Okupansi Hotel di Batam Tak Sampai 10 Persen, PHRI: Kami masih Sekarat

Chandra Iswinarno
Okupansi Hotel di Batam Tak Sampai 10 Persen, PHRI: Kami masih Sekarat
Harris Hotel Batam Centre terlihat dari Alun-alun Engku Putri Batam. Tingkat hunian di Harris Hotel dan hotel-hotel lain di Batam masih belum normal seperti saat sebelum Covid-19. [Suara.com/Bobi]

Kondisi ini tidak berbeda jauh dengan di masa awal Pandemi Covid-19.

Suara.com - Meski pemerintah sudah mulai menerapkan New Normal di tengah masa Pandemi Covid-19 untuk menggeliatkan roda perekonomian, namun kondisi tersebut masih belum dirasakan pada kalangan perhotelan dan restoran di Kota Batam Kepulauan Riau.

Memasuki semester II tahun 2020 ini, misalnya, tingkat hunian (okupansi) hotel di Kota Batam masih berada di bawah angka 10 persen. Kondisi ini tidak berbeda jauh dengan di masa awal Pandemi Covid-19.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Batam Mansyur menuturkan, pada awal pandemi tercatat 75 hotel menghentikan operasionalnya pada semester 1 2020 lalu. Saat memasuki semester II 2020, tersisa sekitar lima hotel yang masih belum beroperasi dari total 233 hotel di Batam. Meski begitu, okupansi hunian masih tidak berubah.

"Masih sama seperti sebelumnya, hunian masih di bawah 10 persen, kita masih sekarat," kata Mansyur saat dihubungi pada Senin (27/7/2020) siang.

Mansyur melanjutkan, industri perhotelan yang masih berada di titik terendah ini, memang memancing persoalan lain yang mengancam eksistensi hotel yang ada. Mulai dari pemotongan gaji karyawan hingga 50 persen, aksi mogok karyawan karena menuntut upah yang menjadi naungan mereka selama ini, hingga ancaman operasional hotel yang terpaksa dihentikan akibat sepinya hunian.

Baru baru ini, sejumlah karyawan salah satu hotel di Kota Batam melakukan mogok kerja karena gaji yang mereka terima hanya 50 persen. Itupun dibayarkan bertahap, dua kali.

"Kondisinya memang sedang tidak baik untuk industri perhotelan, apa yang dilakukan pengelola hotel saya pikir itulah yang terbaik. Karayawan kami miminta bersabar karena kondisi pandemi yang tidak mendukung industri perhotelan," kata Mansyur lagi.

Lebih jauh, Mansyur berharap ada dukungan maksimal dari pemerintah untuk mendukung industri perhotelan di Batam. Baik itu melalui dukungan insentif seperti yang dijanjikan sebelumnya, mendorong hadirnya wisman dan ekspatriat untuk mendukung peningkatan hunian hotel dan mendorong percepatan realisasi kegiatan meeting di berbagai daerah (termasuk Batam) di Indonesia.

Industri pariwisata dan manufaktur yang mengalami penurunan akibat Civid-19 diakui Mansyur memberi dampak signifikan terhadap tingkat hunian hotel di Batam. Dimana banyak tamu-tamu yang selama ini mengisi hotel-hotel di Batam adalah ekspatriat yang bekerja di sejumlah kawasan industri di Batam.

Anggota Komisi II DPRD Kota Batam, Sahat Tambunan menuturkan, kelonggaran syarat keluar masuk orang ke Batam menjadi hal yang harus diperhatikan. Selama ini, keluar masuk orang ke Batam masih terbilang sulit jika dibanding daerah lain.

Komentar

Suara.Com

Dapatkan informasi terkini dan terbaru yang dikirimkan langsung ke Inbox anda

QUOTES OF THE DAY

INFOGRAFIS