengan faktor impor. Menurutnya, persoalan utama justru terletak pada manajemen dan kebijakan yang tidak tepat.

Sejumlah petugas mengangkut karung berisi gula pasir untuk didistribusikan ke tiap kelurahan di Balaikota Yogyakarta, Rabu (22/4/2020). [Suarajogja.id / Baktora]
Ilustrasi industri Gula. [Suarajogja.id / Baktora]

"Taruhlah sekarang misalnya PT SGN (Sinergi Gula Nusantara) rugi Rp 680 miliar. Kenapa? Karena gula impor? Ya enggak lah. Ya karena nggak bisa, manajemennya nggak bisa kerja," tukas Soemitro.

Karena itu, ia menekankan pentingnya pembenahan dari sisi regulasi dan kebijakan agar produksi gula nasional dapat meningkat dan lebih kompetitif.

"Yang harus dibenahi kebijakannya, dan regulasinya," sambung dia.

Di sisi lain, persoalan di tingkat hulu juga dinilai semakin memperburuk kondisi industri. Kebijakan pemerintah seperti intensifikasi dan ekstensifikasi lahan disebut tidak realistis dan tidak sesuai kondisi lapangan.

"Tahun lalu di bulan Agustus tiba-tiba dicanangkan bongkar ratoon 100 ribu hektar, itu enggak rasional. Sudah bulan Agustus, di mana cari lahannya?" kritiknya.

baca juga

Masalah lain yang dihadapi petani adalah keterbatasan pupuk bersubsidi yang hanya diberikan maksimal untuk 2 hektare per Kartu Keluarga. Sementara harga pupuk non-subsidi terus meningkat saat musim tanam.

Selain itu, akses pembiayaan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) juga dinilai belum fleksibel. Batas plafon pinjaman yang ada dinilai menyulitkan petani untuk memperluas lahan.

"Akses perolehan pendanaan ini harus dijaga. Petani yang dikelola tambah luas kok enggak boleh utang lagi karena BI checking? Mana kita bisa nambah area lebih luas kalau dibatasi?" keluh Soemitro.

Di tengah berbagai kendala tersebut, Indonesia juga dinilai tertinggal dari negara lain dalam hal teknologi dan efisiensi produksi gula. Negara seperti Brasil, Australia, hingga Vietnam telah menggunakan mekanisasi penuh, sementara petani Indonesia masih bergantung pada tenaga manual.

Kondisi ini membuat biaya produksi gula nasional tetap tinggi dan sulit bersaing dengan gula impor. Akibatnya, target swasembada gula semakin menjauh.

Soemitro pun meminta pemerintah untuk melibatkan petani dalam setiap penyusunan kebijakan agar solusi yang diambil lebih tepat sasaran.

"Jadikan kita subjek setiap bikin peraturan. Jangan merasa kalau karena sudah sekolah tinggi, S2 atau S3, terus merasa tahu segalanya. Serius enggak pemerintah ini mau swasembada?" pungkasnya.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Pemerintah Kebut Restrukturisasi BUMN, 15 Perusahaan Logistik Akan Digabung Jadi Satu

Pemerintah Kebut Restrukturisasi BUMN, 15 Perusahaan Logistik Akan Digabung Jadi Satu

Bisnis | Selasa, 07 April 2026 | 19:26 WIB

Tak Hanya Pedagang Kecil, BUMN Ini Juga Mulai Rasakan Kelangkaan Plastik

Tak Hanya Pedagang Kecil, BUMN Ini Juga Mulai Rasakan Kelangkaan Plastik

Bisnis | Selasa, 07 April 2026 | 16:34 WIB

Pehatian Emak-emak! Harga Cabai Rawit Masih Tinggi Usai Lebaran

Pehatian Emak-emak! Harga Cabai Rawit Masih Tinggi Usai Lebaran

Bisnis | Selasa, 07 April 2026 | 12:23 WIB

Terkini

Cara Mengubah Tumpukan Data Menjadi Keputusan Bisnis yang Menguntungkan

Cara Mengubah Tumpukan Data Menjadi Keputusan Bisnis yang Menguntungkan

Bisnis | Kamis, 22 Oktober 2026 | 01:44 WIB

Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff

Cetak 6 Gol dalam 6 Laga Bersama Persija, Shin Tae-yong Angkat Topi untuk Alexander Jeremejeff

Bola | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:55 WIB

Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon

Sepatu Lari Buatan Lokal Unjuk Gigi di Berlin dan Chicago Marathon

Sport | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:43 WIB

Mantab! Tiga Atlet Muaythai Solo Tembus Semifinal Porprov 2026

Mantab! Tiga Atlet Muaythai Solo Tembus Semifinal Porprov 2026

Surakarta | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:42 WIB

Sumsel Bidik Perdagangan Karbon di Tengah Krisis Karhutla, Sejauh Mana Kesiapannya?

Sumsel Bidik Perdagangan Karbon di Tengah Krisis Karhutla, Sejauh Mana Kesiapannya?

Sumsel | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:27 WIB

Sepatu Futsal Lokal Tembus Dunia, Ortuseight Siapkan Enam Lini Jogosala Terbaru

Sepatu Futsal Lokal Tembus Dunia, Ortuseight Siapkan Enam Lini Jogosala Terbaru

Bola | Rabu, 21 Oktober 2026 | 23:18 WIB

Dari Kekalahan ke Pesta Gol, Shin Tae-yong Ungkap Perubahan Persija Saat Hajar Arema FC

Dari Kekalahan ke Pesta Gol, Shin Tae-yong Ungkap Perubahan Persija Saat Hajar Arema FC

Bola | Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:59 WIB

Fadli Zon Terima Anugerah Mahottama Adibudaya Nusantara, Ini Alasan di Baliknya

Fadli Zon Terima Anugerah Mahottama Adibudaya Nusantara, Ini Alasan di Baliknya

News | Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:59 WIB

WALHI Sumsel Soroti Dry Ice di Palembang, Minta Biaya dan Hasil Evaluasi Dibuka ke Publik

WALHI Sumsel Soroti Dry Ice di Palembang, Minta Biaya dan Hasil Evaluasi Dibuka ke Publik

Sumsel | Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:53 WIB

Haji Isam Dikaitkan MSCI, Pakar Saham Minta Dibuktikan

Haji Isam Dikaitkan MSCI, Pakar Saham Minta Dibuktikan

Bisnis | Rabu, 21 Oktober 2026 | 22:50 WIB

×