Parahnya, kondisi yang memilukan hati saat Ria sedang proses persalinan anak pertamanya. Dia terpaksa harus melahirkan dengan operasi caesar atau prosedur medis mengeluarkan bayi melalui sayatan pada perut.
Dalam kondisi itu, sang suami tidak ditempat menemani, bahkan sama sekali tidak mengeluarkan uang untuk kebutuhan itu.
"Saya enggak tahu lagi saat itu mau ngomong apa lagi sama dia. Sudah di telepon tapi tidak aktif-aktif ponselnya," paparnya.
Beruntungnya, Ria sudah sempat memiliki kartu BPJS melalui program Kartu Indonesia Sehat (KIS) dari pemerintah. Dengan itu, operasi caesar dilakukan dengan gratis.
"Kalau tidak ada kartu KIS dari BPJS Kesehatan saya tidak sanggup untuk bayar operasi caesarnya. Karena keluarga saya yang mendampingi sempat diminta Rp 30 juta untuk tindakan itu," imbuhnya.
"Kaget mendengar nominal itu, akhirnya saya ingat punya KIS dari pemerintah dan langsung orang tua memberikan itu kepada petugas administrasi," sambungnya.
Situasi tersebut dialami Ria saat melakukan persalinan anak kedua. Proses persalinan dengan operasi caesar kembali dilakukan gratis.
"Anak kedua juga dengan operasi caesar, karena sudah dari awalnya di anak pertama bukan melahirkan normal. Tapi karena adanya KIS bersyukur tidak mengeluarkan uang puluhan juta," tandasnya.
Hingga suaminya telah tiada, Ria menuturkan, untuk berobat kedua anaknya jika sakit menggunakan KIS dari pemerintah.
"Adanya KIS ini bukan hanya saya, anak kalau sakit berobat gratis, baik ke puskesmas maupun rumah sakit," paparnya.
Kondisi tersebut terus dijalani Ridwan. Hingga bulan Oktober 2016, Ridwan mengalami anfal dan harus dilarikan ke rumah sakit.
"Saya masuk rumah sakit dirawat dan dokter bilang sudah tidak ada jalan lain selain operasi. Karena jantung saya semakin parah, akibat saya masih suka merokok," tandasnya.
"Namun, dokter berikan saya pilihan mau operasi pasang ring atau bypass. Akhirnya saya memilih untuk bypass yang operasinya mengambil pembulu darah di tubuh," sambungnya.
Sebelum dilakukan operasi, Ridwan menjalani perawatan lebih dulu di rumah sakit. Hal itu guna memeriksa kondisi kesehatan pada tubuhnya, mulai dari periksa gula darah, kolesterol dan lainnya.
"Sebelum operasi semuanya di cek, gula darah, kolesterol, paru-paru dan lainnya. Karena takutnya saya masih ada penyakit lainnya dan itu memungkinkan tidak bisa dilakukan bypass," ucapnya.
Selama sepuluh hari Ridwan dilakukan pemeriksaan kesehatan. Hingga hari yang terakhir dokter menyatakan tidak ada kendala untuk dilakukan operasi bypass.
"Saya di bius setengah sadar merasakan sentuhan dokter mengambil pembuluh darah. Dan alhamdulillah operasi berjalan lancar," imbuhnya.
Selepas operasi, Ridwan mengakui, masih harus menjalani perawatan di rumah sakit hingga dua minggu lamanya. Hal itu untuk memulihkan kondisi tubuh pasca operasi.
"Operasinya itu tujuh jam berlangsung. Setelah itu masih tetap dirawat sampai dua minggu untuk memulihkan pasca operasi. Totalnya itu satu bulan lebih saya di rumah sakit," tuturnya.
Beruntungnya, mulai dari masuk rumah sakit melakukan operasi hingga masa pemulihan tidak dikenakan biaya. Itu karena Ridwan memiliki kartu BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) dari Pemerintah.
"Bersyukur ada BPJS biaya perawatan, operasi sampai obat-obatan tercover semuanya. Perhitungan saya operasi saja bisa Rp 100 juta-an, belum biaya rawat inap dan obat-obatan," paparnya.
"Meskipun sudah di operasi, saya tetap diminta dokter untuk meminum obat, tapi tidak sesering dulu. Namun obat itu diberikan gratis sampai sekarang," pangkasnya.