Suara.com - Di era globalisasi, perdagangan internasional sering dilakukan negara-negara di dunia. Perdagangan ini tidak selalu mulus. Hambatan-hambatan perdagangan internasional sering terjadi.
Berikut empat hambatan perdagangan internasional menurut bahan ajar yang ditulis kemdikbud.go.id.
1. Perbedaan nilai mata uang di berbagai negara
Pada umumnya, negara eksportir akan meminta pembayaran kepada negara pengimpor menggunakan mata uang negara pengekspor. Apabila nilai mata uang negara eksportir lebih tinggi dari negara importir, hal ini mengakibatkan negara pengimpor harus menambah pengeluarannya.
Oleh karena itu, untuk melancarkan proses perdagangan internasional perlu adanya penetapan mata uang internasional yang diterima oleh setiap negara.
2. Pemberlakuan kebijakan perdagangan oleh pemerintah
Setiap negara memiliki kebijakan ekonomi yang berbeda-beda. Terkadang kebijakan yang diterapkan tersebut menghambat proses perdagangan internasional.
Contohnya adalah pembatasan jumlah impor atau ekspor. Negara yang membatasi impor akan membuat negara eksportir kehilangan sedikit peluangnya untuk mendapatkan keuntungan. Selain itu, biaya pajak impor atau ekspor yang tinggi, surat perizinan yang berbelit-belit akan menghambat proses perdagangan internasional.
Pembatasan ini baru saja diterapkan pemerintah Indonesia dalam kasus pembatasan ekspor minyak mentah sebagai bahan baku utama minyak goreng. Pembatasan dilakukan lantaran pemerintah harus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan minyak goreng di dalam negeri yang tengah langka dan mahal.
3. Kebijakan lembaga ekonomi internasional/regional yang mementingkan negara anggotanya
Organisasi perdagangan internasional, baik regional maupun internasional ibarat dua mata pisau. Di satu sisi menimbulkan keuntungan, di sisi lain merupakan hambatan.
Negara-negara yang terdaftar sebagai anggota organisasi tersebut akan mendapatkan keuntungan tertentu, sebaliknya, negara-negara yang bukan anggota akan mengalami hambatan. Contohnya adalah, Negara yang bukan anggota akan membayar tariff pajak yang lebih tinggi
4. Konflik dan peperangan
Apabila kondisi keamanan suatu negara tidak stabil, seperti adanya peperangan, kerusuhan, dan lain sebagainya, negara-negara lain akan merasa takut untuk melakukan pedagangan.
Akibatnya, mereka akan beralih ke negara yang lebih aman. Konflik atau peperangan juga bisa membuat beberapa negara memboikot produk dari negara penyebab peperangan. Dengan demikian, ekspor impor dari negara tersebut akan terganggu. Dalam invasi yang dilakukan Rusia terhadap Ukraina diketahui negara-negara Eropa memutus pembelian minyak mentah dari Rusia.
Kumpulan Kuis Menarik
Komentar
Terkait
Peneliti CSIS Sebut Pemekaran Provinsi Akan Meningkatkan Konflik di Papua
News | Rabu, 27 April 2022 | 15:51 WIB
KPPI Selidiki Kasus Lonjakan Impor Kain Hingga Rugikan Tekstil Dalam Negeri
Bisnis | Rabu, 27 April 2022 | 11:32 WIB
Perspektif Kapal di Antara Starboard dan Portside
Your Say | Rabu, 27 April 2022 | 09:04 WIB
Gara-gara Masalah Daging Anjing, Politisi Partai Demokrat Singgung Warga Solo: Kasihan
Surakarta | Selasa, 26 April 2022 | 19:43 WIB
Amerika dan Nato vs Rusia Dalam Perang Ukraina, Lavrov Ingatkan Kembali Tak Remehkan Resiko Perang Nuklir
Jatim | Selasa, 26 April 2022 | 11:05 WIB
Muhammadiyah: Tambang Andesit Desa Wadas Terindikasi Bermasalah Hukum Sejak Perencanaan Hingga Pembebasan
News | Selasa, 26 April 2022 | 09:12 WIB
Terkini
Pertamina dan POSCO International Jajaki Kerja Sama Pengembangan Teknologi Rendah Karbon
Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 21:40 WIB
Update Harga BBM SPBU Shell, BP dan Vivo saat Minyak Dunia Lewati USD 100 per Barel
Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 20:05 WIB
Indonesia-Korsel Teken 10 MoU Senilai Rp 173 Triliun, Kerja Sama AI hingga Energi Bersih
Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 18:38 WIB
IHSG Terus-terusan Anjlok, OJK Salahkan Sentimen Negatif Global
Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 18:05 WIB
Penyebab Rupiah Melemah Tembus Rp17.002 per Dolar AS Hari Ini
Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 17:58 WIB
Profil PT PP Presisi Tbk (PPRE): Anak Usaha BUMN, Siapa Saja Pemegang Sahamnya?
Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 17:44 WIB
RI Masuk 3 Besar Dunia Peminat Aset Kripto Riil, OSL Rilis 'Tabungan' Emas Digital
Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 17:41 WIB
Pasar Semen Domestik Lesu, SMGR Putar Otak Jualan ke Luar Negeri
Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 16:46 WIB
Dilema Selat Hormuz: DEN Minta Warga Tenang, Stok BBM Nasional Masih Terjaga
Bisnis | Kamis, 02 April 2026 | 16:39 WIB