Badai Sally Berlalu, Harga Minyak Dunia Meroket 2 Persen Lebih

Iwan Supriyatna, Mohammad Fadil Djailani

Jum'at, 18 September 2020 | 07:58 WIB
Badai Sally Berlalu, Harga Minyak Dunia Meroket 2 Persen Lebih
Ilustrasi harga minyak dunia [Shutterstock]

Suara.com - Harga minyak mentah dunia meroket lebih dari 2 persen usai turun harga pada perdagangan sebelumnya karena OPEC Plus mengatakan akan menindak negara yang gagal mematuhi pemotongan produksi.

Selain itu, kelompok tersebut berencana mengadakan pertemuan luar biasa pada Oktober jika pasar minyak semakin melemah.

Setelah jatuh di awal sesi di tengah data ketenagakerjaan yang bearish dan peningkatan produksi minyak Teluk Meksiko menyusul Badai Sally, patokan minyak mentah berbalik arah untuk menguat pada sesi ini, didukung komentar dari OPEC.

Mengutip CNBC, Jumat (18/9/2020) minyak mentah berjangka Brent, patokan internasional, ditutup melesat 1,08 dolar AS atau 2,56 persen menjadi 43,30 dolar AS per barel.

Sementara itu, patokan Amerika Serikat, minyak mentah berjangka West Texas Intermediate, meningkat 81 sen, atau 2,02 persen menjadi 40,97 dolar AS per barel. Kedua kontrak tersebut meroket lebih dari 4 persen pada penutupan Rabu.

Panel produsen utama, termasuk Arab Saudi dan Rusia, tidak merekomendasikan perubahan apa pun pada target pemotongan produksi mereka saat ini sebesar 7,7 juta barel per hari (bph), atau sekitar 8 persen dari permintaan global, menurut draf siaran pers dan laporan internal.

Panel itu menekan sejumlah negara seperti Irak, Nigeria dan Uni Emirat Arab untuk memotong lebih banyak barel guna mengkompensasi kelebihan produksi pada Mei-Juli, sambil memperpanjang periode kompensasi dari September hingga akhir Desember, menurut tiga narasumber OPEC Plus.

Berita OPEC itu membayangi dimulainya kembali produksi lepas pantai AS setelah Badai Sally melewati Teluk Meksiko dan data ekonomi Amerika yang melemah.

Perusahaan energi AS mulai mengembalikan awaknya ke anjungan minyak lepas pantai di Teluk Meksiko setelah Badai Sally menghentikan operasi selama lima hari, mematikan hampir 500.000 barel per hari produksi.

baca juga

Harga juga berada di bawah tekanan dari pemulihan ekonomi yang lambat dari pandemi virus corona.

Laporan Departemen Tenaga Kerja AS menunjukkan jumlah warga Amerika yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran turun pekan lalu, tetapi tetap pada level yang sangat tinggi karena pemulihan pasar tenaga kerja bergeser ke kecepatan yang rendah dan belanja konsumen mendingin.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Stok Menipis Imbas Badai Sally, Harga Minyak Meroket 4 Persen

Stok Menipis Imbas Badai Sally, Harga Minyak Meroket 4 Persen

Bisnis | Kamis, 17 September 2020 | 07:52 WIB

Badai di Amerika Dongkrak Harga Minyak Mentah Naik 2 Persen

Badai di Amerika Dongkrak Harga Minyak Mentah Naik 2 Persen

Bisnis | Rabu, 16 September 2020 | 07:23 WIB

Harga Minyak Dunia Kembali Ambles Imbas Kekhawatiran Kondisi Ekonomi

Harga Minyak Dunia Kembali Ambles Imbas Kekhawatiran Kondisi Ekonomi

Bisnis | Selasa, 15 September 2020 | 07:33 WIB

Terkini

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Titik Terang Hilangnya Jurnalis di Krakatau, Basarnas Temukan 4 Barang di Perairan Selat Sunda

Banten | Sabtu, 12 September 2026 | 21:39 WIB

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Laba Anjlok 19 Persen, Astra Jor-joran Akuisisi Tambang Emas di Awal 2026

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 20:53 WIB

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Kisah Perjuangan Tati Purwanti, Mantan PMI yang Sukses Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei

Bekaci | Sabtu, 12 September 2026 | 20:29 WIB

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Dari Cirebon ke Taipei, Tati Purwanti Bawa Kuliner Lokal dan Tumbuh Bersama BRI

Jakarta | Sabtu, 12 September 2026 | 20:27 WIB

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei

Jawa Tengah | Sabtu, 12 September 2026 | 20:25 WIB

Jejak Kontak Terakhir 8 Warga Hilang Terdeteksi di Pulau Sebesi, Kemkomdigi Telusuri Sinyal

Jejak Kontak Terakhir 8 Warga Hilang Terdeteksi di Pulau Sebesi, Kemkomdigi Telusuri Sinyal

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 20:24 WIB

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Komdigi Klaim 98,9% Wilayah Berpopulasi Sudah Tercover Seluler, Blank Spot Jadi Pekerjaan Berikutnya

Tekno | Sabtu, 12 September 2026 | 20:23 WIB

Jejak Sukses Mantan PMI Tati Purwanti, Bawa Bubur Cirebon hingga Taipei

Jejak Sukses Mantan PMI Tati Purwanti, Bawa Bubur Cirebon hingga Taipei

Jatim | Sabtu, 12 September 2026 | 20:22 WIB

Ada Risiko Fiskal Meski Pemerintah Ambil Alih Utang Kereta Cepat

Ada Risiko Fiskal Meski Pemerintah Ambil Alih Utang Kereta Cepat

Bisnis | Sabtu, 12 September 2026 | 20:22 WIB

Tati Purwanti Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei, Tumbuh Bersama Dukungan BRI

Tati Purwanti Kembangkan Bubur Cirebon di Taipei, Tumbuh Bersama Dukungan BRI

Jabar | Sabtu, 12 September 2026 | 20:18 WIB

×