alexametrics

Sri Mulyani Sebut Banyak Negara Kesulitan Keluar dari Middle Income Trap

Iwan Supriyatna | Mohammad Fadil Djailani
Sri Mulyani Sebut Banyak Negara Kesulitan Keluar dari Middle Income Trap
Menteri Keuangan Sri Mulyani. [Antara/Nova Wahyudi]

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, setidaknya hampir seluruh negara di dunia ini memiliki kesulitan yang sama dengan Indonesia.

Suara.com - Indonesia buka satu-satunya negara di dunia yang hingga kini kesulitan untuk keluar dari status negara berpenghasilan menengah ke bawah.

Menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, setidaknya hampir seluruh negara di dunia ini memiliki kesulitan yang sama dengan Indonesia.

"Indonesia saat ini adalah middle income country, dan kita semua tahu di dalam pengalaman lebih dari 190 negara di dunia, mayoritas mereka berhenti di middle income. Artinya ada fenomena yang disebut middle income trap," kata Sri Mulyani dalam webinar CSIS Indonesia, Rabu (3/8/2021).

Apalagi faktanya kata Sri Mulyani hanya kurang dari 20 negara saja yang berhasil keluar dari jebakan negara berpenghasilan menengah ke bawah.

Baca Juga: Ekonomi Nasional Mulai Membaik Seiring Melandainya Kasus Covid-19

"Tidak banyak negara di dunia ini, kurang dari 20 yang bisa menembus middle income trap,” ungkap Sri Mulyani.

Dirinya menjelaskan hal utama yang membuat sebuah negara berhenti pada level middle income karena kualitas sumber daya manusia (SDM) yang masih cukup rendah.

Karenanya kata dia, penting sekali untuk menginvestasikan dan terus meningkatkan kualitas SDM, sehingga statusnya bisa naik menjadi high income country atau negara berpendapatan tinggi.

“Kalau kita bicara SDM, semua sepakat kalau ini penting. Namun yang paling penting, tidak banyak negara yang bisa menyelesaikan tantangan SDM. Dalam hal ini, pendidikan dan kesehatan menjadi sangat penting, dan jaminan sosial juga menjadi sangat penting. Itu adalah tiga area (tantangan) yang luar biasa bagi Indonesia," pungkasnya.

Baca Juga: Kritisi Menkeu Soal PPKM, PKS: Kebijakan Berubah-ubah karena Pemerintah Hindari Karantina

Komentar