alexametrics

Kementerian BUMN Bantah Tudingan Hutang Tersembunyi dalam Proyek Kereta Cepat

RR Ukirsari Manggalani | Achmad Fauzi
Kementerian BUMN Bantah Tudingan Hutang Tersembunyi dalam Proyek Kereta Cepat
Kereta api melintas di dekat proyek konstruksi kereta api cepat Jakarta-Bandung di Lembah Teratai, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Minggu (8/8/2021) [ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi].

Ada dua negara yang menaruh minat besar untuk menjadi investor yaitu, China dan Jepang. Nilai pinjaman mencapai 3,96 miliar dolar AS.

Suara.com - Staf Menteri BUMN bidang komunikasi Arya Sinulingga membantah adanya utang tersembunyi untuk pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Menurutnya, pinjaman hutang yang diajukan konsorsium KCIC ke China Development Bank (CBD) sudah tercatat di Bank Indonesia.

"Tidak ada utang tersembunyi yang dilakukan oleh konsorsium di KCIC untuk melakukan pembangunan di kereta cepat," ujar Arya kepada wartawan yang ditulis Minggu (17/10/2021).

Arya menjelaskan, jika memang utang tersebut tersembunyi, maka pinjaman utang itu tak tercatat dalam Pinjaman Komersial Luar Negeri (PKLN). Akan tetapi, utang tersebut sudah tercatat di PKLN diketahui banyak pihak.

Baca Juga: Sempat Terhambat COVID-19, Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung Sudah 79 Persen

"Kan kita tahu bahwa yang namanya tersembunyi nggak tercatat, ini tercatat. Semua itu tercatat, jadi ini sekalian membantah ya, informasi itu. Jadi tidak benar, ini real bahwa tidak ada sama sekali," kata dia.

Arya pun meminta, semua pihak agar tidak memberikan kabar yang simpang siur terkait proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

"Kita semua tahu kabar ini sedang ramai: masalah kereta cepat. Jadi kita harapkan jangan jadi semu dan tendensius ke mana-mana. Bisa bahaya, nanti nggak bagus sementara real-nya nggak seperti itu," imbuh dia.

Sebelumnya, diketahui dalam laporan lembaga riset AidData memperlihatkan perjalanan proyek kereta cepat dari mencari investor hingga mendapatkan pendanaan.

Terdapat dua negara yang berebut untuk menjadi investor yaitu, China dan Jepang. Namun akhirnya pemerintah lebih memilih China, di mana KCIC menerima pinjaman dari CBD sebesar 3,96 miliar dolar Amerika Serikat (AS).

Baca Juga: Faisal Basri Sebut Sampai Kiamat Proyek Kereta Cepat Tak Balik Modal

Komentar